Surat Widad Asfoura kepada Pemimpin Brigade Al Qassam, Muhammad Dheif

Lazada Malaysia

Teruntuk belahan jiwaku dan penyejuk mata.

Kepada Pemimpin Bangsa yang dijarimanisnya melingkar pasangan dari cincinku. Kepada “Dheif” Aku beruntung saat bersamamu dan denganmu aku merasakan indahnya hidup setelah menangis bertahun-tahun.

Inilah pertamakalinya dalam sejarah ketika sebuah kisah cinta dikisahkan saat pelakunya meregang nyawa, dan betapa beruntungnya aku karena akulah wanita yang menukar jiwanya untuk menyelamatkan sang kekasih agar ia terus memimpin pasukannya dan terus mengembangkan persenjataan mereka.

Hari ini, namaku dan namamu, Muhammad Diab Al Dheif, akan diumumkan kepada khalayak, berdampingan agar dunia mendengar dan mereka akan menghamparkan karpet merah kepada kita. Bintang sejati tidaklah terdapat dilangit melainkan “bersemayam” di terowongan-terowongan. Hingga tiba waktunya saat mereka menemukan cahaya dan masyarakat dunia melihat keindahan dari kilauannya.

Aku tahu kau sedang tergesa karena terbatasnya waktu dan ketidakpastian dalam hari-hari yang mencekam ini, tetapi istrimu yang anggun, pendiam, dan teguh ini merindukan “musuh terbesar dari musuh terbesar kita” mendengarkan perkataan si pemilik Widad. Bukankah aku juga salah seorang dari “tentara” anonimmu, Brigade Al Qassam?

Kemarilah dan duduklah disampingku sebentar dengan pakaian tentaramu untuk yang terakhir kalinya. Engkau terlihat lebih gagah dengan pakaian tentara daripada kemeja putih dan dasi merah seperti yang dipakai oleh para politisi dan orang-orang terkenal. Biarkan wangi “keringat pertempuran” memancar dari dirimu. Wewangian dengan merek “Dheif”. Biarkan aroma wewangian Prancis dan bunga jasmin memudar saat dibandingkan.

Aku adalah wanita yang sangat menjaga diri sejak kecil dan kakak perempuanku, Eman yang umurnya setahun lebih tua dariku, “bayangan jiwaku”, dan yang paling dekat denganku dari keempat saudariku, selalu menggodaku karenanya. Bahkan hingga kami beranjak dewasa ia selalu mengingatkanku saat kami pergi sekolah bersama dan akan menyebrang jalan. Jika aku melihat mobil akan melintas diujung jalan aku akan berhenti hingga mobil tersebut benar-benar hilang diujung jalan yang lain. Dan Eman akan berteriak padaku, ” Santai saja Widad! Aku akan meninggalkanmu karena bel masuk akan berbunyi.”

Aku selalu mengagumi cara hidup “agamis” abangku Ibrahim. Aku sangat dipengaruhi olehnya dan selalu patuh kepadanya seperti ia adalah ayah. Aku ingat ketika ia akan ujian akhir di sekolah; Aku membangunkannya saat subuh agar ia bisa belajar. Ibuku yang sinar di wajahnya hanya akan ditandingi oleh cerahnya mentari selalu berkata, “Aku hanya akan menikahkan putriku pada salah satu tentara Brigade Al Qassam”. Saat aku remaja, ibu memberiku sebuah lencana pembeda ketika ia meyakinkanku bahwa aku berbeda dengan saudari-saudariku yang lain; dalam menghafal Al Quran akulah yang paling tajam diantara mereka, aku yang paling toleran, dan mau mengalah walaupun pendapatku benar.

Aku sangat mencintaimu Ibu ketika engkau mengisahkan pernikahanku dengan Muhammad Al Dheif , karena caramu mengisahkan yang diikuti  tawa bangga bukanlah “kebanggaan yang dibuat-buat.” Enam tahun yang lalu kita duduk bersama beberapa orang wanita dan mengobrol hingga salah seorang wanita tersebut mengatakan istri lelaki ini belum dikaruniai anak saat itu. Walau pun beragam pengobatan telah dilakukannya tidak ada yang berhasil, laki-laki tersebut tetap tegas menolak untuk menikah dengan wanita lain meskipun mempunyai alasan untuk itu. Desakan dari orang-orang terdekatnya semakin kuat agar ia mempunyai keturunan laki-laki untuk melanjutkan namanya. Saat itu Ibuku menjawab tiba-tiba, “Jika ia melamar putriku aku akan menyetujui. Hal ini adalah sebuah kebanggaan bagi kami.” Perkataan Ibu disampaikan pada lelaki itu dan beberapa hari kemudian ia datang untuk melamarku.

Aku suka perkataanmu Ibu, “Aku yang memintanya untuk menikahi putriku, bukan sebaliknya,” dan aku lebih menyukai pandanganmu Ibu yang engkau sampaikan dengan ungkapan umum yang mengacu pada keadaan sebenarnya, menikahi lelaki sejati walaupun menemui onak duri adalah lebih baik daripada menikahi lelaki yang berakhlak.

Dalam jiwaku ada dua pejuang Qassam dan diantara keduanya hatiku menjadi peta bagi negeri yang dijajah. Hati ini tidak akan bisa dimengerti oleh wanita yang diberikan kemewahan menjalankan kehidupan yang biasa. Hati ini tidak patah karena perpisahan, walaupun dijalani dengan kesedihan dan keletihan. Pembuluh hati ini yang pertama adalah Bilal Qasi’a dan betapa sulitnya bagi seorang wanita muda, aku menikah diumur 16 tahun, memahami dan menerima kenyataan bahwa cinta pertamanya tidak lagi mendampingi setelah menjalani hidup bersama selama 3 tahun.

Kebaikan Bilal seperti air terjung yang membenam dalam hatiku. Beberapa hari sebelum kesyahidannya, ia membawaku ke pasar dan membelikan aku dan anak-anak, Bakr dan Banan, beberapa pakaian baru. Pada hari itu ia mengatakan padaku bahwa aku sedang hamil, walaupun hasil tes kehamilan negatif, dan perkataannya menjadi nyata, aku sedang mengandung putri kami Banan.

Setelah Bilal syahid selama tiga tahun aku hancur; aku seringkali menangis hingga keluargaku menjadi cemas dengan keadaanku. Saat aku ketakutan berdiri disamping tubuhnya aku tidak berdoa, “Ya Allah, Berilah ganjaran atas penderitaanku dan berikan pengganti yang lebih baik sebagai ganti yang telah lalu.” Perkataanku waktu itu adalah perkataan Ummu Salama, janda sahabat nabi Muhammad S.A.W. yang berpikir tidak ada yang lebih baik daripada suaminya yang telah meninggal namun kemudian nabi Muhammad S.A.W. menikahinya. Dan aku berkata, “Adakah yang lebih  baik daripada Bilal?” Ditengah desakan aku berkata pada diriku sendiri Muhammad Dheif adalah takdirku yang paling baik setelah tiga tahun aku menolak untuk menikah lagi. Saat itu Ibu berkata, “Widad telah menemukan sebongkah emas diujung pelangi.”

Engkau mencari janda yang memiliki anak dan permintaanku hanya satu, Abu Khalid, yaitu  anakku tetap bersamaku dan kita pun mencapai kata sepakat atas hal tersebut. Aku tidak menyangkal bahwa sulit dan dilema bagiku sebelum menyetujui untuk menikah denganmu. Aku takut pernikahanku denganmu menjadi sebuah penghianatan terhadap Bilal dan aku takut tragedi yang sama akan terjadi lagi dan anak-anaku kembali kehilangan ayah dan menjadi yatim. Aku bahkan takut jika aku syahid dan meninggalkan anak-anakku tanpa ibu. Aku bermimpi tentang Bilal dan aku menemukan jawabannya.

Peristiwa itu seperti mimpi, dan Demi Allah, mimpi itu menjadi nyata dalam beberapa jam kemudian. Pada tahun 2008, aku pernah berkata kepada Eman setelah menikah, “Aku telah mendengar berbagai hal tentang dia tetapi aku tidak pernah menyangka bahwa mimpi itu berbeda saat hidup bersamanya. Jika aku mempunyai waktu beberapa hari saja hidup bersamanya, itu lebih dari cukup untuk seumur hidup.” Penjajah berkata, “Al Dheif menikah terburu-buru karena ia ‘mandul’. Dia bukan bagian dari terorisme, terorisme adalah bagian darinya,” aku kemudian menjawab dengan senyum sinis, “Musnahlah karena kemarahanmu”.

Engkau membuat Israel menjadi gila karena memperlihatkan aksi-aksimu kepada mereka daripada memperlihatkan wajahmu. Usaha mereka untuk membunuhmu telah gagal dan setiap warga ingin melihat bayanganmu Pahlawanku, bahkan walaupun dari jauh. Namun hanya aku yang tahu warna matamu, goresan di wajahmu, berapa tinggi badanmu, berapa banyak gula yang diseduh dalam tehmu, dan bagaimana bentuk sikat gigimu. Hanya aku yang mengetahui kebiasaan-kebiasaan rahasiamu seakan-akan Allah menciptakanku pasangan “pas” untuk seorang legenda sepertimu. Setiap orang tahu aku jauh dari keingintahuan orang dan aku sangat tertutup tentang kehidupan pribadiku.

Rumah kita tidak mempunyai satu alamat tetap; alamat kita selalu dikelilingi pembatas keamanan. Tidak seorang pun tahu aku adalah istri dari seorang buronan nomor satu kecuali mereka yang sangat dekat denganku. Saat berita itu menyebar saudara-saudara orang tuaku membentak mereka, “kalian tidak menandatangani akta nikahnya, tetapi kalian menandatangai akta kematian dirinya.” Dan aku juga mempersiapkan jawaban “kesamaan nama” untuk orang-orang yang memperhatikan dokumen-dokumen dari anak-anakku.

Dalam kisah kita sang pahlawan tidak pernah diizinkan untuk berjalan santai, mengunjungi sanak famili, atau bahkan menelpon dengan tenang. Bahkan lautan pun tak percaya ia pernah melihat kita, tak sekalipun, berjalan-jalan dengan kaki telanjang menyusuri tepiannya seperti yang dilakukan oleh orang lain. Engkau adalah yang terbaik dalam menghapus setiap jejak kita.

Semua yang aku lakukan adalah untuk membuat engkau senang denganku, dan aku merasakan kenyamananmu di pakaianmu dan makananmu. Khususnya saat aku membuat makanan yang kau suka. Ucapan ibumu selalu terngiang di telingaku, “Aku melihat kebaikan dalam dirinya nak.”

Aku masih mengingat ekspresi di wajahmu di situasi yang mempunyai pengaruh besar dalam hidupku di awal-awal pernikahan kita: Engkau memberikan pelajaran padaku tentang taqdir dan keimanan. Engkau berkata,” Widad, hari-hariku bersamamu mungkin bisa dihitung atau Allah menakdirkan aku untuk hidup berpuluh-puluh tahun. Contohnya Khalid bin Walid r.a. yang berperang melawan musuh namun wafat di atas tempat tidur. Bagaimanapun jua cita-citaku adalah syahid.”

(to be continued.. maaf mata sudah ga kuat. Insya Allah besok disambung lagi)

Sejak hari pertama kita bersama hidupku berubah. Aku seperti burung bulbul yang berkicau tentang kehidupan tanpa merasakan perbedaan umur diantara kita. Aku seperti terbang ketika engkau mengirimkan pesan, dalam caramu yang rahasia, untuk bertemu ditempat yang engkau tentukan. Kejutan terbaik untukku adalah menemukanmu disana; engkaulah hadiah terbaik dan engkau tidak pernah menolak permintaanku. Jika aku melakukan sesuatu yang tidak kau sukai, engkau akan meluruskan aku dengan caramu yang paling lembut.

Aku akan menyampaikan padamu dengan suaraku dan berkata, “Aku tidak dapat membayangkan engkau lebih dulu syahid daripada diriku. Aku tidak dapat menanggung kepedihan tragedi itu lagi. Muhammad, Aku mengatakan hal ini dengan jujur dan kehangatan, ” Aku rela berkorban untukmu, pemimpinku.”

Aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri tentang keluhuran dan kedermawanan yang engkau miliki yang membuatmu mengalahkan perasaan posesif dan mungkin kecemburuan ketika aku bercerita tentang kehidupan rumah tanggaku sebelumnya dengan Bilal. Engkau bahkan memanggilku dengan nama Ummi Bakar sebagai penghormatan atas fase kehidupanku tersebut, dan engkau selalu menanyakan kabar keluarga Bilal. Aku selalu tersenyum mengingat Ibu mertuaku, Ummi Bilal, yang menasehati agar tidak menceritakan kehidupanku sebelumnya didepanmu, Abu Khalid, karena khawatir engkau akan cemburu. Tapi aku akan menjawab, “Apa yang engkau katakan Bibi? Dialah yang selalu mengawali percakapan tentang ini, dan ia memastikan bahwa ia menyayangi anak-anakku dengan Abu Bakar.”

Terkadang aku kagum dengan pria yang membuat keseimbangan dalam perang dengan Israel juga mempunyai sifat romantis. Suatu waktu aku dikagetkan olehmu yang membelikan banyak baju baru untuk diriku, Umar, Ali, Halimah, dan Sarah. Waktu itu aku berpikir untuk menyedekahkan sebagian baju tersebut tapi aku berkata, ” Aku tidak bisa melakukan hal ini karena baju-baju ini adalah hadiah yang mengingatkanku pada dirimu.”Aku selalu kagum melihat pemimpin sebuah pasukan yang menguasai daratan, laut, dan udara menikmati bermain dengan anak-anaknya khususnya dengan anak yang paling ia senangi, si bungsu Ali, dan aku menjadi semakin kagum dengan perhatianmu pada mereka, bahkan ketika memintaku menutup jendela agar angin tidak menyakiti mereka.

Kita tidak pernah berkesempatan untuk mempunyai foto keluarga. Ada beberapa foto yang disebar dan digunakan oleh Zionis Israel yang tetap mencoba membayangkan seperti apa wajahmu. Jauh dari peralatan komunikasi moderen tidak membuatku kecewa, tidak ada hape, facebook atau peralatan apapun yang terlewat dari “obsesi keamananmu.” Kau tidak pernah mempedulikan paras ataupun eloknya penampilan. Rendah hati, sabar, kerahasiaan dan kekuatan adalah “Empat keutamaan Dheif” dimana aku belajar tentang darimu.

Ketika kami berada di perkumpulan wanita aku begitu pendiam hingga kakakku Eman selalu menggodaku, ” Wahai Widad, jika engkau bersumpah dihadapan mereka dan mengatakan engkau adalah istri Al Dheif, mereka tidak akan mempercayaimu.”

Semua orang bertanya-tanya seperti apa “bab terakhir” kisah ini. Sementara dentuman perang berbunyi, kita mengalami waktu-waktu yang sulit, dan sungguh aku saksikan Abu Khalid khawatir akan keselamatan para penduduk. Kabar yang membuat Muhammad sangat pilu adalah kabar tentang seorang wanita tua yang menjadi buta setelah rumahnya menjadi target Zionis Israel, dan semua putranya syahid tanpa ia ketahui.

Dalam gencatan senjata pertama aku mendapat kabar bahwa Bayan, putri bungsuku, menangis saat ia tinggal bersama dengan kakaknya Bakar dan Banan di rumah nenek mereka. Saat kakaknya bertanya kenapa ia menangis, Bayan menjawab, “Pesawat-pesawat itu menjatuhkan bom dan aku takut Ibu syahid seperti Ayah.” Aku segera ke tempat dia dan aku memakai jilbab hijau yang baru, mungkin aku memakai seragam untuk menjemput “kesyahidanku”. Dan seperti biasa Eman menggodaku, “Pakai warna hitam seperti biasa saja, Ummi Bakar”.

Aku sangat merindukan anak-anakku saat gencatan senjata terakhir diberlakukan, dan aku berkata pada mereka, Insya Allah aku akan mengunjungi mereka “esok hari” didasari pada informasi yang tersiar tentang gencatan senjata. Aku memenuhi janjiku dan menemui mereka “diangkat oleh bahu masyarakat” setelah penjajah melanggar gencatan senjata yang disepakati secara sepihak dalam usaha mereka untuk membunuh target utama mereka. Sangat ironis ketika yang menyampaikan kabar duka cita adalah keluarga Bilal dan Muhammad, itulah momen pertama kedua keluarga bertemu.

Iman, aku tahu betapa sulitnya bagimu untuk mendengar rumah keluarga Al Dalou menjadi target di Gaza dan engkau melihat Umar mencari seseorang yang ia kenali, tetapi engkau tidak mampu untuk bertanya pada orang-orang untuk mendapatkan kepastian karena alasan keamanan, dan oleh karena itu engkau harus menunggu kabar dari media untuk memastikan kabar itu. Iman, aku tahu sulit bagimu untuk melihat Halima mengumpulkan buah-buahan dan balon untuk membuat  surga darinya. Surga dimana Ibunya akan pergi. Akan lebih sulit lagi saat engkau memberitahu Bakar dan saudaranya bahwa aku tidak lagi bersama mereka tetapi mereka akan mengetahuinya melalui air matamu. Aku tahu akan lebih sulit untuk anak yang masih kecil seperti Banan yang akan berdiri disamping mayatku dan berdoa, ” Ya Allah karuniakanlah pada Ibu dan Ayahku surga firdaus.”

Beberapa saat sebelum pesawat tempur melepaskan tembakannya, aku sangat bahagia. Aku sedang meminum kopi dan berbicara mengenai anak-anakku dan tingkah mereka. Umar sempat menyelamatkan diri bersama Halimah, tetapi Ali, Sarah, dan aku menjemput takdir yang ditetapkan.

Aku bisa melihat kesedihan dalam air matamu, Muhammad Al Dheif, saat kau mengenang masa lalu kita dan momen-momen kebersamaan kita yang tidak ada yang tahu kecuali Allah. Menangislah, Muhammad Al Dheif, jangan kau tahan air matamu. Usaplah pelatuk senjatamu dengannya. Air mata karena pembantaian tidak akan melemahkan lelaki, air mata akan membuatnya semakin kokoh dan menyalakan apinya. Sedihlah tapi aku mohon janganlah bersedih hati terlalu lama. Dan janganlah menyalahkan bulan Agustus dimana kekasihmu Widad terkena rudal bersama darah dagingmu Ali dan Sarah. Engkau tahu bahwa aku mencintai bulan Agustus karena bulan ini pemuda-pemuda gagah sepertimu dilahirkan untuk mempimpin orang-orang yang membuktikan janjinya kepada Tuhan mereka.

Surat Istri Muhammad Al Dheif dalam bahasa Inggris 

Advertisements

2 Balasan untuk “Surat Widad Asfoura kepada Pemimpin Brigade Al Qassam, Muhammad Dheif”

  1. Ping-balik: A Letter from Al Qassam’s Leader Wife, Widad Asfoura, to Her Beloved | PencariCerah
  2. Ping-balik: Palestina Dan Alam Pemikiran Pemuda Muslim Saat Ini | PencariCerah

Tinggalkan Balasan