Rekonsiliasi Jilbab di Turki

Rekonsiliasi Jilbab di Turki

ImageNyonya Gul menjadi First Lady pertama yang mengenakan hijab dalam sejarah modern Turki.

Hayrunnisa Gul, istri Presiden Turki Abdullah Gul, telah meminta salah seorang perancang mode internasional, yang karyanya tersimpan di lemari bintang-bintang Hollywood dan lemari para istri

politisi Eropa, untuk membuat rancangan busana Muslimah model baru yang dapat memuaskan kalangan liberal dan konservatif di Turki.

“Hayrunnisa Gul telah meminta aku mendesain ulang jilbab panjangnya, juga baju-baju di lemarinya dengan model yang dapat diterima semua kalangan. Dari yang paling modern hingga konservatif,” ungkap Atil Kutoglu, perancang Turki yang bermukim di Vienna kepada AFP.

“Minggu depan, aku akan menyerahkan sekitar 10 model busana, kombinasi antara daya tarik Hollywood dan kesungguhan hati sesuai dengan kedudukannya,” lanjut Kutoglu, perancang busana yang bertengger di posisi 238 dalam daftar tahunan “1000 Orang Paling Berpengaruh di Austria”.

Klien-klien Kutoglu adalah orang-orang tenar semacam bintang Hollywood Catherine Zeta-Jones, super model Naomi Campbell, keluarga dan istri kerajaan Austria dan sejumlah besar politikus-politikus Eropa.

Mantan Presiden Ahmet Necdet Sezer, tokoh sekuler Turki melarang pemakaian busana Muslim di lingkungan istana. Jilbab kemudian dilarang keras di semua lembaga dan institusi negara, termasuk sekolah-sekolah dan universitas.

Nyonya Gul, bisa jadi merupakan istri presiden Turki pertama yang mengenakan jilbab dalam sejarah modern Turki. Ia mulai disorot pada 1998 setelah bergabung dengan ratusan wanita-wanita berjilbab yang menggugat negara (Turki) ke Pengadilan Hak Azasi Manusia Eropa karena menolak hak-hak mereka untuk mengenakan penutup kepala.

Kaum sekuler Turki cenderung melihat jilbab sebagai ancaman terhadap reformasi dan modernisasi Mustafa Kemal Ataturk. Tokoh yang menghapuskan agama dari kehidupan publik ketika ia membangun Turki pasca kekhalifahan Utsmani. Bagi kaum sekuler, kendornya larangan berjilbab hanya akan mempercepat perubahan Turki menjadi Iran. Padahal, Islam menjadikan hijab sebagai sebuah kewajiban berpakaian, bukan hanya sebatas simbol agama.

Seminggu sebelum dimulainya pemungutan suara pemilihan presiden, Gul mendapat dukungan kunci dari Asosiasi Pengusaha dan Industrialis Turki (TUSIAD), dengan sejumlah tawaran. “Kami percaya bahwa Gul akan memenuhi syarat-syaratnya (menjadi presiden),” kata Ketua TUSIAD, Arzuhan Yalcindag setelah bertemu Gul. “Kami percaya, bahwa menunjukkan rasa hormat kepada kehendak parlemen adalah hal yang sangat dibutuhkan dalam demokrasi,”

Menurut Yalcindag, dirinya telah mengimbau Gul, mantan deputi perdana menteri dan menteri luar negeri Turki itu, agar menjadi presiden yang netral dan menjaga keseimbangan antara institusi negara –pimpinan partainya, Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) yang berbasis massa Islam dan kaum sekuler yang setia kepada militer.

Jenderal Yasar Buyukan, pemimpin militer Turki, sebelumnya menolak berkomentar tentang pencalonan Gul sebagai presiden. “Semua sudah jelas,” ujarnya ketika menjawab pertanyaan wartawan dalam sebuah acara resepsi di istana kepresidenan. “Aku tidak akan berbicara. Ketika berbicara akan ditafsirkan secara keliru.”

Buyukan mengeluarkan peringatan keras dan tidak menyenangkan, Juni lalu. Ia menyatakan sistem sekuler negerinya berada dalam garis merah. Sejak 1960, empat pemerintahan Turki selalu dikuasi militer sekuler.

AK telah memenuhi janjinya terhadap sekularisme dan melaksanakan perubahan-perubahan yang mengarah pada pertumbuhan ekonomi yang kuat dan memastikan dimulainya pembicaraan tentang keanggotaan Turki dengan Uni Eropa. Saat ini AK mempunyai 341 kursi dari 550 kursi di parlemen.

Sebelumnya, pencalonan Gul sebagai presiden terhalang oleh boikot oposisi sekuler dalam sesi-sesi pemungutan suara parlemen. Ia ditunjuk kembali sebagai calon presiden dari AK setelah partai itu mengamankan suara yang lumayan Juni lalu. Dua kekuatan utama oposisi yang baru, Partai Aksi Nasionalis (MHP) dan Partai Masyarakat Demokrat Kurdi (DTP), yang memenangkan 70 dan 20 kursi berturut-turut menyatakan tidak akan akan memboikot pemilu yang akan datang. Walau partai berhaluan kanan dan DTP menahan dukungan untuk Gul, kehadiran keduanya amat penting bagi AK untuk mengamankan kuota yang membutuhkan 367 kursi untuk menjadi presiden. (Chairul Akhmad/AFP/Iol)

Advertisements

Tinggalkan Balasan