About these ads

Fenomena UAN (Ujian Akhir Nasional)

Ujian akhir nasional atau UAN merupakan sebuah kebijakan pemerintah untuk menentukan standar mutu pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam perjalanannya pemerintah sering mengevaluasi standar nilai kelulusan seorang pelajar dari 3.01 (tahun 2002/2003) menjadi 4.25 (tahun 2003/2004).

Yang memberi penilaian kepada pelajar itu adalah guru di sekolah. Penilaian uan pun tidak berbeda. Pemerintah melalui guru yang mengajar di sekolah-sekolah memberikan nilai terhadap terhadap prestasi belajar siswa baik berupa tes formatif maupun tes sumatif. Kedua tes tersebut kemudian digabung untuk menentukan nilai akhir yang menentukan kelulusan siswa terhadap mata pelajaran yang diikutinya selama ini. Hanya saja dalam ujian akhir nasional ada tiga sampai empat mata pelajaran yang diujikan, hal ini sangat berbanding terbalik dengan banyaknya mata pelajaran yang diikuti siswa saat masa sekolah.

Uraian diatas merupakan salah satu dari ribuan protes yang disuarakan oleh praktisi pendidikan di Indonesia. Saya mendapatkannya dari salah seorang mahasiswa S-3 asal papua yang diterbitkan di blog https://pealtwo.wordpress.com/efektivitas-ujian-nasional-un/.

Mitos UAN (Ujian Akhir Nasional); Lulus 100%

Kita semua tahu bahwa semua sekolah apalagi orang tua, pendidik, maupun pemerintah daerah menginginkan penilaian baik dari pemerintah dengan cara semua peserta didik (pelajar) dapat lulus pada saat pengadaan uan. Bahkan untuk mencapai tujuan tersebut tidak jarang ada hal-hal yang tidak mendidik yang diajari kepada pelajar agar sekolah mendapatkan prestasi lulus 100%.

Tidak sedikit sekolah yang berkolaborasi dengan pemerintahan daerah membuat strategi yang “jitu” untuk mengadakan kecurangan agar pada ujian akhir nasional nanti para siswa di sekolah-sekolah dapat lulus semua. Contekan terkoordinir adalah salah satu cara yang dilakukan pihak sekolah agar siswa dapat lulus dalam mata pelajaran yang diujikan di uan.

Baca: http://m.news.viva.co.id/news/read/224297-kesepakatan-saling-contek-saat-uan

Padahal semua tahu kemampuan masing-masing siswa berbeda dan persebaran fasilitas pendukung kegiatan belajar mengajar pun berbeda antar satu sekolah dengan sekolah lainnya bahkan antar satu daerah dengan daerah lainnya. Coba cek saja fasilitas penunjang kegiatan belajar mengajar antara sekolah di Jakarta dengan sekolah yang berada di Sumatera Barat atau yang lebih ekstrim fasilitas belajar-mengajar sekolah di Jakarta dengan sekolah di Papua Barat.

Dengan perbedaan yang sangat mencolok tersebut standar lulus seorang siswa di ujian akhir nasional tak sepatutnya sama antara satu dengan yang lainnya. Jangan hanya karena mengejar prestasi lulus 100% mental siswa dirusak dengan cara-cara yang tak elok dan tak patut seperti contek terkoordinir tersebut.

Diasingkan karena menolak kecurangan di Ujian Akhir Nasional

Prestasi instant yang digunakan dengan cara-cara yang menodai sebuah lembaga pendidikan seperti diatas secara tidak sadar membuat masyarakat memaklumi. Hanya orang-orang yang masih membuka nurani yang menolak bentuk pendidikan yang tidak baik ini dan hasilnya tidak seperti film-film di bioskop maupun di televisi. Hal ini terjadi pada keluarga Ny Siami dari Surabaya.

Tak terima anaknya diajari untuk mencontek, Ny Siami melaporkan oknum guru dan kepala sekolah ke dinas pendidikan yang berakibat dimutasi dan pangkatnya diterima. Tindakan Ny Siami ini ternyata tidak disukai oleh warga sekitar dan memberikan hukuman sosial terhadap keluarganya. Akibatnya Ny Siami dan keluarga pindah ke daerah lain untuk kebaikan keluarganya.

Baca: https://rinaldimunir.wordpress.com/2011/06/13/jujur-itu-mahal-kasus-ny-siami-dan-sdn-gadel-surabaya/

 Kesimpulan

Uan (Ujian Akhir Nasional) adalah cara pemerintah untuk melihat mutu pendidikan yang berjalan di republik Indonesia ini. Tujuannya pasti baik yaitu agar negera ini dapat sejajar dengan negara-negara lain yang telah “maju”. Tapi fenomena-fenomena yang membawa iklim buruk bagi pendidikan yang terdapat saat ujian akhir nasional harus dihilangkan. Agar tidak ada lagi kasus-kasus “agar bapak senang” yang membuat tujuan penting pendidikan tersebut hilang dan membekas pada generasi-generasi penerus bangsa Indonesia ini.

About these ads

Leave a Reply

%d bloggers like this: