GHOST FLEET PRABOWO DAN TEORI READER RESPONSE

Novel Ghost Fleet beberapa hari terakhir menjadi perbincangan yang menarik di negara kita, Indonesia.

Pasalnya tidak lain karena ketua umum partai Gerindra, Prabowo Subianto, menyatakan kalau Indonesia diprediksi bubar tahun 2030 berdasarkan cerita dari novel karya P.W.Singer dan August Cole.

Pernyataan dari seorang ketua umum partai yang menjadi oposisi pemerintah saat ini kemudian disantap dengan lahap oleh para pendukung pemerintah di media sosial dan juga digoreng dengan matang oleh portal-portal berita nasional.

Novel yang mendapat tanggapan bagus di negerinya sendiri, Amerika Serikat, dibuat oleh dua orang yang memiliki kepakaran pada informasi intelijen dan menjadi konsultan untuk departemen pertahanan Amerika Serikat.

[bluebox]Baca cuplikan novel Ghost Fleet: Novel Perang Dunia Ketiga[/bluebox]

Novel yang pertama kali terbit di tahun 2015 tersebut disebut amazon.com sebagai a must read for military leaders around the world.

Sebagai mantan panglima kostrad Prabowo Subianto membacanya tidak dengan main-main dengan beranggapan bahwa kisah yang dituturkan oleh kedua pengarang hanya bersifat fiktif.

Berdasarkan latar belakang yang ia miliki dan mungkin juga berdasarkan latar belakang kedua pengarangnya kesimpulan yang diambil oleh ketua umum Partai Gerindra tersebut tidak salah.

Peringatan yang diberikan oleh mantan calon presiden tahun 2014 tersebut berdasarkan pengalaman atau latar belakang beliau sendiri termasuk pada kritik sastra yang disebut dengan reader response.

Apa itu reader response?

Reader response merupakan teori sastra yang fokus pada pembaca dan pengalaman mereka terhadap sebuah karya sastra. (wikipedia)

Perhatikan saja pidato dari Ketua umum Partai Gerindra tersebut di video yang telah diposting di laman facebook dan twitter partai Gerindra:

“Saudara-saudara! Kita masih upacara, kita masih menyanyikan lagu kebangsaan, kita masih pakai lambang-lambang negara, gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini. Tetapi, di negara lain mereka sudah bikin kajian-kajian, di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030”

Pidato diatas yang kemudian menjadi buah bibir setiap penikmat berita politik dan juga teori konspirasi di Indonesia.

Tanggapan yang diterima pun beragam, ada yang setuju dengan peringatan yang disampaikan oleh manta Pangkostrad tersebut dan banyak juga yang memperolok pidato ketua umum Gerindra tersebut.

Bagi saya peringatan yang disampaikan oleh Prabowo Subianto sudah sesuai dengan kapabilitas pemahaman beliau dengan karya sastra yang dibaca dan juga dengan latar belakang militer yang ia miliki.

Kenapa?

Coba simak kata kunci Indonesia dalam cuplikan novel yang dijual di situs amazon.com tersebut.

Page 13: … former Republic of Indonesia and Malaysia was less than two miles wide at its narrowest, barely dividing Malaysian’s authoritarian society from the anarchy that Indonesia had sunk into after.

Page 19: … China-US exercise to help bring order to the waters around the former Republic Indonesia are sign of our future together will be a strong one, “said General Wu

Page 29: … interference in our interest in Transjordan , Venezuela, Sudan, the Emirates, and the former Indonesia.

Page 62: … choice to covert Chinese “risks-elimination” strikes in Africa and the former Republic of Indonesia.

Page 119: … death and more like one of those ramshackle floating tidal towns off what used to be Indonesia,

Coba saja perhatikan sedikit cuplikan yang diberikan oleh amazon pada novel tersebut untuk negara kita, Indonesia: The former Republic Indonesia, The former Indonesia, used to be Indonesia.

Karena saya tidak punya amazon kindle ataupun dana untuk membeli buku aslinya di amazon, saya sangat-sangat terganggu bagaimana kedua pengarang ini mengisahkan Indonesia.

Apalagi seorang mantan panglima tertinggi.

Novel Ghost Fleet pun tidak dibuat dengan angan-angan semata, tetapi juga berdasarkan fakta-fakta yang dapat ditemukan dalam EndNote.

Penulis telah melakukan kajian tentang kisah yang akan mereka angkat dengan agar pembaca betul-betul merasakan jalan cerita atau plot yang mereka buat.

Dengan riset yang dilakukan oleh para penulis dan juga alur cerita yang sangat nyata, rasanya tidak salah kalau seorang Prabowo Subianto, yang dibilang Gusdur sebagai orang paling ikhlas di Republik ini, menjadi tidak tenang.

Jadi salahkah kalau akhirnya secara politis novel Ghost Fleet yang berisi data-data riset yang digunakan oleh pengarang membuat ketua umum Gerindra merasa perlu menyampaikan peringatan bagi warga Negara Kesatuan Republik Indonesia?

Menurut saya sah-sah saja.

Saya malah bertanya-tanya apa yang didapat oleh pak Jokowi yang membaca novel Ghost Fleet? Mungkinkah kesimpulannya sama?

Advertisements

The Campaign (2012) dan Pemilihan Umum Presiden Republik Indonesia 2014; Sebuah Catatan

Pemilihan umum presiden Republik Indonesia 2014 akan berlangsung di bulan Juli nanti. Berbeda dengan pemilu sebelumnya dimana ada banyak kandidat presiden, pada pemilihan presiden dan wakil presiden kali ini hanya ada dua pasang calon yang berlomba dalam memaparkan visi dan misi mereka untuk Indonesia dalam 5 tahun kedepan.

Dua pasang calon kandidat presiden dan wakil presiden akan bertarung dalam pemilihan umum presiden 2014. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan sebagai pemenang pemilu dengan mitra koalisinya mengusung Gubernur Jakarta, Joko Widodo dan mantan wakil presiden Muhammad Jusuf Kalla. Sedangkan Prabowo Subianto menggandeng Hatta Rajasa untuk menjadi wakilnya dalam ajang pilpres kali ini. Partai Golkar yang akan mengusung pengusaha Abu Rizal Bakrie untuk menjadi presiden ternyata merapat ke poros Prabowo-Hatta, sedangkan partai Demokrat bersikap diam menunggu wangsit. Tidak ada calon alternative menjadikan pemilihan umum presiden 2014 sebuah ajang yang kurang menarik (setidaknya bagi saya). Continue reading “The Campaign (2012) dan Pemilihan Umum Presiden Republik Indonesia 2014; Sebuah Catatan”