Shalat Tarawih, Amalan Khusus di Bulan Ramadhan

Shalat Tarawih adalah amalan yang khusus karena hanya ada di Bulan Ramadhan. Tarawih dalam bahasa Arab berarti istirahat. Maka shalat tarawih berarti shalat yang dilakukan setelah beristirahat dari shalat empat rakaat. Biasanya shalat tarawih dilakukan setelah shalat isya. Di beberapa tempat di Indonesia shalat tarawih dilakukan setelah khutbah di Bulan Ramadhan.

Beda shalat Tarawih dan Shalat Tahajjud

Shalat tarawih yang dikerjakan di bulan Ramadhan berbeda dengan shalat tahajud atau qiyamu lail yang biasa dikerjakan di waktu hari lain. Jika shalat tahajjud dikerjakan setelah beristirahat atau dalam bahasa Al Quran dan hadist dikerjakan sepertiga malam, maka shalat tarawih tidak harus dilakukan setelah beristirahat. Seperti yang telah disebutkan dalam paragraf awal bahwa shalat tarawih bisa dilakukan setelah shalat isya.
Keutamaan shalat tarawih ini sangat banyak. Ada sekitar 30 keutamaan yang didapat seorang muslim yang melaksanakan shalat tarawih di bulan Ramadhan. Keutamaan shalat tarawih yang lain adalah pertama, seorang muslim akan diampuni dosanya yang lalu. “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759). Para ulama sepakat bahwa maksud dari qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih. Lebih lanjut An Nawawi menjelaskan bahwa shalat tarawih yang dilakukan oleh seorang muslim haruslah karena niatnya hanya karena mengharap ampunan Allah S.W.T bukan karena ingin dilihat orang atau tujuan lainnya. Sedangkan maksud dosa-dosa yang diampuni adalah Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah dikerjakan baik dosa itu berupa dosa kecil maupun dosa yang paling besar sekalipun.
Keutamaan kedua shalat tarawih adalah ia akan mendapat pahala qiyam satu malam penuh. Abu Dzar r.a. meriwayatkan hadist nabi berikut, “Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” Sebagian ulama berpendapat bahwa hadist tersebut berupa anjuran yang harus dilakukan kaum muslimin yang mengerjakan shalat tarawih secara berjamaah di Bulan Ramadhan. Di beberapa mesjid ada beberapa kaum muslimin yang hanya mengikuti imam hingga rakaat ke delapan lalu ia memisahkan diri dari jamaah yang melanjutkan shalat tarawih. Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh kaum muslimin terkait dengan fenomena tersebut. Alasan pertama adalah mereka lebih memilih pelaksaan shalat yang mengikuti rakaat yang dikerjakan nabi. Alasan kedua yang dikemukakan adalah mereka, makmum shalat tarawih 20 rakaat, tidak kuat jika harus mengikuti imam (hal ini khusus kepada pelaksanaan shalat tarawih 20 rakaat dengan membaca Al Quran 1 juz dalam satu malam). Terlepas dari alasan-alasan yang dikemukakan seperti pesan yang disampaikan dalam hadist ini sebaiknya kaum muslimin yang menjadi makmum mengikuti imam hingga shalat tarawih selesai dilakukan.
Keutamaan ketiga melakukan shalat tarawih adalah karena shalat tarawih adalah ibadah utama dalam Bulan Ramadhan. Pendapat ini banyak dipakai oleh ulama-ulama yang bermahzab pada Imam Hambali. Sungguh merugi jika shalat tarawih ditinggalkan karena ia hanya ada di Bulan Ramadhan, sedangkan sebagai manusia yang selalu diintai maut kita tidak mengetahui apakah kita akan mendapatkan kesempatan untuk melakukan amalan yang hanya khusus di Bulan Ramadhan ini pada tahun berikutnya.

 Pelaksanaan Shalat Tarawih di Indonesia

Shalat Tarawih 8 rakaat dan ditutup shalat Witir 3 rakaat

Pelaksanaan shalat tarawih selain berbeda kapan dilakukannya hal lain yang membuat ibadah khusus di Bulan Ramadhan ini menarik adalah jumlah rakaat yang dikerjakan. Ada beberapa mesjid yang mengerjakan shalat tarawih sebanyak 8 rakaat dan ada pula yang mengerjakan shalat tarawih sebanyak 20 rakaat. Perbedaan jumlah rakaat yang dikerjakan masing-masing mempunyai landasan syariah. Dalam beberapa hadist disebutkan bahwa nabi Muhammad S.A.W. mengerjakan shalat tarawih sebanyak delapan rakaat dan ditutup dengan tiga rakaat shalat Witir. Abu Salamah bin Abdirahman ra meriwayatkan dari jalur Aisyah r.a. bahwa Nabi SAW tidak pernah menambah jumlah rakaat dalam shalat malam di Bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 rakaat. Dalam kesempatan lain beliau r.a. meriwayatkan “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam keluar di tengah malam untuk melaksanakan shalat di masjid, orang-orang kemudian mengikuti beliau dan shalat di belakangnya. Pada waktu paginya orang-orang membicarakan kejadian tersebut. Kemudian pada malam berikutnya orang-orang yang berkumpul bertambah banyak lalu ikut shalat dengan beliau. Dan pada waktu paginya orang-orang kembali membicarakan kejadian tersebut. Kemudian pada malam yang ketiga orang-orang yang hadir di masjid semakin bertambah banyak lagi, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk shalat dan mereka shalat bersama beliau. Kemudian pada malam yang keempat, masjid sudah penuh dengan jama’ah hingga akhirnya beliau keluar hanya untuk shalat Shubuh. Setelah beliau selesai shalat Fajar, beliau menghadap kepada orang banyak membaca syahadat lalu bersabda: “Amma ba’du, sesungguhnya aku bukannya tidak tahu keberadaan kalian (semalam). Akan tetapi aku takut shalat tersebut akan diwajibkan atas kalian, sementara kalian tidak mampu.
Dari penuturan Ummul Mukminin Aisyah r.a. diatas dapat disimpulkan bahwa nabi di bulan Ramadhan shalat sebanyak 11 rakaat, shalat tarawih adalah shalat sunnah yang dilakukan di bulan Ramadhan yang dianjurkan untuk dilakukan (sunnah muakad). Pendapat ini mayoritas dipakai oleh para imam mahzab.

Shalat Tarawih 20 rakaat dan ditutup shalat Witir 3 rakaat

Sedangkan shalat tarawih yang dikerjakan sebanyak 20 rakaat dimulai pada zaman khalifah Umar bin Khatab. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengisahkan nabi Muhammad S.A.W. biasa shalat satu rakaat namun dengan bacaan yang panjang. Selepas nabi Muhammad S.A.W. wafat banyak yang merasa berat dengan shalat malam satu rakaat namun dengan bacaan yang panjang. Akhirnya Umar bin Khatab mengumpulkan sahabat membahas hal ini dan terciptalah ijma dengan memperbanyak rakaat shalat tarawih namun dengan bacaan yang tidak panjang. “Tatkala ‘Umar mengumpulkan manusia dan Ubay bin Ka’ab sebagai imam, dia melakukan shalat sebanyak 20 raka’at kemudian melaksanakan witir sebanyak tiga raka’at.”

Kesimpulan

Demikianlah pelaksanaan shalat tarawih sebagai amalan khusus yang hanya ada di bulan Ramadhan. Mengerjakan shalat tarawih dengan ikhlas karena mengharapkan ridha Allah semata akan menghapuskan dosa kecil dan dosa besar yang telah diperbuat di bulan-bulan sebelumnya. Pengerjaannya pun beragam namun yang patut diperhatikan adalah adanya dalil atas ibadah tersebut sehingga ibadah yang dilakukan di Bulan Ramadhan tidaklah sia-sia.

Wallahualam.

Sumber rujukan: facebook page al ukhuwah wal ishlah

Advertisements

Tinggalkan Balasan