Pesan Sebuah Surat Pendek

Ini merupakan email yang memberikan ide baru kepada para penulis yang berjuang mencari nafkah. Mau mencoba untuk mengikuti saran Ali Fauzi??
 
Oleh Ihsan Ali-Fauzi, penikmat sastra
Karya-karya
fiksi tentang terorisme bunuh diri mudah ditemukan di toko-toko buku kita.
Membantu melampaui fakta-fakta, seraya merenungkan kemungkinan- kemungkinan
baru.

 

Hampir
tiap hari kita dicekoki berita tentang aksi-aksi terorisme bunuh diri. Umumnya
dari luar negeri (Irak, Pakistan, Afganistan, dan lainnya, sesekali London atau
Madrid). Tapi juga dari dalam negeri, seperti yang terjadi di Jakarta 17 Juli
lalu.

 

Anda
muak? Saya, terus terang, ya. Apalagi ada stasiun teve yang seperti hendak
menjadikannya semacam reality show. Menyaksikannya, saya seperti mau
muntah!

 

Untungnya,
kini saya bisa menghibur diri (sambil menambah wawasan dong) dengan
membaca bagaimana aksi-aksi terorisme bunuh diri itu difiksikan dalam novel.
Ini bukan karena saya suka aksi-aksi itu. Tapi karena saya mau lebih tahu
mengapa orang-orang rela melakukannya.

 

Untuk
itu, ternyata fiksi bisa banyak membantu. Beda dari reportase media yang serba
singkat dan kadang sensasional, atau karya kesarjanaan yang umumnya kaku dan
kering, fiksi memberi gambaran tentang peristiwa secara lebih utuh dan
bernuansa. Tentu ada dramatisasinya juga (namanya saja fiksi!). Tergantung pada
kepiawaian penulisnya, kita bisa jatuh cinta pada tokohnya, atau minta ampun
membencinya, karena kita merasa lebih mengenalnya.

 

Tapi,
begitu mungkin Anda protes, fiksi bukan fakta. Itu betul. Namun, "seliar" apa
pun, fiksi tidak sepenuhnya bisa lepas dari fakta. Inilah yang kita pelajari,
misalnya, dari karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Kata Pram, fiksi adalah hilir
dari arus imajinasi yang bermuasal dari fakta di hulu. Pada tetralogi Pram,
Minke bermula dari Tirto Adhie Suryo.

 

Bagusnya
lagi, karena orang lebih suka baca karya-karya fiksi ketimbang buku-buku
"kering" tentang fakta, peluangnya untuk dibaca lebih besar. Ini tentu baik
buat pembaca dan pengarang!

 

II

 

Nah,
beberapa tahun belakangan ini, karya-karya fiksi tentang terorisme bunuh diri
mudah ditemukan di toko-toko buku kita. Ini kecenderungan dunia juga, sejalan
dengan "naiknya" pamor aksi-aksi itu. Sayang, di kita umumnya karya-karya
terjemahan, sekalipun kualitasnya okay punya!

 

Misalnya
Di balik Keheningan Salju (Serambi, 2008), oleh Orhan Pamuk, peraih
Nobel asal Turki itu. Alur besarnya lebih tentang pergulatan antara
fundamentalisme Islam dan sekularisme di Kar, satu kota kecil di Turki. Aksi
terorisme bunuh diri menjadi bagiannya. Saya menyukainya antara lain karena
para fundamentalis militan digambarkan sangat manusiawi di situ: suka ngibul,
memanfaatkan agama untuk duit dan perempuan, wawasannya cetek tapi sok pintar.
Asyiknya lagi: para pelaku bunuh diri di sini umumnya perempuan (emansipasi dong!).
Mereka antara lain tersedot kharisma Si Blue, otak Islam militan bermata biru
yang karismatis dan dengan aura seksual tak tertolak.

 

Contoh
lainnya karya Mohsin Hamid, Lelaki yang Terbuang (Mizan, 2008). Ini
cerita tentang terpuruknya nasib Changez, pemuda muslim asal Pakistan di AS,
pasca-September 11. Sesudah memperoleh beasiswa dan lulus dari Princeton, dia
kerja dengan gaji besar di sebuah firma hukum di New York. Tapi tiba-tiba roda
nasibnya berputar 180 derajat: sakit-keras pacarnya yang Kristen, di tengah
meningkatnya sentimen anti-Islam, membuat prioritasnya terganggu, rencananya
buyar, dan dia dipecat! Tapi saya kurang menyukai novel ini karena saya tak
mengerti mengapa Changez menjadi marah besar pada AS, dan ingin
menghancurkannya, sekalipun "Setan Besar" itu tak berbuat apa-apa yang
menyebabkan keterpurukannya. Pikir saya: sesudah apa yang disediakan negara itu
untuk pertumbuhannya sebagai pribadi, dia sedikitnya perlu berterimakasih pada
AS.

 

Masih
ada beberapa karya lain lagi. Tapi dua yang menjadi favorit saya adalah Terrorist
(Alvabet, 2007) dan The Attack (Alvabet, 2008), oleh John Updike dan
Yasmina Khadra. Kebetulan, di dunia, dua karya inilah yang paling sering
disebut ketika orang bicara tentang fiksi terorisme bunuh diri.

 

Updike
adalah pengarang terkenal AS. Novel di atas ditulisnya karena dia terguncang
oleh peristiwa September 11. Di situ dia bercerita tentang rencana pemboman

terowongan
di Washington yang gagal. (Calon) pelakunya Ahmad, remaja muslim yang tumbuh
dalam keluarga broken home. Dia dibesarkan ibunya, Yahudi warga AS, yang
tanpa alasan jelas ditinggalkan suaminya, seorang laki-laki Mesir.

 

Khadra
tak semenonjol Updike. Tapi pengarang Aljazair itu sedang meningkat
reputasinya, khususnya di Eropa. Novelnya adalah cerita memilukan tentang
Sihem, istri seorang dokter mapan keturunan Arab yang sudah menjadi warganegara
Israel, yang rela menghancurkan tubuhnya dalam aksi bom bunuh diri di sebuah
restoran di Israel. Selain memakan 20 korban, termasuk 11 anak kecil yang
sedang pesta ulang tahun, aksi itu juga telah mengubur idaman lama Sihem dan suaminya
tentang hidup yang nikmat dan beradab (anggur, musik, pertemanan lintasagama) ,
di sebuah perkampungan elite di Israel.

 

III

 

Apa
yang mendorong niat Ahmad dan aksi Sihem? Mereka ingin merebut kembali
kedaulatan bangsa mereka, Palestina dan Arab, yang mereka pandang terus
digerogoti kekuatan asing –di sini AS dan Israel. Mereka adalah ujung tombak
dari jaringan organisasi lebih besar, yang, karena tak mungkin mengalahkan AS
dan Israel dalam perang biasa, menjadikan tubuh mereka sebagai senjata.

 

Dalam
studi-studi ilmiah tentang terorisme bunuh diri, ini motif yang diakui cukup
menonjol. Jadi bukan ideologi Islam militan yang menjadi faktor utama aksi itu,
tapi perjuangan mengusir agresor. Dalam bahasa Robert Pape (dalam Dying to
Win, 2005), ilmuwan politik yang paling sistematis mempelajari terorisme
bunuh diri di dunia, tubuh mereka menjadi weapons of the weak, senjata
mematikan si lemah lawan si kuat.

 

Dalam
The Attack, motif itu dinyatakan Khadra lewat surat pendek Sihem kepada
Amin, suaminya, yang diposkan beberapa saat sebelum ia pergi meledakkan diri.
Setelah menyinggung soal kebahagiaan mereka yang belum lengkap karena mereka
belum juga punya anak, Sihem menulis: "Tapi tak ada anak yang benar-benar
aman jika dia tak punya negara."

 

Bagi
saya, surat inilah tokoh utama The Attack. Pertama, ia seperti menjadi
"juru bicara" Sihem, yang meledakkan diri di awal novel dan hanya diceritakan in
absentia di sisanya. Tapi, yang lebih penting, pesan surat itu menjadi tema
pokok seluruh cerita novel, khususnya obsesi Amin untuk memahami alasan Sihem
dan jaringan teroris yang membantunya. Pesan itu juga terus menghantui
kesadaran kawan-kawan dekatnya, juga tentara Israel, yang memandang aksi Sihem
sebagai sesuatu yang tak terbayangkan. Ya, si naif, atau pemberani, Sihem itu:
ibu muda kaya, tak taat beragama, bergaul dekat dengan banyak Yahudi dan
Nasrani dan lainnya –terlibat jaringan teroris, membunuh anak-anak, untuk
Palestina?

 

Dalam
Terrorist, motif politik di atas hanya tampil samar-samar. Mungkin
karena kejadiannya di AS, yang jauh dari tempat di mana kedaulatan kaum muslim
sehari-hari digerogoti. Atau mungkin juga karena Updike tidak mau
menonjolkannya. Dia tampak lebih menekankan kuatnya alasan keagamaan yang
mendorong niat Ahmad, yang digambarkan mengaji kepada seorang ustad
fundamentalis asal Yaman, tiga kali seminggu.

 

Walau
mengagumi ketelitiannya dalam mengungkap doktrin-doktrin Islam radikal (New
York Times menyebutkan, dan saya setuju, paparan teologis Updike
benar-benar pas!), secara keseluruhan narasinya tak saya nikmati benar. Dari
sisi ini, motif, fiksi Updike terlalu jauh dari fakta yang saya kenal.

 

Tapi
deskripsi Updike mengenai lingkungan di mana Ahmad tumbuh, sebuah kantong yang
disebut Little Egypt di New Jersey, sebuah kota di Negara Bagian New York, amat
kaya, hidup, dan meyakinkan. Dia saya duga sudah membaca Oliver Roy, yang dalam
Globalized Islam (2003) mengungkap peran sentral bagian kota ini dalam
pertumbuhan generasi kedua jaringan teroris al-Qaeda di AS. Di situlah imigran
asal Mesir, negara paling maju dalam memproduksi organisasi Islam radikal,
berkumpul dan bibit-bibit terorisme ditanam dan disemai.

 

Dengan
lincah Updike juga menyertakan sisi-sisi gelap, bahkan kriminal, dalam hidup
kaum teroris muslim yang sering mendaku paling taat itu. Ada Charlie, misalnya,
yang merekrut Ahmad dan sering bicara tentang kesyahidan, tetapi sebenarnya
seorang bayaran CIA. Ahmad sendiri ditampilkan munafik: sementara percaya bahwa
jihad itu wajib (karena "kaum muslim dijajah" dan "kami harus menentang
kezaliman," dan "di surga sudah menanti 72 bidadari"), dia suka melirik dada
Joryleen, cewek Hispanik temannya di SMA, dan belakangan sempat bercinta
dengannya di luar nikah.

 

Dari
segi ini, The Attack adalah sebuah bacaan yang muram. Setelah Sihem "dibunuh"
di awal novel, yang mengakibatkan banyak kematian lainnya, kita dihadapkan
kepada matinya banyak harapan dan impian, satu demi satu. Karier Amin habis.
Kampung keluarga Sihem dibuldoser tank-tank Israel. Sementara itu, aksi Sihem
mengikis optimisme kawan-kawannya dan mereka yang mau melihat konflik
Israel-Palestina berakhir damai.

 

Demokrasi
Israel, yang sering disebut "oase" di tengah gurun otoritarianisme Timur
Tengah, juga digambarkan kelam. Setelah Sihem menuntun kita kepada cacat
demokrasi itu dari kacamatanya yang pro-Palestina, kita menemukan cacat lainnya
di Israel sendiri. Itu tampak, misalnya, dalam perlakuan warga terhadap Amin:
sekalipun warganegara Israel dan dokter terkenal, ia tetap saja seorang Arab
yang berkali-kali dicurigai; seorang korban bom Sihem bahkan lebih rela mati
daripada diobati Amin.

 

Untungnya,
Khadra memberi kita seorang perempuan sebagai hero. Lepas dari kita
setuju atau tidak dengan aksinya, Sihem di sini bukanlah wakil Islam radikal,
melainkan seorang pemberani, berdedikasi. Dia mencintai bukan saja suami dan
teman-temannya, tapi juga kemanusiaan. Ini tidak ada presedennya.

 

IV

 

Fiksi
bukan fakta. Di situ terletak keterbatasan karya-karya ini. Tapi di sana juga
terletak kelebihannya. Dengannya kita bisa melampaui fakta-fakta, seraya
merenungkan kemungkinan- kemungkinan baru.

 

Salah
satu contohnya diberikan Updike. Di ujung novelnya, ia mempertemukan Ahmad,
yang sedang meluncur dengan mobil berisi bom, dengan Jack Levy, si Yahudi yang
sekaligus gurunya di sekolah dan teman kumpul kebo ibunya di rumah, yang
menyetopnya tiba-tiba di tengah jalan menuju Washington.

 

Di
mobil mereka diskusi tentang Sayyid Qutub, konsep jahiliyah, dan alasan
terorisme. Kata Ahmad: "Apakah Anda pernah membaca tentang Sayyid Qutub…? Dia
datang ke AS 50 tahun lalu dan harus menghadapi diskriminasi rasial dan
kecerobohan tindakan seks bebas. Dia menyimpulkan, tak ada masyarakat yang
lebih jauh dari Tuhan daripada masyarakat AS. Tapi jahiliyah… juga meluas ke
sebagian besar muslim di dunia." Jack menjawab: "Kedengarannya bijak. Aku akan
menempatkan Beliau sebagai bacaan pilihan, jika aku tetap hidup. Aku telah
menandatangani kontrak untuk mengajar kewarganegaraan semester ini."

 

Saya
sulit membayangkan bagaimana obrolan di atas terjadi lima menit sebelum bom di
mobil Ahmad meledak, kecuali dia mematikan timer-nya. Tapi dengan
obrolan itulah Updike menyelamatkan Ahmad dan Jack dari kematian, dan
kemanusiaan dari terorisme.

 

Kita
tidak perlu gusar dengan imajinasi Updike yang kurang masuk akal itu. Mari kita
nikmati saja, sambil belajar sesuatu darinya. Misalnya dengan melakukan dialog
seperti di atas di dalam kelas, bukan di mobil dengan bom yang mau meledak.

 

Sementara
itu, sambil menikmati karya-karya ini sebelum bedug magrib tiba, mari kita berdoa
semoga karya-karya sejenis bisa segera lahir dari para penulis fiksi kita.
Bukankah Indonesia ladang yang cukup subur untuk itu?

Link: http://www.ruangbaca.com/ruangbaca/?doky=MjAwOQ==&dokm=MDg=&dokd=MzE=&dig=YXJjaGl2ZXM=&on=YXJs&uniq=OTM4

Advertisements

Tinggalkan Balasan