Ta’aruf Politik Untuk Pemimpin Indonesia 2014-2019

Ketika di kampus saya mengikuti kegiatan kemahasiswaan di lembaga yang bernama Forum Kajian Pengembangan Wawasan Islam. Disanalah pertama kali saya mendengar kata Ta’aruf ini. Dalam Bahasa Indonesia Taaruf berarti perkenalan hingga ada sebuah ungkapan tak kenal maka ta’aruf.

Mungkin karena kebanyakan rekan-rekan yang mengkaji keislaman identik dengan bahasa Arab, maka ta’aruf kemudian menjadi sebuah identitas bahasa. Jika hari minggu kemarin kata ta’aruf dikaitkan dengan pengenalan kepada calon pendamping dan keluarganya, maka saya mencoba untuk berbagi di momen pemilu presiden sekarang untuk ta’aruf dengan para calon presiden dan wakil presiden kita. Ta’aruf dalam konteks ini bukan lagi hanya kenal pada sosok calon presiden dan calon wakil presiden tapi juga memahami karakter dan tekad mereka untuk memimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Pada pemilu kali ini hanya ada dua pasang calon presiden dan calon wakil presiden. Pertama tentu saja Bapak Jokowi, Gubernur DKI Jakarta yang diberi mandat oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dengan calon wakil presidennya yang beberapa hari lalu akhirnya diputuskan Bapak Muhammad Jusuf Kalla, mantan wakil presiden di tahun 2004-2009. Pasangan kedua adalah Bapak Prabowo Subiakto, mantan Komandan Kopassus, dan Bapak Hatta Rajasa, mantan menteri koordinator perekomomian 2009-2014. Bagaimana kita ta’aruf dengan beliau-beliau ini?

Di era sosial media sekarang, para kandidat calon presiden dan calon wakil presiden masing-masing mempunyai akun di dunia sosial. Media sosial yang paling banyak digunakan oleh para politisi adalah twitter dan kebetulan masing-masing kandidat mempunyai akun di situs tersebut. Para kandidat tentu sering menulis status di akun sosial twitternya masing-masing, maka mari kita stalking akun-akun mereka. Mari kita lihat pendapat mereka pada sebuah momen dan sikap mereka terhadap sebuah peristiwa, mari kita lihat bagaimana pola sikap mereka yang tergambar dalam setiap tweet.

Untuk Bapak Jokowi beliau telah mendapat banyak kesempatan di media mainstream seperti koran, dan televisi. Mungkin hampir setiap kesempatan selalu ada berita mengenai beliau dan umumnya berita itu bernada positif. Contohnya betapa beliau begitu peduli kepada rakyat kecil hingga kampung-kampung dan pasar-pasar tradisional di kunjungi oleh Beliau selalu mendapat sorotan media mainstream. Jokowi (panggilan akrabnya Joko Widodo) disebut sebagai media darling. Statusnya sebagai media darling saat ini menjadi bumerang bagi dirinya sendiri dan juga tim sukses. Netizen seakan kaget betapa banyaknya sikap dan perkataan Jokowi yang bertolak belakang saat ini. Contohnya jika saat bertarung dalam pemilihan kepala daerah DKI Jakarta ada isu yang menyatakan bahwa ia hanya akan menjadikan Pemilu DKI Jakarta sebagai batu loncatan untuk jabatan lebih tinggi, mantan Walikota Solo ini langsung membantah isu tersebut. Namun sekarang publik di media-media sosial melihat kalau Jokowi berkata dan bersikap tidak sesuai.

Bapak Jusuf Kalla yang menjadi wakil calon presiden bukan sebuah kejutan lagi menurut saya. Dalam beberapa kali menjadi juru kampanye PDI-P, media mengutip perkataan Jokowi bahwa tanpa JK ia hanya menjadi OOWI. Mungkin bagi sebagian orang perkataan tersebut hanya sebuah lelucon saat kampanye belaka. Tapi beberapa orang telah melihat indikasi siapa pasangan calon presiden dari PDI-P tersebut.

Bagaimana dengan Calon Presiden Bapak Prabowo Subiakto? Sejarahnya sebagai seorang komandan Korps Pasukan Khusus (KOPASUS) dan juga disebut-sebut sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap tragedi TRISAKTI adalah “aib”. Ada trauma di dalam masyarakat apalagi bagi keluarga para korban tragedi TRISAKTI bahwa rezim otoriter akan kembali di NKRI. Prabowo bahkan digambarkan oleh akun intel, yang selalu mungkir janji, sebagai seorang diktator bertangan besi. Namun hal yang menarik kemudian terlihat bagaimana Prabowo bisa meyakinkan partai-partai Islam dan partai dengan basis massa Islam untuk mendukungnya sebagai calon Presiden. Partai Keadilan Sejahtera, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Amanat Nasional adalah partai-partai yang saya maksud. Prabowo memang mempunyai sejarah kelam namun ia telah menerima hukumannya yaitu dipecat secara tidak hormat dari dinas ketentaraan.

Prabowo-Hatta hadir dalam kontroversi. Dibeberapa media online disebut bahwa Prabowo telah menunjuk ketua PAN sekaligus menteri koordinator perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu jilid dua tanpa berkonsultasi dulu dengan partai-partai pendukungnya. Polemik pemilihan calon wakil presiden pun mereda dan Prabowo dan Hatta pun di deklarasikan oleh “koalisi partai politik Islam”.

Saya sendiri menginginkan kalau ada pasangan ketiga selain pasangan Jokowi-Jusuf Kalla dan Prabowo-Hatta. Namun deadlock antara Partai Golkar dan Partai Demokrat dalam memutuskan untuk berkoalisi seakan membuat pemilu kali ini akan lebih kompetitif dan mungkin akan menghemat biaya negara. Partai Golkar akhirnya terpecah antara mendukung Prabowo-Hatta dengan Jokowi-JK.

 

Advertisements

One Reply to “Ta’aruf Politik Untuk Pemimpin Indonesia 2014-2019”

  1. Ping-balik: Hingar Bingar Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia 2014-2019 | PencariCerah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *