About these ads

Teori Evolusi Darwin Keliru Jika Diterapkan Ke Psikologi!

Teori evolusi Darwin ternyata keliru jika diterapkan ke psikologi, kata para pakar.

Tulisan mengenai bantahan terhadap penerapan teori evolusi darwin di bidang psikologi dapat dilihat di buku karya Robert C. Richardson yang berjudul Evolutionary Psychology as Maladapted Psychology.

Secara khusus presiden Royal Dutch Zoological Society juga menulis tanggapan atas buku tersebut di jurnal ilmiah pro-evolusi terkemuka, Science.

Isi buku tersebut membongkar kekeliruan penerapan teori evolusi Darwin di bidang psikologi yang banyak menarik perhatian kalangan masyarakat luas. Alasannya, seperti yang dituturkan Bolhuis, seringkali menyentuh bahasan-bahasan seperti birahi manusia, seks dan nafsu.

Psikologi ala Teori Evolusi Darwin

Dalam ulasannya “Psychology: Piling On the Selection Pressure” di majalah Science, Johan J Bolhuis menyatakan Darwin memperluas cakupan teori evolusi. Dalam buku The Origin of Species Darwin menjelaskan kemampuan berpikir pada manusia. Konsep ini dituangkan dalam buku The Descent of Man yang menyebutkan sifat-sifat pada manusia seperti moralitas dan emosi muncul melalui evolusi.

Selanjutnya para pakar psikologi yang datang kemudian mengekor jejak sang guru. Mereka berusaha menerapkan teori evolusi Darwin untuk menjelaskan akal pikiran manusia, atau yang dikenal dengan istilah evolutionary psychology.

Psikologi evolusioner adalah psikologi yang dijelaskan menurut teori evolusi. Psikologi evolusioner menganggap akal pikiran manusia terdiri dari simpul-simpul daya pikir yang berevolusi sebagai tanggapan atas tekanan seleksi yang dihadapi nenek moyang manusia di Zaman Batu.

Ideologi Teori Evolusi Darwin

Teori evolusi darwin pada awalnya berupaya menjelaskan asal usul keanekaragaman makhluk hidup dengan menihilkan Sang Pencipta. Teori ini menitik beratkan bagaimana makhluk hidup dapat bertahan dengan cara beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi di lingkungannya.

Lambat laun teori evolusi darwin pun lalu merambah ke ranah psikologi manusia. Perkembangan ini seakan membenarkan teori darwin bahwa evolusi bukanlah sekedar teori di bidang biologi semata.

Teori evolusi darwin pada saat ini menjadi sebuah ideologi yang harus diterima secara dogmatis, meski tanpa bukti nyata. Teori ini pun dipakai sebagai pijakan dalam mengembangkan ilmu-ilmu lain, termasuk psikologi manusia, oleh para pengagumnya.

Karena dijadikan landasan dogma tanpa bukti di bidang psikologi evolusioner, tidak heran jika terjadi kejumudan dengan menolak penjelasan selainnya. Bolhuis menegaskan permasalahan penting ini:

“The main problem with evolutionary psychology is that it usually does not consider alternative explanations but takes the assumption of adaptation through natural selection as given.

Permasalahan utama dengan psikologi evolusioner adalah biasa tidak dipertimbangkannya penjelasan-penjelasan alternatif tapi menjadikan anggapan (asumsi) adaptasi melalui seleksi alam sebagai kebenaran yang wajib diterima.”

Pernyataan Bolhuis di atas bukti yang menggambarkan sifat teori evolusi darwin yang tidak mencerminkan proses ilmiah melainkan dogma atau ideologi yang wajib diterima dengan menutup diri dari penjelasan lain.

Teori Evolusi Darwin Tak punya bukti

Pengarang buku Evolutionary Psychology as Maladapted Psychology, Robert Richardson, adalah pendukung evolusi, yang percaya bahwa kemampuan psikologis manusia merupakan sifat yang terevolusi. Meskipun demikian filsuf asal University of Cincinnati itu menyatakan bahwa penafsiran psikologi evolusioner dari sudut pandang biologi evolusi adalah salah. Richardson sampai pada kesimpulan tersebut berdasarkan kajiannya yang berpegang teguh pada ilmu pengetahuan, terutama pada metoda-metoda ilmiah yang digunakan dalam penelitian di bidang psikologi.

Menurut Bolhuis, karya Richardson ini merupakan pelengkap karya yang telah terbit sebelumnya, yang juga memberikan bantahan telak terhadap penerapan teori evolusi selama ini di bidang psikologi. Karya yang lebih dulu terbit tahun 2005 itu berjudul Adapting Minds (Akal Yang Beradaptasi), yang juga karya pendukung evolusi, David Buller, pakar filsafat asal Northern Illinois University. Berbeda dari Richardson, karya Buller lebih terperinci, menitikberatkan pada bukti-bukti dan memberikan penafsiran lain.

Para pakar psikologi evolusioner seringkali bersikukuh dengan pendapat mereka hingga timbul kesan bahwa kemampuan nalar manusia hanya dapat dipahami berdasarkan sejarah evolusi manusia. Akan tetapi dalam kajiannya, sebagaimana dituangkan di banyak tempat dalam bukunya Evolutionary Psychology as Maladaptive Psychology, Richardson berkesimpulan bahwa tidak ada bukti sejarah yang dapat digunakan untuk merekonstruksi evolusi kemampuan berpikir manusia.

Contoh nyatanya adalah kemampuan berbahasa pada manusia. Penjelasan yang cenderung digunakan dalam psikologi evolusioner adalah bahwa proses evolusi mendorong kemunculan keterampilan berbahasa tersebut untuk digunakan dalam kelompok masyarakat kompleks. Dengan kata lain, ada kebutuhan akan bahasa. Richardson berpendapat bahwa para pakar fosil mustahil akan menemukan bukti-bukti yang dapat memberikan informasi tentang tatanan sosial masyarakat nenek moyang manusia.

Teori Evolusi Darwin Adalah Rekaan Belaka

Bahkan kalaupun bukti-bukti yang diperlukan dalam pengkajian kemampuan berpikir manusia berdasarkan psikologi evolusioner dapat dikumpulkan, hal ini tidak akan menghasilkan pengetahuan tentang mekanisme kemampuan berpikir manusia, ulas Bolhuis yang juga menjabat sebagai profesor tamu di Department of Zoology, University of Salzburg, Austria. Sebab, kajian tentang evolusi berkutat pada rekonstruksi sejarah sifat-sifat manusia.

Kajian tersebut tidak, dan tidak dapat, menelaah mekanisme yang terlibat pada otak manusia, yang merupakan bidang kajian ilmu saraf dan psikologi kognitif. Dengan demikian pengkajian psikologi berlandaskan teori evolusi tidak akan pernah berhasil, karena berupaya menjelaskan mekanisme-mekanisme tapi secara tidak tepat mengacu pada sejarah mekanisme-mekanisme tersebut. Ini diibaratkan sang pengarang seperti menjelaskan struktur tanaman anggrek dengan merujuk pada keindahannya.

Di akhir ulasannya mengenai buku Evolutionary Psychology as Maladapted Psychology (Psikologi Evolusioner sebagai Psikologi Salah Tempat), profesor Bolhuis mengatakan bahwa hasil kajian Richardson mengungkap betapa kajian psikologi berdasarkan teori evolusi sebagian besarnya adalah rekaan semata:

In this excellent book, Richardson shows very clearly that attempts at reconstruction of our cognitive history amount to little more than “speculation disguised as results.”

Dalam buku luar biasa ini, Richardson memperlihatkan dengan sangat gamblang bahwa upaya-upaya dalam penyusunan ulang sejarah kemampuan berpikir kita sedikit lebih dari “rekaan yang disamarkan sebagai hasil.” (Science 6 Juni 2008, Vol. 320. no. 5881, hal. 1293).

Atau sebagaimana diulas pula dalam editorial buku terbitan The MIT Press (http://mitpress.mit.edu) tersebut:

It is speculation rather than sound science–and we should treat its claims with skepticism. ([Psikologi evolusioner] itu lebih merupakan rekaan daripada ilmu pengetahuan yang mapan – dan kita sepatutnya memperlakukan pernyataan-pernyataannya dengan keraguan).

Mudah-mudahan psikologi evolusioner yang terbukti keliru ini, namun telah lama diajarkan di dunia akademis, tak terkecuali di lembaga pendidikan tinggi terkemuka di Indonesia, semakin mendapatkan pencerahan alternatif. Semoga.

About these ads

1 Comment

  1. […] bukan selama ini saya kera dan berevolusi jadi manusia seperti kata si Darwin. Tetapi menjadi individu yang sukses dengan simbol yang berlaku […]

Leave a Reply

%d bloggers like this: