Visi MRT Ibukota dan Penyempurnaannya

transjakarta terbakar


Mass Rapid Transport atau Angkutan Massal Cepat merupakan impian dari masyarakat kota Jakarta yang diembankan kepada Jokowi dan Ahok. Sekarang setelah Joko Widodo menjadi presiden Republik Indonesia, Ahok (kalau saya baca dari Undang-Undang Kepala Daerah seharusnya otomatis menjadi Gubernur) harus menyelesaikan pekerjaan rumah yang ditinggalkan Jokowi. 
Pekerjaan MRT untuk kereta bawah tanah saat ini sedang dikerjakan dan entah kapan akan selesai. Transjakarta yang menjadi bagian dari proyek MRT mempunyai beberapa masalah. Pertama tentu saja masalah penyelewengan, karena ditemukannya bus-bus yang berkarat. Padahal bus-bus tersebut seharusnya bebas karat karena baru dibeli. Hal ini membuat Kepala Dinas Perhubungan Jakarta menjadi pesakitan lantaran proyek pengadaan bus transjakarta terindikasi korupsi. Jokowi, Presiden baru, pun disebut-sebut kecipratan dana korupsinya karena pemenang tender pengadaan bus transjakarta adalah Tim Suksesnya ketika berlomba dalam kepala daerah Ibukota Indonesia. Permasalahan kedua adalah keamanan dan kenyamanan penumpang bus Transjakarta. Beberapa kali media-media di ibukota mengabarkan bus-bus transjakarta terbakar atau mogok di jalanan. Belum lagi populasi manusia yang memakai fasilitas ini yang sangat banyak sehingga kenyamanan dalam berkendara tidak di dapat.
Dengan tingkat kemacetan yang sudah begitu memprihatinkan proyek MRT seharusnya dapat disempurnakan lagi oleh Ahok sebagai Wakil Gubernur. Pejabat yang bersangkutan harus berhati-hati dalam mengambil kebijakan dan juga mempelajari kesalahan-kesalahan yang dapat membuat proyek MRT ini gagal ditengah jalan. Saya pribadi berharap agar proyek ini tetap jalan walaupun nantinya Ahok ternyata tidak dapat menyelesaikan proyek MRT hingga akhir jabatannya. Tujuannya jelas yaitu mengurangi para pemakai kendaraan pribadi yang kemudian berakibat berkurangnya populasi kendaraan di Ibukota sehingga kemacetan dapat dikurangi (atau bahkan hilang sama sekali). Saya punya kekhawatiran nasib proyek MRT seperti jalan tol beberapa waktu yang lalu dimana tiang pancang telah didirikan tetapi proyeknya dihentikan sama sekali. 
Proyek MRT pastinya akan menghabiskan dana APBN dan APBD yang sangat besar. Akan tetapi jika berhasil maka kualitas kehidupan di Jakarta (khususnya masalah kemacetan) akan lebih baik. Saat ini mungkin MRT bukan Mass Rapid Transport tetapi Macet Rapit Transport (mengutip pernyataan seorang rekan di kantor yang menggunakan Transjakarta dan kereta untuk rutinitas kerjanya). Pasalnya Transjakarta dan Commuter Line untuk para pekerja dengan rumah di daerah penyangga Jakarta belum menciptakan rasa nyaman dalam berpergian. Berkali-kali saya mendengar kalau kereta commuter sering trouble (mogok, berasap, jadwal yang ngaret dan lain-lain) ditambah dengan transjakarta yang juga setali tiga uang (mogok, berasap, kelebihan penumpang, penumpukan penumpang di shelter dll). 
Jika permasalahan-permasalahan tersebut bisa diatasi dengan baik dan efisien tentunya masyarakat akan lebih mengapresiasi kinerja pemerintahan Jakarta siapa pun pemimpinnya.
Advertisements

Tinggalkan Balasan