Salut, TKW INI Kuliah Sastra Inggris di Universitas Terbuka

Namanya Anisa saat ini ia sedang melanjutkan S2 Sastra Inggris UI. Tapi siapa yang menyangka jika mahasiswa baru magister sastra inggris tersebut sebelumnya bekerja sebagai salah satu Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Singapura.

Hal yang sama juga dilakukan oleh buruh migran lainnya bernama Setyana atau dipanggil Ana yang menjadi buruh migran di Taiwan. Harus meninggalkan tanah air di usia 18 tahun, Ana ingin melanjutkan pendidikan di University Central National Taiwan. Keterbatasan yang ia hadapi selama kuliah dan juga bekerja di luar negeri tidak mematahkan mimpinya mengejar gelar Sarjana dan juga mengubah hidup keluarga.

Bagi Ana dan Anisa, pendidikan mendapatkan prioritas yang paling utama selain mempertahankan pekerjaannya di luar negeri. Tidak ingin menjadi buruh migran selamanya adalah motivasi yang sama antara Ana dan Anisa. Dan seperti latar belakang buruh migran yang lain kedua mahasiswa Universitas Terbuka ini sama-sama berasal dari keluarga yang tidak mampu.

Anisa dan Ana adalah contoh dari buruh migran yang kuliah sastra inggris di Universitas Terbuka yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Kuliah sastra inggris di universitas terbuka tidak mudah untuk dijalankan oleh para buruh migran. Ana mengisahkan tantangan perjalanannya selama menjalani perkuliahan di UT kepada kontributor Rappler.

Kebanyakan majikan yang mempekerjakan buruh migran Indonesia tidak mendukung keinginan para buruh untuk melanjutkan pendidikan. Ana menceritakan ketidaksetujuan majikannya di taiwan, “Kamu tak gaji, harus ikutin kataku (bekerja).”

Ana sendiri termasuk buruh migran yang beruntung karena masih mempunyai banyak waktu untuk kuliah. Tidak sedikit teman-teman Ana yang mengikuti kuliah sastra inggris di Universitas Terbuka harus belajar secara sembunyi-sembunyi. Oleh karena tidak didukung oleh majikan Ana sering tidak menghadiri kuliah tatap muka yang diadakan sebulan sekali. Di lain waktu Ana terpaksa mengumpulkan tugas lewat dari waktu yang ditentukan.

Selain tidak adanya dukungan dari pemberi kerja, kendala teknis juga sering dihadapi oleh mahasiswa yang kuliah di Universitas Terbuka. Dua diantaranya seperti diungkapkan Ana pada Rappler, koneksi internet yang buruk dan juga server UT sendiri yang sering tidak bisa diakses.

Setyana, yang berasal dari Ngawi, Jawa Timur ini, berencana untuk meninggalkan buruh migran untuk bekerja di kantor imigrasi atau lembaga profesional lainnya. Dengan modal yang ia punyai sekarang tentu impian tersebut selangkah lagi akan ia capai.

mahasiswa yang kuliah sastra inggris di Universitas Terbuka berdialog dengan Presiden Taiwan

Linda A. Gumelar, Ketua Ikatan Keluarga Alumni Universitas Terbuka (IKA UT), menyebutkan jika minat para tenaga kerja wanita menambah pengetahuan sangat tinggi. Contohnya untuk para TKW di Singapura, mahasiswa yang mengikuti perkuliahan di UT jumlahnya mencapai kurang lebih 350 orang.

Linda berharap Anisa, Setyana dan teman-teman TKW lainnya mampu untuk berkarya lebih baik lagi di Indonesia.

Saat ini banyak TKW yang mengikuti perkuliahan di Universitas Terbuka. Para mahasiswa tersebar di 28 negara termasuk Singapura. Harapan para TKW ini tidak muluk-muluk yaitu bisa lulus program perkuliahan dan bekerja dengan layak di Indonesia. Seperti pengakuan Destra pada postkotanews baru-baru ini

“Mudah-mudahan tahun depan saya lulus dan ingin kembali dan bekerja di Indonesia setelah hampir 6 tahun tinggal di Singapura.”

Destra adalah salah satu mahasiswa UT yang berasal dari Banyumas. Ia dan 11 orang mahasiswa UT lain dari Singapura sedang bersilaturahim ke kampus UT Pondok Cabe.

Meskipun sudah lama berdiri tetapi masih banyak rakyat Indonesia (calon mahasiswa) yang tidak mengetahui jika Universitas Terbuka tidak kalah dengan Universitas yang sudah dikenal saat ini. Biasanya para guru di pelosok daerah mengikuti program dari Universitas Terbuka untuk mendapatkan gelar Sarjana sebagai salah satu syarat untuk program sertifikasi dari pemerintah.

Selain dari biaya kuliah yang lebih terjangkau, waktu perkuliahan di Universitas Terbuka lebih fleksibel dibandingkan jadwal perkuliahan di universitas-universitas pada umumnya.

Advertisements

Tinggalkan Balasan