Tuhan

Pagi-pagi online liat status orang, buat status sendiri ternyata membuat males dan cepat bosan namun ketika seorang teman membuat sebuah tulisan yang ciamik dan memancing puluhan komentar, tulisan tersebut pastinya menarik dan amat bagus untuk dinikmati. Saya telah meminta izin dari beliau untuk mempublish tulisan tersebut di blog ini. Jawabannya sih belum datang, mudah-mudahan ia mengijinkan.
so, let’s start rading
============
Kemarin sore, Garin Nugroho launching bukunya yang terbaru. Buku itu berjudul “SBY Superhero” dengan embel-embel emiktur politik di bawah judulnya. Emiktur diartikan sebagai esai, komik dan karikatur. Anagram yang jenius layaknya Soekarno yang selalu mencipta berbagai anagram dalam setiap tingkah laku politiknya, mungkin begitu tujuan si penulis. Yang jelas tujuan buku ini sudah tampak sejak desain cover-nya terlirik. Olok-olok politik khas Garin. SBY memakai kostum ala Superman. Di dadanya bukan berlambang S tapi lambang Partai Demokrat. Superman yang ‘kegemukan’ itu ditampilkan sedang terbang menjangkau langit. Yang menarik adalah latar belakang ‘kuning’ yang mengingatkan pada satu partai nan kalah telak di Pilpres kemarin plus karikatur Garin sendiri yang berusaha ‘terbang’ dengan tiga balon; kuning, merah, biru. Entah apa representasi warna itu.

Tapi, sebenarnya yang bikin aku tertarik itu bukan buku ini. Buku berwarna putih yang juga ditulis oleh Garin Nugroho yang tertumpuk di sebelah buku tadi itu lebih memunculkan minatku. Buku itu berjudul ‘Who is God? Mencari Tuhan Lewat Google’. Lalu kenapa buku ini bisa sangat menarik hatiku?

Dua hari sebelum hari ini, aku dan Bob berbicara tentang Tuhan. Bob adalah kenalan baruku. Kita berbicang berjam-jam tentang Tuhan di facebook. Bob tak percaya Tuhan itu ada. Ketidakpercayaannya itu yang membuatku tertarik. Bahkan pembicaraan kita tentang Tuhan bagiku sangat menarik. Kira-kira begini ceritanya;

Beberapa tahun yang lalu, aku pernah mengajak teman-teman di Padang untuk ikutan Eagle Award. Ini merupakan ajang film dokumenter yang digerakkan Metro TV untuk menarik minat filmmaker baru di tanah air, terutama untuk menyenangi pembuatan film dokumenter. Aku menyukai film dokumenter. Garinlah orang pertama yang ‘mengajarkanku’ bagaimana caranya membuat film dokumenter. Masih teringat bagaimana dulu ia berusaha meyakinkan sekitar 50 anggota workshop kelebihan dari film dokumenter dengan film fiksi (layar lebar) dan sinetron. Baginya, layar lebar dan sinetron mampu mencipta kekayaan pada si filmmaker. Namun kekayaan itu terasa tanpa kedalaman, mungkin ini ditujukan untuk sinetron Indonesia yang semakin tak menentu dan tak bermutu. Keunggulan dokumenter bagi Garin adalah, selain memberikan pengetahuan akan sesuatu yang sifatnya non-fiksi, ia membawa kekayaan akan kebermaknaan kehidupan itu sendiri. Aku sempat bingung akan ini dulu. Namun, seiring waktu dan proses aku akhirnya paham maksudnya. Sejak hari itu hingga hari ini sepertinya aku tak mau lepas dari genre ini. Selalu ada ‘kesenangan’ personal setelah film selesai.

Waktu itu, cerita ini juga kuceritakan pada Bob, aku riset tentang satu tema yang kupilih. Aku sudah lupa apa judul proposal film yang kutulis bahkan aku juga lupa siapa nama objek risetku. Kalau tidak salah Anto, atau mungkin Anton, atau bisa jadi bukan dua-duanya. Jadi, kita sepakat saja itu Anto namanya. Proposal film ini tak lolos seleksi, tapi tak apalah. Kalah menang bukan masalah.

Anto adalah seorang anak band metal. Jika tak salah alirannya brutal death atau death metal. Aku tak terlalu paham sebenarnya, namun yang jelas ketika Anto bernyanyi aku tak tahu artikulasi yang terlontar dari mulutnya. Suaranya seperti gumaman tak jelas. Aku tak mampu menangkap pesan apa sebenarnya yang disampaikan dari lagu. Yang bisa aku nikmati hanya musiknya.

Anto seluruh tubuhnya dilapisi tato. Setidaknya yang terlihat olehku kedua tangannya penuh dengan berbagai corak tato beraneka warna. Dominasi tengkorak sepertinya mencerminkan semacam obsesi pada kematian. Di kakinya juga ada beberapa tato, namun aku sudah lupa apa motifnya. Yang belum aku lihat apakah ada tato di punggung atau di dadanya. Tato sepertinya diartikan tak hanya sebagai seni rajah tubuh belaka namun juga sebagai bentuk aktualisasi diri dan kelompok. Orang bertato akhirnya mencipta distinction untuk mereka sendiri, ini pemahamanku dulu.

Tato, menurut Adi Rosa, adalah salah satu bentuk seni rupa tertua. Bahkan baginya ini adalah konsep komunikasi terpurba yang pernah ada. Sebagai salah seorang dosen seni rupa di Padang, ia telah lama meneliti bagaimana penduduk asli Mentawai memakai tato sebagai bagian dari bahasa mereka. Tato juga merupakan bagian dari inisiasi kedewasaan di sana. Bahkan, ia berani mengatakan bahwa peradaban Mentawai jauh lebih tua dari Mesir. Ini terbukti dari bagaimana pola migrasi terhadap corak tato di berbagai belahan dunia lain. Tato Mentawai memberikan pengaruhnya tak hanya di nusantara, tapi juga ke Thailand, India, Amerika bahkan Mesir sendiri.

Tato zaman dulu adalah identitas. Ia menandakan kasta, tingkatan, daerah mana ia berasal dan fungsi apa ia di masyarakat. Bagi yang pernah melihat film Apocalypto-nya Mel Gibson mungkin akan melihat kesamaan, padahal lokasi berbeda jauh ribuan kilometer. Kulit mereka terlihat seragam. Sementara hari ini, tato yang ada di tubuh Anto tentu sudah modern. Motifnya motif import bukan motif lokal lagi. Sayang, tak ada lagi pemuda modern yang mau merajah badannya dengan motif lokal. Sudah ketinggalan jaman mungkin begitu anak sekarang berkata.

Suatu ketika Anto manggung bersama band di Batam. Di pulau dimana banyak terjadi people smuggling ini mereka pernah dihajar habis-habisan ketika mentas. Mungkin ini juga bagian dari pementasan itu sendiri. Ibarat menonton Nascar jika tak bertabrakan tak seru, atau ibarat menonton bola jika tak berkelahi bukanlah sepak bola namanya. Pulanglah mereka dengan babak belur ke Padang. Di dalam bus selama perjalanan pulang Anto duduk di sebelah bule.

“Are you musician?” bule itu bertanya.

“Yes I am. I’m vocalist and I played metal,” balas Anto bangga.

“I love metal.”

Anto terheran dengan penuturan si bule tadi. Tampangnya yang bersih dan necis ternyata menyenangi musik metal yang identik dengan rambut panjang, kaos hitam lusuh dan penampilan urakan. Anto tertawa kecil mendengarnya. Ada rasa tak percaya di hatinya. “Are you kidding me?”

“No, I’m serious,” tukas si bule. “I listened Children of Bodom.”

“That’s my favorite,” Anto tersenyum. Senang hatinya bertemu orang yang sealiran dengannya.

“By the way, what is your religion?” si bule bertanya tiba-tiba.

Anto terkejut. Apa pula maksudnya pertanyaan itu, mungkin itu pikirnya kala itu. “I am Moslem,” jawabnya pelan.

“What? Are you sure?” si bule meragu. Ia memandangi Anto lekat-lekat. Ada ketidakpercayaan di mata si bule. “What makes you so sure that you’re a Moslem? I am Christian, and this is the proof,” si bule mengeluarkan kalung dari dalam kemejanya. Bentuk salib itu sudah menjadi penentu mutlak akan keyakinannya apa.

Hati Anto terasa panas. Ia kemudian mengeluarkan dompet dari saku belakang. Ia kemudian mengacungkan satu kertas yang sudah lecek ke hadapan si bule. “Look, that’s my name in it. Below it, it is mentioned Islam. Here.” Anto menunjuk bagian yang menyatakan keyakinannya. “Satisfied?”

Bule itu terdiam. Tubuhnya memaku. Ia menatap Anto sekali lagi. Dari atas hingga ke bawah. Ia tak percaya. “I always thought that a Moslem is proper…,” ada penekanan pada kata proper. Setelah itu si bule tak melanjutkan kalimatnya. Ada kekecewaan di matanya. Ia kecewa karena selama ini ia memiliki imej tentang Islam yang berbeda dengan yang ada di hadapannya. Seorang pemuda bertato yang katanya muslim itu membuatnya kecewa.

Anto sepertinya menangkap sinyalemen kekecewaan itu. Atmosfer di bus mulai berubah. Hingga bus berhenti di tujuan, mereka akhirnya tak lagi bercakap-cakap. Dalam diam masing-masing mereka saling memikirkan kejadian barusan.

Beberapa bulan setelah peristiwa itu Anto terserang sakit. Kalau tak salah yellow fever. Karena tak ada biaya ia mendiamkannya saja. Sakitnya kemudian bertambah parah. Ia mulai kebingungan. Tiba-tiba terbersit suatu ide. Dari tidurnya ia berusaha untuk duduk. Ia pandangi berbagai poster yang ada di kamarnya. Ia pilih salah satu yang menurutnya paling pantas. Ia kemudian beringsut pelan. Dengan gemetar ia menyentuh poster bergambar mahluk menyeramkan menyerupai domba.

“Selama ini aku telah berusaha semampuku untuk menjalankan hidupku sesuai arahanmu wahai iblis. Arahanmu untuk hidup tak terarah sudah aku laksanakan dengan penuh kesadaran. Bahkan, Tuhanku pun kutinggalkan. Aku lebih memilihmu wahai iblis. Kini aku terbaring tak berdaya. Aku bersumpah, jika kau sembuhkan aku dari sakitku maka aku akan menjadi pengikutmu yang paling setia,” Anto mengucapkan sumpahnya. Ada kesungguhan di setiap katanya. Ia sepertinya adalah seorang pria yang cukup teguh pada janji. Lelaki sejati adalah mereka yang berjanji tak ingkar, begitu mungkin prinsipnya.

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Tak kunjung penyakit itu pergi. Dalam kepasrahannya ia mendesah. Ketakutan akan dunia sesudah hidup mulai mengawang di pikirannya. Adakah dunia sesudah mati, tanyanya. Pertanyaan-pertanyaan aneh berguliran di benaknya. Semakin ia memikirkan itu semakin mendingin badannya. Meriangnya semakin menjadi hari ke hari. Tiba-tiba terbersit lagi ide di kepalanya nan tengah panas itu. Kembali ia berusaha untuk duduk. Susah payah ia menuju satu titik di kamarnya. Ia kemudian mengaduk-aduk satu kotak di hadapannya. Ia usai kotak itu dengan membabi buta hingga membuatnya terengah-engah. Di satu titik ia tersenyum. Satu peluh menetes melewati keningnya. Ia mengeluarkan selembar kain tipis bermotif ka’bah itu dengan gembira.

Ia menggelar kain itu menuju satu penjuru. Ada keraguan sebenarnya, apakah benar ini arahnya, sudah belasan tahun ia tak beribadah. Ia kemudian duduk di atas kain itu. Tangannya menadah ke atas.

Kepalanya tertunduk.

“Selama ini aku meraguiMu. Apakah Kau benar-benar ada aku tak tahu. Aku tak benar-benar tahu. Bahkan sebenarnya aku tak mau tahu. Buruknya lagi, aku membandingkanMu dengan iblis; mahluk yang Kau ciptakan lebih dulu dari manusia. Aku memujanya, mahluk yang telah menghianatiku itu, melebihi bagaimana aku semestinya memujaMu. Kini, aku berusaha kembali ke jalanMu. Jika memang Kau ada maka tunjukkanlah. Berilah aku kesembuhan maka aku akan jadi pengikutMu yang paling setia.”

Anto terdiam setelah itu.

Ajaibnya, seminggu kemudian ia sembuh. Entah karena obat yang ia minum atau karena ada yang lain ia tak tahu. Dalam hati ia menyesal akan janji yang ia buat. Ia hanya bercanda waktu itu, begitu alasannya membela diri. Namun sekali lagi ia ingat, janji adalah janji. Lelaki sejati tak ingkar janji.
Setelah benar-benar sembuh, ia mulai kebingungan. Mau apa ia sesudah ini? satu hal yang melintas di pikirannya adalah pergi ke mesjid.

Berjalanlah ia menyusuri jalanan kota Padang nan panas itu. Satu mesjid berdiri di hadapannya. Ia masuk tanpa permisi. Tanpa salam. Semua orang memandangnya heran.

Keran air itu diputarnya. Ia menatap air yang keluar meluncur bebas menyapu jemarinya. Lama ia tangan itu menampung air yang akhirnya meluap dan tumpah. Ia termenung. Ia lupa akan urutan berwudhu karena ini sudah lama sekali. Sudah lama ia tak sholat. Sudah lama wajah itu tak terkena air wudhu.

“Jika tak mau shalat lebih baik keran air itu dimatikan saja,” sebuah suara dari belakang terdengar. “Tak sanggup nanti mesjid ini bayar tagihan air yang tak murah itu.”

Anto menatap lelaki di hadapannya. Mata mereka saling bertatapan. Lelaki itu memperhatikan Anto dalam-dalam. Ia menggeleng-geleng.

Lelaki itu kemudian memutar keran air yang sedari tadi mengucur ke arah berlawanan.

“Sudahlah, lebih baik kau pergi saja. Shalat tak sah jika tak berwudhu. Wudhu tak sah jika kulit memiliki rajah seperti yang kau punya itu. Jika kau tetap shalat, maka shalatmu itu takkan diterima. Tetap takkan dihitung amalmu. Jadi percuma saja. Lebih baik kau pergi.”

Ada benarnya pikir Anto. Ini juga alasan terbesarku sebenarnya untuk tak memiliki tato di tubuhku.

Anto keluar dari mesjid itu. Pandangannya kosong. Ia kembali memikirkan janjinya kemarin. Adakah cara untuk menarik ludah sendiri, pikirnya.

Keesokan harinya, Anto mencari mesjid yang lain. Terus begitu selama berhari-hari. Tetap perlakuan yang sama ia dapati. Kadang-kadang ia bisa shalat namun orang-orang di sekelilingnya yang tak khusuk jadinya beribadah. Maka demi kemaslahatan umum Anto mesti mengalah. Kalah.

Ia putus asa. Hampir setiap mesjid di kota Padang menolaknya.

Ia kemudian terduduk di tepi jalan. Panasnya kota Padang membuatnya menyesal memakai kaos hitam.

Matanya nanar. Ia mulai menghujat Tuhannya.

“Kenapa kau membuat agama jika tak membolehkan pemelukMu untuk menyembahMu?” cecar Anto.

Tiba-tiba lewatlah segerombolan anak punk di hadapannya. Di sebelahnya ada seseorang pemuda berbaju gamis menggandeng mereka. Pemuda berbaju gamis itu melihat Anto yang menatapnya penuh keheranan. Ia mendekati Anto. Tangannya terulur.

“Uda, mari shalat.” Lelaki itu tersenyum.

Anto heran. Ada apa ini sebenarnya. Namun ia menurut. Diikutinya gerombolan di hadapannya.

Di satu daerah pecinan mereka berhenti. Ada satu mesjid kecil berdempetan dengan toko-toko bergaya lama. Pecinan memang merupakan daerah yang paling banyak memiliki berbagai peninggalan sejarah. Setelah gempa skala 7,9 kemarin daerah ini juga yang paling hancur. Anto melihat di dalam betapa beragamnya isi mesjid ini. Ia menjumpai Anto-anto yang lain; dalam wujud berbeda. Anak punk berambut Mohawk berdiri tegak di sebelah pria berpeci hitam. Harmonis sekali. Anto merasakan kehangatan di sini. Satu-satunya mesjid dimana ia merasa diterima.

Beberapa bulan kemudian aku kembali menemui Anto. Ia menjual dvd band-band underground di bilangan Permindo. Sudah jauh berubah ia sekarang. Ia tak lagi memakai kaos hitam dan celana belel. Ia kini memakai gamis. Agak kontras memang karena tatonya itu kontradiktif dengan pakaiannya.

Aku mengambil satu dvd; Yngwie Malmsteen konser orkestra live in Japan.

“Jadi gimana sekarang?” tanyaku.

“Sekarang aku kembali ke setiap mesjid yang pernah menolakku. Cuma kini aku sudah punya jawaban jika mereka menanyakan ketidaksahan shalatku gara-gara tato sialan ini,” jawab Anto.

“Apa itu?”

“Bukan kalian yang menentukan apa aku akan masuk surga atau tidak kelak. Tuhan yang menentukan,” jawabnya mantap.

Aku tersenyum.

###

“Agamamu apa?” Bob bertanya padaku.

“Pertanyaan itu juga pernah ditanya Stalin ke Tan Malaka ketika di Rusia dulu.”

“Terus dia bilang apa?”

“Jika aku berhadapan dengan Tuhan maka aku seorang muslim. Namun jika kuberhadapan denganmu (manusia) maka aku seorang komunis.”

“Memangnya Tuhan itu ada? Apa buktinya Tuhan itu ada?”

“Dulu, sempat aku meragukan kalau Tuhan itu ada. Tapi hari ini benar-benar yakin Tuhan itu ada,” terangku.

“Apa buktinya?” interogasi Bob.

“Karena selama ini aku berdoa sama Tuhan tapi tak pernah dikabulkan. Baru hari ini doa itu terkabul.”

“Memang apa doanya?”

“Doa yang aneh sebenarnya.”

“Ya apa?” tanya Bob tak sabar.

“Selama ini aku berdoa untuk punya teman yang percaya Tuhan itu tak ada dan akhirnya hari ini Tuhan mempertemukanku denganmu. Tuhan telah mengabulkan doaku. Bagiku, ini bukti bahwa Tuhan itu ada.”

“….”

“…”

“Doa yang aneh.”

###

Perbincangan tentang Tuhan pun berakhir. Aku menuntut Bob untuk bercerita tentang Tuhan. Dia ngotot bagaimana bisa ia bicara tentang Tuhan jika ia tak mempercayai Tuhan itu ada. Tak apa, kataku. Selama ini aku mengenal Tuhan dari orang-orang yang non-atheis, jadi kapan lagi aku tahu tentang konsep Tuhan dari seorang atheis. Pasti akan menarik.

Ketika kuketik kisah ini, aku sedang masuk ke halaman pertama buku “Who is God?”. Di bagian awal ada puisi Garin, yang berfungsi sebagai pengantar sebelum kata pengantar, yang menurutku sangat bagus. Aku masukkan puisi itu di sini sebagai penutup note ini.

Aku telah berdoa berkali-kali dan
tanganku kutengadahkan untukMu,
kepala kusujudkan padaMu, aku
serahkan diriku menjadi pelayanMu.
Bertahun-tahun aku bertanya padaMu,
Sudahkan aku melayaniMu? Tapi
Kamu begitu sunyi dan tak menjawab.
Aku terus melangkah dari Papua ke
Meulaboh, dari Afrika terus ke Berlin. Ah,
Akhirnya kubaca kehidupan, aku
Tahu kuganti pertanyaanku, sudahkah
aku melayani manusia? Eureka..
kutemukan jejakmu Tuhan.

(H. Garin Nugroho, Meulaboh Aceh,
3 minggu setelah tsunami 26 Desember 2004)

Bendungan Hilir, 10/11/09

Advertisements

Leave a Reply