About these ads

The Wolf of Wall Street: Sebuah Reader Response

The Wolf of Wall Street merupakan sebuah film yang berdasarkan buku biografi seorang pialang saham yang bernama Jordan Belfort. Saya baru minggu lalu menonton film tersebut.

Menurut saya film ini sangat bagus baik itu jalan ceritanya dan para aktor dan aktris yang berperan dalam film tersebut. Khususnya sang pemeran utama, Leonardo Di Caprio.

Meskipun saya belum membaca buku biografi Jordan Belfort ini yang berjudul sama dengan film, The Wolf of Wall Street, saya merasa seakan melihat bagaimana kehidupan si pialang saham dengan sebenarnya.

Tapi sehubungan saya lagi bernostalgia dengan kuliah saya di Universitas Negeri Padang Jurusan Bahasa Sastra dan Seni, saya akan mencoba melakukan sebuah analisa awal yang dikenal dengan reader response.

Leonardo Di Caprio pemeran jordan belfort dalam film the wolf of wallstreet
sumber: internet

Penggunaan istilah reader response mungkin kurang tepat karena saya bukan membaca, tapi menonton. Untuk memudahkan saya dalam mengenang kembali masa-masa kuliah istilah ini saya pakai.

Reader response (wikipedia) adalah sebuah teori pendekatan sastra masa awal dimana fokusnya adalah pada pengalaman yang diterima oleh pembaca ketika ia menikmati sebuah karya sastra. Dalam konteks pembahasan film The Wolf of Wallstreet ini reader response adalah bagaimana saya mendapatkan pengalaman setelah menonton film tersebut.

Film The Wolf of Wallstreet diawali tentang seorang pemuda Amerika yang bernama Jordan Belfort yang mempunyai keinginan kuat untuk menjadi jutawan. Untuk mencapai tujuannya tersebut Jordan merantau ke Wallstreet di New York City.

Wall Street di pilih oleh Jordan karena daerah itu merupakan pusat perekonomian Amerika Serikat dan bahkan dunia. Wall Street identik dengan dengan pialang saham yaitu orang yang berprofesi untuk menawarkan saham dari perusahaan-perusahaan besar yang telah terdaftar di New York Stock Exchange.

Profesi inilah yang dijalani oleh Jordan. Sebagai broker saham. Tugasnya adalah menawarkan dan menjual saham kepada orang-orang Amerika dengan iming-iming akan memperoleh imbal hasil besar.

Sasaran pemuda yang bernama Jordan Belfort, dimainkan Leonardo Di Caprio, adalah keluarga menengah kebawah yang mempunyai uang untuk diinvestasikan di pasar modal. Dalam film ini kehidupan pialang saham dan juga trik-trik kotornya untuk menjebak orang mencuri uang orang-orang yang tidak punya pengetahuan tentang saham.

Seseorang yang menanam uang di pasar saham melalui broker harus berhati-hati karena bisa jadi uang yang ia harapkan untuk dikelola tidak akan pernah ia nikmati. Orang yang menanam saham dalam pasar modal melalui broker hanya kaya diatas kertas tapi tidak pernah memegang uang tersebut. Sedangkan broker saham akan mendapat keuntungan dari komisi transaksi penjualan atau pembelian.

Korban broker saham tidak hanya orang menengah keatas atau orang kaya di Amerika saja, namun juga orang menengah kebawah. Saham yang ditawarkan oleh broker saham bukanlah saham perusahaan yang dikenal dengan sebutan saham bluechip tapi saham perusahaan kecil yang kegiatan usahanya entah ada entah tidak. Bahkan dalam film The Wolf of Wall Street broker saham lebih mendapat pendapatan yang besar dibandingkan dengan menjual saham bluechip.

Jordan Belfort si broker saham berhasil mendapatkan penghasilan ribuan dolar dari “menipu” orang-orang kelas menengah ke bawah Amerika. Dan perlahan ia berhasil membuat perusahaannya sendiri dan menjadi seorang jutawan Amerika yang diakui. Buktinya adalah majalah ternama Forbes menjadikan ia seorang tokoh fenomenal dalam industri keuangan Amerika khususnya dalam bidang penanaman modal. Dengan kekayaannya ia bisa mendapatkan apa saja yang sebelumnya ia impikan. Berkendara dengan mobil sport yang mewah, tinggal di apartemen yang prestisius dan mempunyai karyawan yang mempunyai kerakusan yang sama dengannya.

Sayang di klimaks cerita Jordan harus kita saksikan menjadi seorang pecandu obat-obatan terlarang, terlibat transaksi ilegal dan harus berurusan dengan hukum di Amerika, keluarganya berantakan (Jordan bercerai dua kali), teman yang ia percayai mengkhianatinya, dan juga ia kehilangan uang yang telah ia dapatkan dengan segala cara.

Namun sayang film ini banyak menampilkan adegan yang tidak cocok untuk penonton remaja. Bahasa yang digunakan dalam film ini pun terlalu vulgar bahkan cenderung kasar.

Keterlibatan Jordan dengan berbagai hal negatif tentunya tidak harus kita tiru. Mungkin itu adalah sebuah pelajaran pahit bagi Jordan yang dalam mencapai keinginannya untuk menjadi seorang jutawan ia mendapatkan hasil dari apa yang ia kerjakan. Uangnya tidak lagi dapat membeli ketenangan jiwa sehingga ia harus menjadi seseorang yang tergantung pada minuman beralkohol dan juga obat-obatan.

Belajar dari film tersebut saya kemudian ingat sebuah sabda nabi dalam hadist Arbain yang disampaikan oleh Umar Al Faruq bahwa nabi bersabda setiap perbuatan berawal dari niat dan setiap orang akan mendapat ganjaran sesuai dengan niatnya. Jordan berniat menjadi jutawan Amerika dan ia berhasil menjadi jutawan Amerika namun sayang niatnya tidak membuatnya melalui proses sebagaimana mestinya yang justru menyebabkan kehancurannya sendiri. Tentunya ini menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa kita tidak hanya menjalankan rutinitas sehari-hari namun kita harus menetapkan tujuan yang akan kita capai.

About these ads

Leave a Reply

%d bloggers like this: