Terdakwa Bom Madrid Divonis Bebas

Terdakwa Bom Madrid Divonis Bebas

ImageMahkamah Agung (MA) Spanyol membalikkan vonis empat orang yang dinyatakan bersalah karena terlibat dalam pemboman kereta api di Madrid tahun 2004 silam. Keempat orang itu termasuk di antara 21 orang yang tahun lalu dinyatakan bersalah karena terlibat dalam serangan yang menewaskan 191 orang tersebut.

MA juga mempertahankan putusan pengadilan yang membebaskan seorang tersangka berkebangsaan Mesir yang dituduh sebagai otak serangan, karena dia sudah divonis dengan dakwaan yang sama di Italia. Namun MA Spanyol telah memvonis dan menjatuhkan hukuman penjara kepada seseorang yang pada pengadilan sebelumnya dinyatakan tidak bersalah. Pria Spanyol itu, yang dijatuhi hukuman empat tahun penjara, dibebaskan dari tuduhan membantu memasok bahan peledak yang digunakan dalam serangan Madrid.

Seorang pria Mesir bernama Rabei Osman Sayed Ahmed, juga dibebaskan dari tuduhan terlibat dalam pemboman pada bulan Oktober itu, sebab ia telah divonis delapan tahun penjara di Italia karena dianggap menjadi anggota organisasi teroris. MA memutuskan dia tidak bisa dinyatakan bersalah lagi atas kejahatan yang sama.

Jaksa penuntut mengatakan, Sayed telah mengajukan banding terhadap putusan pengadilan di Italia dan secara teknis dia belum divonis. Para pengacara Sayed dalam kasus di Spanyol menolak bukti utama berupa rekaman suara orang menjadi menjadi otak serangan bom di Madrid. Mereka mengatakan suara itu bukan suara klien mereka dan kata-kata dalam rekaman itu salah diterjemahkan.

Bulan Oktober lalu, pengadilan Spanyol telah membebaskan tiga pria dari dakwaan menyusun serangan dan membebaskan tujuh orang lainnya, serta memvonis 21 orang karena terlibat dalam serangan bom. Beberapa kelompok pendukung keluarga korban marah dengan pembebasan itu dan mengatakan hukuman yang dijatuhkan jauh lebih rendah dari tuntutan jaksa.

Jesus Ramirez, salah seorang korban pemboman yang selamat mengatakan, menerima putusan pengadilan meski dia tidak menyetujuinya. “Meski kami menentangnya di dalam hati, mereka punya informasi lebih banyak dan telah menimbang bukti dan mengambil putusan,” katanya kepada AP.

Sementara itu, Luca D’Auria, pengacara Sayed di Italia, menyatakan kepuasannya atas putusan tersebut. “Saya dan pengacara Sayed di Spanyol selalu membayangkan semuanya akan berakhir seperti ini. Saya benar-benar puas,” ujarnya.

Pemboman Madrid terjadi pada tanggal 11 2004, ketika 10 bom yang dibawa dalam ransel menghancurkan empat kereta yang padat penumpang, dan disebut sebagai serangan teror paling maut di Eropa sejak pemboman Lockerbie pada tahun 1988.

Para pengamat mengatakan serangan itu mengubah jalan sejarah Spanyol karena dalam pemilihan umum yang digelar tiga hari kemudian, untuk pertama kalinya para pemilih tidak memberi dukungan kepada pemerintah konservatif yang pada awalnya menuduh kelompok separatis Spanyol, ETA, bertanggungjawab atas serangan tersebut.

Tim penyelidik Spanyol mengatakan, para pelaku pemboman adalah bagian dari kelompok militan Islam setempat yang mendapat inspirasi dari al-Qaidah, namun tidak memiliki hubungan langsung dengan organisasi tersebut. Mereka bertindak untuk membalas peran tentara Spanyol di Irak dan Afghanistan. (Chairul Akhmad/AP/BBC).

Advertisements

Tinggalkan Balasan