Suara Hati Pekerja Jakarta

Maaf kali ini saya tidak akan berbicara mengenai sastra inggris.

Jakarta kali ini telah membuktikan bahwa ia perlu sebuah perubahan besar-besaran. Hari ini saya harus menempuh waktu tiga jam lebih untuk ke kantor. Melelahkan.

Beberapa kali juga saya harus mematikan mesin motor ditengah kemacetan untuk menjaga bensin yang akhirnya saya harus mengisinya dengan shell. Kantor saya berada di Jakarta Selatan dan saya tinggal saat ini di daerah pinggirannya. Dalam waktu normal (maksud saya tanpa hujan) jarak tempuh saya ke kantor hanya sekitar 30 menit atau kalau memang macet sangat parah hanya satu jam.

Hujan menjadi kambing hitam kejadian hari ini. Tapi saya berpikir bukankah setiap tahun banjir melanda? Tidak adakah sebuah tindakan pasti dari penguasa Jakarta? Sumur-sumur resapan yang diharapkan mengurangi genangan air malah seperti tidak berfungsi. Padahal anggaran untuk sumur-sumur resapan di Jakarta tidak main-main jumlahnya.

Saya mengambil keputusan untuk hijrah dari ibukota ini. Banjir dan Kemacetan adalah alasan utama saya. Karena dua kondisi tersebut bisa membuat seseorang selain tua dijalan juga energinya terbuang sia-sia, belum lagi semangat tinggi untuk berkarya di perusahaan menjadi hilang karena kelamaan dan capek dijalan.

Sang Gubernur memang telah berusaha namun sepertinya hasilnya kurang memuaskan. Tanggung jawab memang bukan sepenuhnya di Gubernur karena ada kepala pemerintahan daerah yang lebih mengetahui Jakarta. Kenapa tidak diinstruksikan kepada kepala-kepala daerah tersebut untuk bertanggung jawab terhadap warga dan masyarakatnya. Program yang disusun Gubernur untuk menanggulangi kemacetan harus dilaksanan.

Maaf sekali lagi jika tulisan kali ini tidak sesuai dengan keinginan.  

Advertisements

Tinggalkan Balasan