terorisme

#PrayforParis, begitu hashtag yang sedang menjadi trending topik di media social twitter yang sempat saya pantau beberapa hari yang lalu. Pertanyaan langsung muncul di dalam benak saya, ada apa dengan Paris?
Saya pun memencet hashtag pray for paris tersebut dan menemukan bahwa telah terjadi tragedi di Paris, Perancis. Beberapa orang yang ditenggarai sebagai muslim (pelaku teror berteriak Allahhu Akbar, term lekat dengan agama Islam) telah melakukan pembantaian di sebuah stadion dan juga meledakan diri dengan bom bunuh.

Sekali lagi seluruh manusia di dunia bereaksi atas kejadian tersebut. Apalagi aksi teror yang dilakukan oleh pelaku teroris di Paris bahkan diliput secara live oleh media-media Barat sana. Kengerian pun muncul dalam diri saya, ngeri akan muncul gelombang Islamphobia baru.

Di timeline twitter dan facebook saya sendiri beragam tanggapan diberikan oleh sahabat-sahabat saya. Semua berempati dengan situasi rakyat Perancis, dengan update status dengan tagar #PrayforParis. Tapi juga teman-teman di medsos memberikan penjelasan bahwa jangan sampai komunitas muslim di Eropa menjadi korban Islamphobia.

Terorisme Islam (?)
Kekhawatiran teman-teman di media sosial tak salah karena setiap pelaku teror yang terindikasi beragama muslim akan membuat muslim lainnya seperti membawa dosa yang sama. www.pkspiyungan.org mengutip pernyataan seorang politikus ekstrim kanan prancis yang bereaksi atas kejadian terorisme paris tersebut. Marine Le Pen dalam status facebooknya menyatakan "Terorisme islamiste: une colere froide nous serre le couer (Terorisme Islam, kemarahan telah memenuhi hati-hati kami).

Pernyataan ini ditenggarai beberapa pengamat sebagai sebuah usaha untuk mendapatkan simpati terhadap partainya yang sedang mengalami penurunan dukungan. Akan tetapi pernyataan sikap dari pemimpin sebuah partai politik tentu tidak bisa dianggap enteng. Walaupun berbau politik impact kepada masyarakat Perancis pasti akan langsung terasa. Bukan tidak mungkin kejadian Islamphobia kembali terjadi di Perancis, atau Eropa pada umumnya.
Kejadian terorisme di perancis yang membuat setiap muslim bertanya-tanya ada grand design apa setelah kejadian ini?
Dr. Mahmud Syaltout dalam akun facebooknya ( https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10153106094796044&set=a.10150341999086044.349182.700791043&type=3&theater ) mewakili rasa resah umat Islam. Hal ini terjadi karena pemerintah Perancis sebenarnya sudah mengetahui adanya ancaman terjadi aksi terorisme. Asumsi beliau ini didasari dari beberapa hal yaitu sudah adanya laporan intelijen Perancis mengenai adanya bahaya terorisme di Perancis dan juga media-media perancis yang mengangkat isu akan bahaya Terorisme sebelum aksi tersebut terjadi.

Mengenai hal yang pertama, pemerintah Perancis mengetahui adanya ancaman terorisme dan seperti membiarkan kejadian tersebut. Asumsi ini didapat karena pihak intelijen perancis ONDRP telah mendeteksi adanya beberapa bahaya yang sedang mengintai negara Perancis. Laporan ini disampaikan oleh ONDRP pada tahun 2014 ( www.inhesj.fr/sites/default/files/ra_2014_ondrp.pdf ). Bahaya yang disampaikan oleh lembaga intelijen tersebut berupa terorisme, dan pengangguran. Masuk di tahun 2015 pada grafik bahaya terorisme melonjak tajam namun tidak ada tindakan yang signifikan yang dilakukan oleh pemerintah.
Dr. Mahmud Syaltout juga menuliskan beberapa media Perancis mengeluarkan seruan terhadap bahaya terorisme pada hari sebelum terjadinya aksi terorisme tersebut. Beberapa media perancis yang memberikan "peringatan dini" tersebut adalah:
1. www.uerope1.fr/societe/les-francais-se-disent-victimes-de-violences-et-inquiets-face-au-terrorisme-2619621
2. www.ladepeche.fr/article/2015/11/13/2216446-insecurite-francais-victimes-plus-avant-violences-inquiets-terrorisme.html
3. www.franceinter.fr/depeche-apres-le-chomage-le-terrorisme
4. www.sudouest.fr/2015/11/13/terrorisme-et-violence-les-francais-de-plus-inquiets-2184318-6093.php
5. mobile.lemonde.fr/police-justice/article/2015/11/13/deliquance-le-gouvernement-face-a-un-bilan-mitige_4808714_1653578.html
6. m.20minutes.fr/societe/1728947-cambriolages-vols-insecurite-agressions-cinq-chiffres-connaitre-delinquance-france

Kalau saya jadi berasumsi berita media perancis tersebut mungkin saja penanda bagi pelaku teror untuk melakukan aksinya.

Selain dua poin yang disampaikan oleh Dr. Mahmoud Syaltout diatas, tipikal (stereotype) pelaku terorisme di perancis menjadi hal lain yang memunculkan teori konspirasi di antara teman-teman saya.

Apa saja stereotype pelaku terorisme tersebut?
1. Kalau mau bom bunuh diri jangan lupa bawa pasport
2. Pastikan passport terbuat dari bahan tahan bom, api, dan anti hancur
3. pastikan passport mudah ditemukan saat ditangkap hidup atau mati
4. jangan lupa agama dalam passport harus Islam (minimal nama berbahasa Arab)
5. pastikan ada kamera yang mengabadikan atau merekam teriakan "Allahu Akbar"

Saya sendiri agak kesal memang karena Islam dan Muslim dikaitkan dengan setiap aksi teror. Sepertinya sudah pakem kalau teroris itu pelakunya muslim dan karena ajaran Islam padahal Terorism has no religion.

Banyak aksi teror yang terjadi di belahan dunia pelakunya bukan muslim. Tapi pelafalan para pelaku teror yang tidak masuk stereotipe yang diberikan, seakan-akan hanya muslim dan Islam-lah yang patut untuk mendapatkan term teroris tersebut. Coba anda baca lagi kasus Sandy Hook di Amerika, seorang remaja Amerika yang membunuh orang-orang yang berada di sekolah Sandy Hook. Apakah pernah anda menemukan media menyebutkan pelaku penembakan tersebut teroris? Jika jawabannya tidak maka silakan anda elaborasi sendiri kenapa pelaku penembakan sandy hook tidak disebut teroris.

Pagi ini di Jakarta Timur diberitakan terjadi peledakan. Saya masih belum tahu apakah ledakannya besar atau kecil karena saya mendapatkan informasinya lewat twitter ntmc. Saya kok berpikiran aksi terorisme di Perancis sebagai penanda agar aparat disini untuk bersiap dengan drama terorisme Islam yang telah basi setelah kejadian di Mall Alam Sutera, Serpong pelakunya tidak masuk dalam stereotipe yang sudah ada.

Selain itu saya juga membaca berita dari republika kalau pihak Perancis membalas serangan terorisme Jumat lalu dengan menargetkan kawasan yang dikuasai ISIS di Suriah. Benarkah? Bisakah pesawat Perancis itu membedakan mana kawasan yang dikuasai ISIS dengan kawasan yang dikuasai pejuang Suriah non ISIS? Atau malah yang terjadi semua pejuang muslim yang mempunyai bendera Syahadatain dimasukkan ke satu kelompok yang bernama ISIS.

ISIS bagi dunia Islam adalah sebuah duri dalam daging. Propaganda mereka yang begitu masif, dan begitu cantik membuat banyak kaum muslimin yang bergabung dalam barisan mereka. Sayang begitu kaum muslimin yang terpikat dengan propaganda itu masuk dalam barisan mereka dan mengetahui ada yang salah dengan barisan tersebut, kaum "muhajirin" tersebut tidak bisa keluar dari barisan kecuali dengan pertolongan Allah Swt.

Advertisements

Tinggalkan Balasan