warnet dan UU ITE

Dengan disahkannya UU ITE oleh DPR beberapa bulan yang lalu, masyarakat berharap bahwa kegiatan pornografi yang ada di Indonesia dapat secara bertahap turun lalu hilang sama sekali. Hal ini patut untuk didukung oleh semua pihak. Betapa tidak banyak diantara para pelaku, atau mungkin korban, kegiatan pornografi ini adalah remaja yang masih berusia sekolah. Setidaknya hal ini menandakan bahwa moralitas bangsa ini semakin jauh turun dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Mungkin ada yang sampai berpikir bahwa teknologi digital seperti hp kamera atau camera digital menjadi sebuah barang setan yang harus dimusnahkan dari muka bumi.
Seperti biasa kebijakan pemerintah dan keinginan rakyat pun tidak sama. UU ITE seperti UU yang lain menuai berbagai kontroversi atas penafsiran dan ketakutan akan implementasiannya. Kebanyakan yang takut atau yang menolak UU ITE adalah mereka yang terlalu maniak dengan urusan selangkangan. Bagaimana dengan para pengusaha warnet atau operator warnet?
Masyarakat kita belum terlalu mengenal dengan dunia internet ini. Hanya segelintir dari mereka yang mempunyai kesempatan untuk mendapatkan akses internet dan mempelajari hal-hal yang berhubungan dengannya. Kondisi ini dapat dilihat di daerah-daerah yang masih mempunyai tempat pendidikan yang kurang memadai.
Sekali diperkenalkan pada internet, kebanyakan masyarakat di daerah lebih memilih untuk hiburan dari pada informasi dan kesempatan-kesempatan yang ada di dalam internet tersebut. Sebagai seorang operator warnet di daerah saya sering memperhatikan kebutuhan internet pada masyarakat disini adalah hiburan. Mereka tidak memperdulikan ada tidaknya UU ITE yang mengatur kebebasan mereka untuk mendapatkan hiburan selangkangan yang menjadi favorit mereka.
Seks merupakan sebuah insting manusia yang paling dasar untuk mempertahankan jenisnya. Setidaknya itu adalah definisi seks menurutku. Ketika insting ini menjadi sebuah produk komersial yang didapat selain kekayaan (karena seks termasuk basic instinct) dampak lain yang kita lihat adalah menurunnya tingkat kesehatan (HIV-AIDS) dan moralitas (Nude Narcism). Saya pernah mendengar dari seorang teman, di daerah sumatera barat ini pernah diadakan razia terhadap warnet yang hasilnya seorang operator warnet ditangkap karena (entah si ope sendiri atau) usernya, yang juga entah bapak-bapak atau pelajar, mengakses situs porno. Saya berasumsi dulu bahwa si user yang mengakses.
Bisnis warnet adalah bisnis yang memberikan ruang privasi dan kebebasan kepada para pengguna jasanya. Setidaknya hal ini saya tangkap dari kebanyakan warnet yang memberikan batasan pada setiap komputer yang disewakannya. Privasi dan kenyamanan adalah kunci sebuah warnet untuk tetap berjalan disamping dengan kecepatan akses internet yang diberikan. Nah ketika si user yang maniak dengan hal-hal yang berhubungan dengan hubungan badan mengakses situs-situs tersebut di dunia maya dan seketika razia datang dari aparat pemerintahan siapakah yang harus ditangkap??
Dalam hukum, setidaknya sepanjang yang saya tahu, orang yang bersalah karena melanggar hukum adalah orang yang ditangkap. Dalam kasus diatas ketika seorang user menggunakan haknya untuk kebebasan mencari hiburan yang ia mau (dengan asumsi user yang akses situs porno) kenapa harus seorang operator warnet yang di tangkap?? Tentu saja jika cerita teman saya itu benar maka aparat hukum sudah kelewatan.

Advertisements

Tinggalkan Balasan