Sunni atau Syiah: Berawal dari "Oohh..Jokowi itu …"

Saya merasa bingung harus memberikan judul apa untuk tulisan kali ini. Saya mengangkat tulisan ini ke blog untuk mengklarifikasi berita dan sikap saya kepada beberapa komentar yang diberikan sahabat dan saudara pada akun facebook saya. Status yang membuat saya cukup sibuk dan merenung karena momennya adalah pemilihan kepala negara dan kepala pemerintahan yang dipenuhi polemik. Saya kebetulan sebagai warga negara menentang perjalanan Bapak Joko Widodo untuk menjadi Presiden. Salah satu alasannya adalah sebuah pernyataan dari seorang penggiat Syiah bahwa beliau adalah salah satu bagian dari Syiah di Indonesia.

Pernyataan dari salah seorang penggiat Syiah yang saya temukan di situs kompasiana yang kemudian saya posting di facebook inilah yang menyulut perdebatan dengan sahabat dan saudara saya. Seorang teman menyatakan bahwa saya telah memfitnah beliau. Teman saya menasehati kalau saya tidak menyenangi seseorang janganlah sampai memfitnah orang tersebut. Berita mengenai Jokowi di dunia maya memang penuh dengan pro dan kontra. Apalagi dalam momen pemilu yang terkadang kesantunan dipinggirkan untuk kemenangan kandidat yang diusung.

Jujur saja tulisan mengenai Jokowi sebagai seorang Syiah menyalakan alarm di otak saya dan karena itu saya mencoba untuk memperingatkan keluarga dekat saya dalam hal ini saudara dan teman yang terhubung di situs facebook. Anggapan saya adalah tulisan itu benar adanya dan jika melihat facebook penggiat Syiah itu sendiri saya merasakan kebenciannya terhadap kaum sunni di Indonesia (atau mungkin dunia).

Saya pun baru mengetahui bahwa empat imam mahdzab yang berkembang di Indonesia menyatakan bahwa Syiah bukan bagian dari Islam.

Teman saya pun bertanya mengenai Wahabi dan Ikhwanul Muslimin, apakah mereka termasuk golongan Sunni atau Syiah. Mungkin teman saya ini masih belum tahu perbedaan antara sunni dan syiah. Dengan segala keterbatasan saya mencoba untuk menjelaskan secara ringkas. Kelompok sunni adalah kelompok umat Islam yang mengikuti sunnah Rasulullah S.A.W. dan ketetapan sahabat ra. yang mulia. Sedangkan Syiah adalah kelompok yang menentang ketetapan sahabat apalagi Abu Bakar, Umar bin Khatab, dan Utsman bin Affan tidak hanya itu kelompok syiah ini juga menghina Ummul Mukmini Aisyah r.a. dan Hafsah. Kelompok Sunni tidak membeda-bedakan sahabat Rasulullah sedangkan Syiah mereka mempunyai anggapan bahwa hampir seluruh sahabat nabi telah menyimpang terhadap ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad S.A.W. dengan alasan yang sederhana yaitu kelompok Syiah percaya bahwa setelah Rasulullah wafat yang menggantikan beliau seharusnya Ali bin Abi Thalib.

Dengan memahami perbedaan antara kelompok Sunni dan Syiah tersebut maka saya menjawab pertanyaan sahabat saya tadi bahwa baik Wahabi maupun Ikhwanul Muslimin keduanya adalah kelompok Sunni yaitu kelompok umat Islam yang mengikuti sunnah dari nabi Muhammad S.A.W. dan ketetapan dari sahabat beliau yang mulia walaupun pada keduanya ada perbedaan dalam metode penerapan.

Teman saya pun mengambil sebuah kesimpulan bahwa sebaiknya saya tidak terjebak dalam pengelompokan dan sikap paling benar atas kelompok yang lain karena musuh-musuh Islam akan tertawa atas pertikaian ini. Apa yang ia nyatakan adalah benar adanya, namun jika sahabat saya itu mencoba untuk mengambil sedikit waktu untuk mempelajari antara kelompok Sunni dan Syiah saya berharap ia memilih untuk menjadi seorang Sunni.

Terakhir, tuduhan saya kepada Bapak Joko Widodo sangat serius dan mungkin berdampak kepada beliau dan orang-orang di sekitar beliau. Oleh karena itu saya mohon maaf kepada beliau jika tuduhan ini tidak benar dan saya mohon ampun kepada Allah Yang Maha Pengampun atas tulisan saya tersebut.

Advertisements

2 Replies to “Sunni atau Syiah: Berawal dari "Oohh..Jokowi itu …"”

  1. Ping-balik: The Campaign (2012) dan Pemilihan Umum Presiden Republik Indonesia 2014; Sebuah Catatan | PencariCerah
  2. Ping-balik: Hingar Bingar Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia 2014-2019 | PencariCerah

Tinggalkan Balasan