Proses Hidup

Huah…
Ngantuk banget rasanya. Badan ingin istirahat keknya, padahal jam di dinding baru menunjukkan pukul 14.30 waktu Padang Luar (Kek ospek aja ngasih waktu sekehendak hati). Mungkin bukan badan yang lelah secara sebagai seorang operator warnet (gile operator, kuli kalee…) dari jam delapan pagi tadi hingga saat ini mata gue selalu melototin monitor komputer. Mungkin kantuk yang gue rasa karena radiasi komputer. Kan banyak yang bilang tuh radiasi komputer berbahaya buat kesehatan mata.

Menjadi operator warnet sebenarnya mudah-mudah susah. Inget banyak mudahnya daripada susahnya. Kita tinggal duduk manis di depan komputer sembari melakukan pekerjaan yang kita inginkan. Main game boleh, browsing apalagi, mau nulis yo-i banget. Kalo ada user yang minta print, tinggal cari aja koneksi LAN printer trus suruh si user ngeprint sendiri. Santai kan? Yang menjadi masalah sebagai operator hanya problem koneksi yang kadang putus gak ketauan sebabnya. Ato komputer hang sedangkan si user belon nyimpan data. Jadilah saya berpanik ria untuk memberikan solusi atau menerima suara kesal dari user.

Mempunyai pekerjaan seperti ini emang pilihan gue dalam mengarungi samudera pengangguran. Untung aja dapat pekerjaan daripada nganggur yang membuat perasaan tertekan dan pusing sendiri.
Gue bukan tamatan Teknologi Informatika seperti om Suryo, gue cuman tamatan Sastra Inggris Universitas Negeri Padang (gimana tanggapan dosen-dosen gue ya kalau mereka tahu???), yang gue modalin buat kerjaan ini semangat ingin belajar: belajar surfing dengan aman, belajar membuat website (melalui blog sih), belajar memperbaiki komputer (baru sebatas install windows), belajar membuat aplikasi sederhana memakai MSAccess), dan kalau otak gue masih mampu belajar hacking.

Namun kesyukuran gue mendapatkan pekerjaan ini mendapat tertawaan dari keluarga gue sendiri. Mereka menganjurkan supaya gue buat les privat bahasa inggris aja di rumah. Pendapat yang bagus hanya satu kekurangannya yaitu gue masih malas ngajar. Gue gak pede ngajarin orang dan gue masih ragu dengan ilmu yang di otak gue (masih ngendap gak ya??). Yang paling parah dari adek gue yang nomor dua. Ia menertawakan gue “Masak S-1 jadi operator warnet sih?”. Sindiran beliau gak bakalan gue balas karena yang gue perlu sekarang adalah ilmu pengetahuan dan uang.

Picik seh kalau gue renungi keadaan gue hari ini. Tapi mo gimana lagi, gue gak mungkin ngandalin ortu buat biayain kebutuhan hidup gue setelah kuliah ini. Yang mesti gue kerjain adalah nikmati dulu kerjaan ini dan ngumpulin duit. Setelah itu gue bakalan ngejar sebuah obsesi. Kuliah s-2 di Susastra UI dan pulang ke UNP menjadi dosen.

Ya ALLAH Perkenankanlah

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *