Kesulitan Fathin Shidqia Lubis dalam Menulis Skripsi

Generic Banner

Fatin Shidqia Lubis, penyanyi jebolan program televisi X-Faktor, merasakan sulitnya dalam menjalankan masa-masa akhir perkuliahan di jurusan Performing Art Communication London School of Public Relation (LSPR).

Menulis skripsi itu, kata Fatin menirukan pesan dosennya, harus apa yang ada. Bukan diada-adain.

Kepada reporter kompas.com saat ditemui di acara Muslim Fashion Festival (MFF) hari Minggu (22 April 2018) Fatin mencontohkan salah satu judul skripsinya yang ditolak oleh dosen, Apa Pengaruh Judul Film Untuk Remaja SMP di Jakarta Selatan?

Dari penolakan dosen untuk judul skripsi yang absurd tersebut, penyanyi kelahiran 30 Juli 1996 itu pun mulai memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ia lakukan dalam menjalani proses akhir perkuliahan.

Tidak hanya Fatin, saya pun merasakannya ketika akan menyelesaikan kuliah di jurusan bahasa dan sastra inggris, universitas negeri padang tahun 2007 lalu.

Perjalanan seorang mahasiswa dalam melalui proses akhir pendidikannya di perguruan tinggi dengan menulis skripsi memiliki kisah menarik.

Mulai dari mencari topik permasalahaan yang akan diteliti, membuat sebuah judul penelitian, lalu kemudian menuliskan penelitian tersebut ke sebuah standar penulisan ilmiah semua tidak bisa dilakukan dengan instant.

Makanya ada orang yang akhirnya tidak mau repot dan meminta jasa orang lain untuk menuliskan tugas akhirnya berupa skripsi.

Sayangnya jalan mudah menyelesaikan skripsi diatas berakibat buruk untuk masa depan Anda, kenapa?

Anda tidak akan mendapatkan gambaran permasalahan yang diangkat dalam skripsi tersebut dengan lengkap.

Hal ini akan berakibat: Anda akan gugup ketika mendapatkan pertanyaan dari dosen penguji yang sama sekali tidak ada didalam skripsi yang diujikan.

Makanya saya sangat menyarankan kepada setiap pembaca yang bertanya tentang menulis skripsi agar membuat sendiri skripsi mereka.

Dengan menulis sendiri, kita tidak hanya memahami topik permasalahan yang kita angkat tetapi kaitannya dengan hal lain yang berada diluar konteks skripsi.

Dosen penguji itu ajaib.

Jawaban kita terhadap pertanyaan ajaib akan memberikan nilai plus, tetapi jangan juga mengada-ada.

Kalau pertanyaan ajaib dosen penguji berhubungan dengan teori yang berkaitan dengan skripsi dan kita tidak atau belum pernah mendapatkan teori tersebut, lebih baik minta baik-baik referensi mengenai teori yang disampaikan oleh dosen penguji.

Jika harus ditambahkan ke dalam skripsi, maka tambahkan seperlunya.

Jangan memaksakan teori dari dosen penguji ada, tetapi malah membuat kerangka penelitian yang sudah solid menjadi kabur.

Jadi penasaran apa judul skripsi ajaib Fatin yang akan membuatnya mendapatkan gelar sarjana dari salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Jakarta tersebut.

Advertisements

Novel The Plot Against America: Skripsi Yang Membanggakan

Generic Banner

Setelah empat tahun kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris dengan program studi Sastra Inggris konsentrasi pada Sastra salah satu yang menjadi kesulitan saya adalah menulis skripsi.

Skripsi adalah bukti seorang mahasiswa mengenai tingkat intelektualitasnya dan juga pengembangan dirinya atas kuliah yang ia jalani selama 4 tahun.

Menulis skripsi adalah hal yang paling berat yang pernah saya lakukan namun sekarang saya merindukan untuk kembali menulis penelitian ilmiah di bidang sastra.

Sebelum memulai penelitian sastra dosen saya kala itu memberikan sebuah persyaratan atas karya yang akan diteliti.

Secara garis besar yang saya masih ingat sekarang adalah karya sastra yang akan dikupas tuntas dengan beragam teori sastra sebagai pisaunya itu haruslah mendapatkan penghargaan sastra.

Mencari novel berbahasa inggris sendiri di kota padang adalah sebuah pekerjaan rumah yang tidak mudah.

Sebagai sebuah kota dimana hampir seluruh pemuda dan pemudi di pulau Sumatera mencari ilmu dan jatidiri, ketersediaan novel dalam bahasa Inggris bagai mencari jarum di dalam jerami.

Bukan tidak ada, tapi sulit untuk mendapatkan sebuah karya sastra terbaru dan juga mendapatkan penghargaan.

Saya memilih karya sastra dalam bentuk novel sebagai bahan penelitian. Alasan saya sangat sederhana yaitu novel paling mudah ditemukan.

Akan tetapi novel yang saya temui di beberapa toko di Padang merupakan novel yang diterbitkan sebelum saya kuliah (baca: novel lama, novel tahun jebot atau apapun anda akan memanggilnya).

Hingga akhirnya saya diberikan referensi untuk mencari novel di sebuah toko di Jakarta.

Nama toko tersebut adalah QB World, dan dari informasi dosen saya disitu banyak terdapat novel berbahasa Inggris dan jika beruntung maka saya akan mendapatkan novel yang masuk dalam kriteria “layak untuk diteliti”.

Google dan warung internet adalah sahabat saya waktu itu.

Dengan menyewa jaringan internet yang leletnya minta ampun saya berselancar di dunia maya dengan mengetikkan kata kunci penghargaan dunia sastra.

Penghargaan Nobel kategori sastra, Jubilee Award adalah beberapa penghargaan yang diakui oleh dosen saya.

Namun saya kemudian tergelitik dengan sebuah novel berjudul The Plot Against America karya Philip Roth.

Membaca ringkasan atau review dari Novel ini saya langsung memilih ini novel yang layak untuk saya teliti.

Mendapatkan Novel ini sungguh membuat frustasi karena saya harus ke situs qbworld.com untuk cek ketersediaan novel.

Syukur bahwa novel tersebut ada namun hanya beberapa eksemplar saja. Harganya pun cukup “wah” menurut kantong mahasiswa seperti saya.

Price tag buku tersebut bukan dalam mata uang Rupiah akan tetapi masih dalam kurs Dollar Amerika.

Sedangkan harga Dolar masih berkisar Rp. 12.000,- .

Alhamdulillah, bibi saya yang sudah lama di Jakarta langsung membelikan novel ini dan langsung mengirimkannya kepada saya.

Ketika menerima novel The Plot Against America saya langsung tercengang.

Tebal buku tersebut sekitar 10 sentimeter dan saya mengalami kesulitan untuk membaca paragraf awalnya.

Jadwal untuk mahasiswa memasukkan judul penelitian tinggal beberapa hari lagi dan saya baru membaca sebagian kecil dari novel tersebut. Luar biasa.

Saya memang tidak bisa menyelesaikan kuliah dalam kurun waktu standar 4 tahun, namun menguliti novel The Plot Against America membuat saya cukup puas dengan kerja keras saya sendiri.

Tentunya saya tidak bisa melupakan rasa terima kasih kepada teman-teman prodi pendidikan bahasa Inggris yang selalu lebih kejam mengkritik skripsi saya di kantin tempat kami biasa berkumpul.

Selain kesulitan dalam mencari bahan penelitian (baca: novel) hal lain yang membuat saya tertantang adalah menulis.

Layar putih Microsoft Word adalah sebuah kengerian tersendiri jika kita tidak biasa dalam menulis apalagi menulis dalam bahasa Inggris.

Ironis kan, kuliah di sastra Inggris tapi menulis dalam bahasa Inggris tidak mengalir lancar sebagaimana yang dikira orang.

Untuk ada trik dari seorang penulis yang saya praktekkan memudahkan saya dalam memulai menulis skripsi.

Trik itu adalah dengan menulis apa yang saat itu terlintas di dalam otak.

Saat saya mempraktekkan trik dari penulis tersebut perlahan-lahan halaman putih Microsoft Word mulai terisi dengan huruf dan kata.

Tantangan ketiga adalah seminar proposal dan seminar hasil (baca: kompre).

Dua fase ini sangat menentukan apakah seorang mahasiswa sastra inggris akan melanjutkan penelitiannya atau harus merubah atau lanjut dengan kegagalan.

Dalam seminar proposal saya seperti terdakwa dimana teman-teman sejurusan yang datang memberi sarang atau sanggahan terhadap penelitian saya.

Untungnya sanggahan dan saran itu tidak membuat saya down sehingga dengan beberapa perubahan disana-sini lalu kembali membaca beberapa teori Skripsi saya lanjut ke seminar hasil.

Berdiskusi selama dua jam dengan para penguji mengenai isi dalam skripsi saya membuat adrenalin saya sangat tinggi.

Jika teman-teman saya hanya dalam 1 jam saja sudah selesai dan mengetahui hasil ujian, saya membutuhkan waktu 2 jam (yang menurut saya tidak terasa).

Teman-teman diluar yang sedang menunggu giliran sempat was-was kalau saya kemudian gagal dalam ujian akhir ini.

Alhamdulillah saya berhasil melewatinya dengan nilai B.

Sekarang saya mengingat masa-masa itu saya menjadi geli sendiri, kemudian menyadari bahwa saya bisa berbangga terhadap diri sendiri untuk mendapatkan gelar Sarjana Sastra.

Skripsi yang cukup provokatif dan berhasil saya pertahankan. Tentunya tidak lepas dari bantuan dan perlindungan Allah SWT yang memberikan rezeki berupa teman-teman yang bawel dan kritis.

Bagaimana dengan mahasiswa sastra inggris sekarang?