About these ads

Sitok Srengenge Akhirnya Menjadi Tersangka Kekerasan Seksual

Berita tentang Sitok Srengenge mungkin tidak akan menjadi headline bagi media-media besar, karena kasus ini menyeret seorang tokoh seniman yang berafiliasi pada organisasi yang di-“lindungi”. Saya mengapresiasi lembaga kemahasiswaan Universitas Indonesia yang dengan gigih melindungi korban (yang juga merupakan mahasiswa UI) dan mengupayakan agar pelaku kekerasan seksual ini menghadapi hukuman atas perbuatannya yang merugikan korban. Pekerjaan Rumah bagi para civitas akademik Universitas Indonesia tentu tidak hanya sampai dalam membuat pelaku kekerasan seksual ini menjadi tersangka tapi terus berlanjut hingga pengadilan menetapkan hukuman setimpal atas perbuatan yang telah dilakukannya.

Kasus ini berawal dari laporan korban RW kepada Polda Metro Jaya akhir November tahun lalu. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombespol Rikwanto mengatakan pelaporan itu bermula ketika RW bertemu dengan terlapor pada acara Festival Kreatif di FIB UI. Saat itu, korban menjadi panitia acara, sedangkan terlapor menjadi salah satu juri di kegiatan kampus itu.

Pada Maret 2013, terlapor menghubungi RW untuk bertemu di Kompleks Salihara, Pejaten, Jakarta Selatan. Namun, terlapor meminta korban untuk datang ke rumah indekosnya terlebih dahulu.

“Setelah itu, terlapor memaksa pelapor masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Di dalam kamar, menurut pengakuan pelapor, terlapor meraba, mencium kemudian menyetubuhi pelapor yang mengakibatkan hamil tujuh bulan,” tutur Rikwanto.Rikwanto mengatakan setelah korban hamil, terlapor tidak mau bertanggung jawab. Saat ditemui, terlapor selalu membentak-bentak dan berjanji akan bertanggung jawab. merdeka.com

Walaupun telah melaporkan tindak kejahatan seksual yang dialaminya, pelaku dengan memakai pengaruhnya berhasil memutarbalikkan fakta dan menyerang korban yang telah hamil akibat perbuatan bejatnya. Bahkan pihak kepolisian pun akan mengeluarkan SP3 atas kasus ini. Sepertinya dengan kemampuannya mengolah bahasa, pelaku yang juga seorang seniman liberal ini hampir berhasil mengelabui pihak kepolisian. Alasan polisi yang akan menghentikan Surat Perintah Penghentian Perkara (SP3) adalah tidak adanya alat bukti untuk menjerat Sitok. Pengacara korban bersikukuh bahwa untuk menolak penghentian perkara sembari mengumpulkan bukti-bukti. Berkat kerja keras semua pihak akhirnya seperti yang telah saya sampaikan diatas sang seniman bejat akhirnya menjadi tersangka!

Penetapan status tersangka seniman Sitok Srengenge disambut gembira oleh civitas Universitas Indonesia.

“Ternyata untuk kasus kekerasan seksual memang perlu dukungan institusi. Dengan diskusi yang kita lakukan beberapa waktu lalu membuahkan hasil berupa perubahan mindset penyidik,” kata Ketua Tim Kuasa Hukum RW dari Klinik Hukum Perempuan dan Anak FHUI Tien Handayani, Senin (6/10). Demikian dilansirROL.

Pemikiran penyidik yang selama ini berpatokan pada pidana konvensional kini berubah pada pola baru. Penyidik berpatokan pada pola pidana konvensional maka pelaku kekerasan seksual bisa bebas.

Dalam pidana konvensional maka harus dipenuhi bukti dan minimal dua orang saksi. Jika tidak terpenuhi unsur tersebut maka pelaku bisa dibebaskan dari tuduhan.

“Ini kekerasan kejahatan seksual. Kalau berpikir pada pidana konvensional, maka pelaku selalu lepas,” jelasnya.

Perubahan positif pada pola pikir penyidik dalam kasus RW, menurutnya, adalah pemikiran Dekan FHUI Topo Santoso. Ia menuturkan bahwa dari sisi hukum pidana ada teori otonomi yang bisa mempidanakan pelaku.

Penyidik hingga hakim dalam memproses dan memutuskan tidak harus dengan menikahi (pelaku dan korban). Tetapi, pelaku bisa dijerat pidana.

“Ini merupakan terobosan hukum. Pelaku kejahatan seksual harus bisa kena hukuman,” tegasnya.

Dengan begitu, sambung Tien, bisa dijadikan pelaku kejahatan seksual agar berfikir panjang sebelum bertindak. Diakui dia, terdapat pandangan bahwa untuk kasus seperti ini tidak dapat diperiksa. Bahwa kasus kekerasan seksual seperti ini tidak dilakukan berdasarkan tindakan suka sama suka dan bisa dipidanakan.

“Karena ini kekerasan, kejahatan seksual,” ujar Tien.

About these ads

Leave a Reply

%d bloggers like this: