Uncategorized

Sekolah Gratis, Adakah?

By: Nandang Burhanudin
*****

(1)
Saya dulu belajar di Pesantren PERSIS, gratis. Sebab dibiayai oleh Uwa saya hingga selesai.

(2)
Saya pun belajar di Al-Azhar gratis. Sebab Al-Azhar seluruh operasionalnya ditanggung infak seluruh negara Muslim.

(3)
Teman saya bisa belajar di Jepang, Inggris, Australia gratis. Sebab biaya ditanggung beasiswa pemerintah setempat.

(4)
Jadi, sekolah gratis itu ada. Asal semua bergerak menuju hal yang sama. Saling bahu membahu, memikul beban sepenanggungan.

(5)
Jadi sekolah gratis itu bukan monopoli sekolah non Islam. Islam sejak lama menggratiskan pendidikan, dari buaian hingga ruang kematian.

(6)
Namun sekolah gratis itu jangan diharap ada. Jika kaum kaya tak pernah menyapa. Jika negara tak konsisten dengan janji 20 % anggaran pendidikan.

(7)
Mencari sekolah gratis, tentu bukan gratisan. Perlu modal dan konsistensi. Karena pada dasarnya, tak ada yang gratis kecuali di surga kelak.

(8)
Menjadi persoalan. Jika tidak kaum kaya. Jika tidak uluran penguasa dan pengusaha. Jika tidak ada muhsinin. Siapa yang membiayai pendidikan?

(9)
Relakah guru-guru dibiarkan menangis peluh? Dibayar murah dengan dalih harus ikhlas. Sementara anak didik dituntu harus berprestasi?

(10)
Bukankah guru-guru juga manusia yang punya anak dan keluarga? Bukankah yayasan juga terdiri dari manusia, yang memiliki kebutuhan dan problematika hidup yang sama?

(11)
Yang penting dari semua itu, mengubah mentalitas kita. Orangtua, hindari mentalitas gratisan alias gretongan.

(12)
Sebagai anak didik. Berprestasilah semaksimal mungkin untuk meraih kesempatan beasiswa pendidikan gratis.

(13)
Sebagai pengusaha, keluarkan zakat dan dana CSR dengan penuh komitmen. Sebab mencerdaskan bangsa, bagian dari rasa syukur atas kesuksesan bisnis.

(14)
Sebagai penguasa, keluarkan anggaran pendidikan 20%. Mencerdaskan bangsa adalah amanah UU yang mengikat.

(15)
Sebagai yayasan, jangan selalu mengedepankan profit oriented. Untung harus. Tapi berbagi itu indah bukan?

(16)
Jangan ada lagi cerita, ayahnya seorang pendiri yayasan atau lembaga pendidikan. Tapi di kemudian hari, anak keturunannya tak lagi mampu bersekolah di tempat yang ayahnya dirikan. Selain mahal, tak ada kebijaksanaan!

(17)
Jangan ada lagi cerita. Anak guru tak mampu bersekolah di tempat orangtuanya mengajar. Sebab mahal, dan tak ada kebijaksanaan.

(18)
Saya saat ini, tak tertarik mencari sekolah gratisan untuk anak-anak saya. Sekolah berkualitas memang tidak mesti mahal. Namun sekolah mahal, identik jaminan mutu.

(19)
Tapi saya pun menggratiskan 5 % sekolah yang saya pimpin. Bahkan memberikan diskon besar-besaran untuk anak-anak guru di sekolah saya.

(20)
Jadi jika ada ibu-bapak yang saat ini kesulitan masuk sekolah di sekolah Islam. SIT Insan Teladan bisa jadi alternatif pilihan.

(21)
Sebab saya bisa seperti ini pun, berkah dukungan kawan-kawan dekat maupun jauh. Kenal maupun tak kenal. Selebihnya, keberkahan berjamaah.

(22)
Mari kita bangun senyum dalam jamaah dan berjamaah dalam senyum.

Advertisements

Leave a Reply