Wanita Yang Merdeka Dengan Berniqab

Saya menemukan sebuah kisah yang menginspirasi bagi kita semua. Kisah
yang mengagumkan dari seorang mualaf. Kisah tentang kehidupan seorang
perempuan yang mendapatkan kedamaian dan kebebasan dalam Islam. Semoga
bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.
Mengapa Aku Tanggalkan Bikini untuk Niqab?
Thursday, 30 July 2009 17:59
Sara Bokker, dahulu seorang aktris perempuan dan seorang model.Ia
melepaskan bikini dan menggunakan cadar. Dengan cadar ia mengaku lebih
bebas

Hidayatullah.com–Sebagai perempuan Amerika yang lahir di
'Jantung'-nya Amerika, aku tumbuh dewasa seperti gadis-gadis lainnya
dan terbiasa dengan kehidupan glamour kota besar. Kemudian aku pindah
ke Florida, di Pantai Selatan Miami, di sebuah tempat populer bagi
pencari kehidupan glamour. Tentu saja, saat itu aku juga melakukan apa
yang dilakukan oleh umumnya gadis-gadis Barat. Aku hanya memperhatikan
penampilan fisik dan daya tarikku, mengukur nilai reputasiku dari
banyaknya perhatian orang lain padaku. Aku berolahraga teratur hingga
menjadi pelatih pribadi di sebuah perumahan mewah pinggir laut dan
menjadi pengunjung setia pantai yang 'suka pamer tubuh' serta sukses
mencapai taraf kehidupan yang 'penuh gaya dan berkelas'.

Tahun-tahun berlalu, kupahami bahwa ukuran nilai kepuasan diri dan
kebahagiaanku bergeser pada semakin tingginya aku menggunakan daya
tarik kewanitaanku. Saat itu, aku sungguh menjadi budak mode. Aku
sungguh menjadi sandera dari penampilanku sendiri.

Oleh karena celah kosong antara kepuasan diri dan gaya hidup makin
melebar, maka aku mencari perlindungan diri dari tindakan pelarian ke
alkohol dan pesta-pesta, dengan cara mengikuti meditasi, menjadi
aktivis, dan belajar kepercayaan-kepercayaan alternatif, dengan tujuan
agar celah kosong itu terkoreksi dan terlihat lebih landai. Namun,
akhirnya aku sadar bahwa semua itu hanya seperti obat pemati-rasa
saja, yang sakitnya bisa terasa kembali, daripada sebuah pengobatan
yang benar-benar efektif.

Kemudian terjadi peristiwa 11 September 2001. Sebagai saksi atas
terjadinya serangan berkelanjutan pada Islam, pada nilai-nilai dan
budaya Islam, dan adanya deklarasi yang berkonotasi negatif mengenai
"Aktivis Salib Baru", aku tergugah untuk mulai memperhatikan Islam.
Hingga saat itu aku mengasosiasikan semua yang berbau Islam dengan
perempuan-perempuan yang berbaju seperti 'kemah', tukang pukul isteri,
harem, dan dunia teroris.

Sebagai aktivis pembebasan perempuan dan sebagai orang yang
mengupayakan dunia yang lebih baik untuk semua, jalanku bersilangan
dengan jalan aktivis lainnya yang telah memimpin tindakan reformasi
dan keadilan untuk semua tanpa pandang bulu. Aku bergabung dalam
kampanye pembimbing baruku yang saat itu masih berlangsung, salah
satunya adalah reformasi pemilihan umum dan hak-hak sipil. Sekarang
ini, kegiatan aktivisku sudah sangat berbeda. Daripada mendukung
keadilan untuk sebagian orang secara 'selektif', aku belajar bahwa
yang ideal seperti keadilan, kebebasan dan penghargaan benar-benar
berarti dan intinya bersifat universal, lalu antara masing-masing
kebaikannya dan dasar kebaikan ketiganya harus sejalan dan tidak
konflik. Untuk pertama kalinya, aku mengetahui sesungguhnya arti
"semua orang diciptakan sederajat". Tetapi yang sangat penting, aku
belajar bahwa hanya perlu keyakinan untuk melihat dunia yang satu dan
untuk melihat penyatuan dalam penciptaan.

Suatu hari aku melewati sebuah buku yang dikonotasikan negatif di
Barat – Al-Quran Yang Suci. Tadinya aku tertarik pada gaya dan
pendekatan Al-Quran dan kemudian minatku terbangkitkan lebih dalam
pada pandangannya tentang keberadaan makhluk, kehidupan, penciptaan
dan hubungan antara Pencipta dan penciptaan itu sendiri. Aku rasa
Qur'an dapat menjadi sumber pembuka wawasan dan pengetahuan untuk hati
dan jiwa tanpa perlu penerjemah atau pastor.

Akhirnya aku sampai pada momen penting yang mengubah kehidupanku
selanjutnya: Pemahaman aktivis yang baru kurasakan untuk kepuasan diri
baru-baru ini, ternyata tidak berarti apapun dibandingkan dengan
memeluk sebuah keyakinan yang disebut Islam, yang memungkinkan aku
hidup damai sebagai Muslim yang bisa bermanfaat.

Aku membeli sebuah gaun panjang yang cantik dan penutup kepala, mirip
gaya busana Muslimah dan dengannya aku berjalan di jalan dan
lingkungan tetangga yang sama, yang beberapa hari sebelumnya aku masih
mengenakan celana pendek, bikini atau gaya busana Barat yang berkelas.
Walaupun masyarakat, wajah dan toko semuanya tetap sama, ada satu hal
yang sangat berbeda, karena untuk pertama kalinya -aku bukan lagi-,
rasa damai itu juga bukan yang sama sepanjang hidupku sebagai
perempuan. Aku merasa seolah-olah semua rantai telah putus dan
akhirnya aku bebas sebenar-benarnya. Sangat menyenangkan melihat wajah
heran dari orang-orang lain dibandingkan dengan melihat wajah pemangsa
yang siap menerkam korbannya, yang sering kutemui dulu. Tiba-tiba saja
beban itu terangkat dari bahuku. Aku tidak lagi menghabiskan waktuku
untuk berbelanja, membeli kosmetik, ke salon dan melatih fisik untuk
penampilanku. Akhirnya aku bebas.

Dari semua tempat itu, aku menemukan Islamku tepat di pusat dari
tempat yang sering disebut sebagian orang sebagai 'tempat tersering
terjadinya skandal di bumi', bagaimanapun membuat semua itu
menjadikannya penuh cinta dan spesial.

Walaupun bahagia dengan Hijab, aku menjadi ingin tahu mengenai Niqab
(cadar), karena melihat peningkatan angka Muslimah yang mengenakannya.
Aku bertanya kepada suamiku yang juga Muslim, yang menikah denganku
setelah aku menjadi Muslimah, apakah aku diperbolehkan mengenakan
Niqab atau cukup dengan hijab-ku yang sekarang telah kukenakan. Dengan
santainya suamiku menanggapi bahwa ia percaya bahwa Hijab adalah
sebuah kewajiban namun tidak demikian dengan Niqab. Saat itu, Hijabku
terdiri dari penutup kepala yang menutupi semua rambutku kecuali wajah
dan gaun hitam panjang yang longgar, biasa disebut dengan Abaya yang
menutupi tubuh dari leher hingga kaki.

Satu setengah tahun berlalu, aku mengatakan kepada suamiku bahwa aku
ingin mengenakan Niqab. Alasanku kali ini, bahwa aku merasa akan lebih
menyenangkan Allah, Yang Maha Pencipta, dan akan meningkatkan rasa
damai dalam diri bila berpakaian lebih tertutup. Ia mendukung
keputusanku dan mengantarku membeli 'Isdaal', sebuah gaun hitam
longgar yang menutup dari kepala hingga kaki dan 'Niqab' yang menutup
seluruh kepalaku termasuk wajah kecuali mata.

Tak lama, media mulai memberitakan tentang para politikus, pemuka
Vatikan, pendukung kebebasan, aktivis HAM palsu yang berkali-kali
mengkritik pedas tentang Hijab, apalagi Niqab, yang bagi orang lain
tampak sebagai bentuk yang sangat kejam terhadap kaum perempuan, juga
dianggap gangguan dalam bersosialisasi dan baru-baru ini seorang
pegawai Mesir mengatakan bahwa hal itu 'sebagai tanda-tanda
kemunduran'

Lalu aku menilai sebuah kemunafikan parah saat beberapa pemerintahan
Barat dan juga kelompok pembela HAM palsu yang tergesa-gesa mencoba
membela hak-hak perempuan ketika pemerintahan beberapa Negara lainnya
memaksakan penggunaan kode berbusana tertentu untuk perempuan.
Sekalipun begitu 'Pejuang Kebebasan' melihat sisi lainnya ketika kaum
perempuan kehilangan hak-haknya, tidak dapat bekerja, belajar, hanya
karena memilih untuk menggunakan haknya untuk mengenakan Niqab atau
Hijab. Sekarang ini, terjadi peningkatan pembatasan kaum perempuan
yang mengenakan Hijab atau Niqab dari kesempatan bekerja dan
pendidikan, bukan hanya di bawah rejim yang totaliter seperti di
Tunisia, Maroko dan Mesir, melainkan juga di Negara-negara demokrasi
seperti Perancis, Belanda dan Inggris.

Saat ini, aku masih tetap menjadi aktivis perempuan, tepatnya aktivis
perempuan Muslim, yang memanggil para Muslimah untuk mengambil
tanggung jawab mereka memberi dukungan semampunya kepada suami agar
menjadi Muslim yang baik. Untuk membesarkan anak-anak mereka agar
menjadi Muslim yang jujur dan bertanggungjawab, sehingga mungkin nanti
bisa menjadi cahaya untuk kemanusiaan. Untuk memerintahkan kebaikan
–kebaikan apapun- dan untuk mengharamkan kejahatan –kejahatan apapun-.
Untuk berbicara tentang kebenaran dan kebajikan serta melawan semua
keburukan-keburukan. Untuk memperjuangkan hak-hak kita mengenakan
Niqab atau Hijab untuk menyenangkan Yang Maha Pencipta, apapun yang
kita pilih. Dan juga penting, untuk membagi pengalaman mengenakan
Niqab atau Hijab kepada teman perempuan yang mungkin belum pernah
berkesempatan untuk mengerti apa arti sesungguhnya mengenakan Niqab
atau Hijab bagi kita dan alasan-alasan kita sehingga, dengan penuh
cinta, kita memeluknya.

Sebagian besar perempuan yang kuketahui mengenaikan Niqab adalah
Muallaf Barat, sebagian dari mereka bahkan belum menikah. Yang lain
mengenakan Niqab tanpa dukungan penuh dari keluarga maupun lingkungan
dekatnya. Apa yang umumnya kita miliki adalah, bahwa semua itu adalah
pilihan pribadi setiap orang atau masing-masing dari kita, yang tidak
satupun dari kita menginginkan untuk menyerah.

Mau atau tidak mau, kaum perempuan dibombardir dengan gaya "berbusana
minim hingga tanpa busana" secara virtual dalam setiap bentuk
komunikasi dimanapun di dunia ini. Sebagai seorang bekas Non-Muslim,
aku tetap menuntut hak-hak perempuan untuk sama-sama mengetahui
mengenai Hijab, kebaikan-kebaikannya, dan kedamaian serta kebahagiaan
yang dibawanya ke dalam kehidupan perempuan, seperti yang telah
terjadi padaku.

Kemarin, bikini merupakan lambang kebebasanku, yang sesungguhnya
membebaskanku dari kepercayaan-kepercayaanku dan sebagai manusia
biasa.

Aku tidak dapat lebih gembira lagi karena telah menanggalkan bikiniku
di Pantai Selatan dan gaya hidup Barat yang gemerlapan itu, untuk
hidup damai dengan Penciptaku dan menikmati hidup di antara
teman-teman sesama manusia sebagai pribadi yang layak menerimanya. Hal
itu adalah alasanku untuk memilih mengenakan Niqab dan bersedia mati
membela hakku yang tak mungkin bisa dicabut untuk mengenakannya.

Hari ini, Niqab adalah simbol baru pembebasan perempuan untuk
menemukan siapa dirinya, apa tujuannya dan bagaimana bentuk hubungan
yang dipilihnya agar bisa bersama Penciptanya.

Kepada perempuan yang menyerah terhadap anggapan buruk mengenai
ketertutupan Hijab yang islami, aku bisa berkata: Engkau tidak
mengetahui apa yang terlewatkan olehmu.

Kepadamu, penguasa peradaban yang korup dan tidak beruntung, juga para
aktivis palsu, aku bisa berkata: Bawalah terus…

[Ditulis oleh Sara Bokker, dahulu seorang aktris/model/pelatih fitness
dan seorang aktivis. Saat ini Sara Bokker adalah Direktur Komunikasi
di "The March for Justice", salah seorang pendiri 'Global Sisters
Network" dan Produser "Shock and Awe Gallery. Tulisan ini diambil dari
situs www.marchforjustice.com. Cerita ini juga pernah dimuat di
www.saudigazette.com.sa. Sara bisa dihubungi di
srae@marchforjustice.com

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *