About these ads

Pandangan Tentang Tahun Baru

” JANUS “  (Januari)   →→→  Berhala Tahun Baru (TERKUTUK !!!)
.
Nama BERHALA Kaum Musyrikin yang sedang kalian Rayakan di Malam Tahun Baru dan kalian beramai-ramai mengucapkan Kata Selamat pada BERHALA TERKUTUK itu …!!! 
.
Maaf.  Saya ini muslim. Saya tidak merayakan Tahun Baru, karena saya tidak ingin ‘TASYABBUH’ (Menyerupai) perbuatan ritual kaum KAFIR.
.
ALLAH & Rasul-NYA melarang kami (muslim) berbuat semacam itu.  Karena ada dua hal yang terlarang pada seorang muslim.,
Yaitu :
.
1.  AZ-ZUUR  :  ikut hadir dalam acara perayaan kaum Kafir.
.
2.  TASYABBUH :  menyerupai ritual / ibadah Kaum KAFIR.
.
Kedua Perbuatan Bathil di atas adalah sangat di Murkai oleh Allah Ta’ala. Maka sebagai muslim saya harus menghindarinya, dan berusaha menjauhi potensi-potensi kedua perkara di atas.
.
Apalagi : yang namanya Perayaan TAHUN BARU MASEHI bukan bagian dari agama ISLAM. 
.
Perayaan TAHUN BARU →→→ adalah berasal dari Ritual kaum penyembah Berhala (Pagan) di masa silam. Mereka adalah kaum Musyrikin.
.
Awal muasal tahun baru 1 Januari jelas adalah berasal dari praktik penyembahan kepada dewa matahari oleh Bangsa Romawi Kuno. Kita ketahui semua perayaan Romawi pada dasarnya adalah penyembahan kepada dewa matahari yang disesuaikan dengan gerakan matahari.
.
Sebagaimana yang kita ketahui, Romawi yang terletak di bagian bumi sebelah utara mengalami 4 musim dikarenakan pergerakan matahari. Dalam perhitungan sains masa kini yang juga dipahami Romawi kuno, musim dingin adalah pertanda ’mati’ nya matahari karena saat itu matahari bersembunyi di wilayah bagian selatan khatulistiwa.
.
Sepanjang bulan Desember, matahari terus turun ke wilayah bahagian selatan khatulistiwa sehingga memberikan musim dingin pada wilayah Romawi, dan titik tterjauh matahari adalah pada tanggal 21-22 Desember setiap tahunnya. Lalu mulai naik kembali ketika tanggal 25 Desember. Matahari terus naik sampai benar-benar terasa sekitar 6 hari kemudian.
.
Karena itulah Romawi merayakan rangkaian acara ’Kembalinya Matahari’ menyinari bumi sebagai perayaan terbesar. Dimulai dari perayaan Saturnalia (menyambut kembali dewa panen) pada tanggal 23 Desember. Lalu perayaan kembalinya Dewa Matahari (Sol Invictus) pada tanggal 25 Desember sampai tanggal 1-5 Januari yaitu Perayaan Tahun Baru (Matahari Baru). Termasuk pada ritual pergantian kalender tersebut adalah “pesta ulang tahun baru” bagi kaum paganis (penyembah berhala) Romawi untuk memuja Dewa Janus, yaitu dewa penjaga pintu gerbang yang digambarkan bermuka, yang satu selalu tersenyum menghadap ke depan, dan yang lain menghadap ke belakang dengan muka muram .
.
Menurut English Wikipedia, perayaan tahun baru Masehi adalah :
.
“The Romans dedicated New Year’s Day to Janus, the god of gates, doors, and beginnings for whom the first month of the year (January) is also named. After Julius Caesar reformed the calendar in 46 BC and was subsequently murdered, the Roman Senate voted to deify him on the 1st January 42 BC [1] in honor of his life and his institution of the new rationalized calendar [2]. The month originally owes its name to the deity Janus, who had two faces, one looking forward and the other looking backward. This suggests that New Year’s celebrations are founded on pagan traditions.”
.
[1] Warrior, Valerie M. (2006). Roman Religion. Cambridge University Press. p. 110. ISBN 0-521-82511-3
.
[2] Courtney, G. Et tu Judas, then fall Jesus (iUniverse, Inc 1992), p. 50.
.
Terjemahannya adalah :
.
“Orang-orang Romawi men-dedikasikan hari perayaan Tahun Baru kepada Janus, dia adalah dewa segala pintu gerbang, pintu-pintu dan permulaan waktu yang mana namanya juga adalah nama dari bulan pertama dalam setahun, Januari. Setelah Julius Caesar menyusun sistem kalendar (Masehi) pada 46 BC dan ia dibunuh setelah itu, anggota Senat Romawi memutuskan untuk meresmikannya pada 1 Januari 42 BC untuk mengenang hidup Julius Caesar dan menghormati penyusunannya terhadap sistem kalender baru yang rasional. Bulan pertama didedikasikan pada nama dewa Janus yang mempunyai 2 wajah, 1 menghadap ke depan (mengindikasikan masa depan, pent) dan 1 menghadap ke belakang (mengindikasikan masa lalu, pent). Ini mengindikasikan perayaan Tahun Baru didirikan atas dasar kepercayaan pagan.”
.
http://en.wikipedia.org/wiki/New_Year%27s_Day
.
Nama Dewa Janus tidaklah asing dalam kesusasteraan paganisme. Ia adalah BERHALA sembahan kaum Pagan para penyembah syaitan sejak zaman Yunani kuno. Sejarah pemuliharaan budaya penyembah syaitan ini pun sudah ada semenjak zaman Hermaic (3600 SM) dan dikawal oleh kumpulan paganisme Freemason. Freemason sengaja menyuburkan budaya ini agar umat manusia, khususnya ummat islam mengalihkan perhatiannya dari agama kearah penyembahan satanisme. Na’udzubillahi Min Dzalik ..!
.
Dewa Janus sendiri adalah sesembahan kaum Pagan Romawi, dan pada peradaban sebelumnya di Yunani telah disembah sosok yang sama dengan nama dewa Chronos. Kaum Pagan, atau dalam bahasa kita disebut kaum kafir penyembah berhala, hingga kini biasa memasukkan budaya mereka ke dalam budaya kaum lainnya, sehingga terkadang tanpa sadar kita telah mengikuti mereka. Sejarah pelestarian budaya Pagan (penyembahan berhala) sudah ada semenjak zaman Hermaic (3600 SM) di Yunani.
.
Kaum Pagan sendiri biasa merayakan tahun baru mereka (atau Hari Janus) dengan mengitari api unggun, menyalakan kembang api, dan bernyanyi bersama. Kaum Pagan di beberapa tempat di Eropa juga menandainya dengan memukul lonceng atau meniup terompet.
.
Sedangkan menurut kepercayaan orang Jerman, jika mereka makan sisa hidangan pesta perayaan New Year’s Eve di tanggal 1 Januari, mereka percaya tidak akan kekurangan pangan selama setahun penuh.
.
Bagi orang Kristen yang mayoritas menghuni belahan benua Eropa , tahun baru Masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus atau Isa al-Masih, sehingga agama Kristen sering disebut agama Masehi. Masa sebelum Yesus lahir pun disebut tahun Sebelum Masehi (SM) dan sesudah Yesus lahir disebut tahun Masehi.
.
Bagi orang Persia yang beragama Majūsî (penyembah berhala api), mereka menjadikan tanggal 1 Januari sebagai hari raya mereka yang dikenal dengan hari Nairuz atau Nurus.
.
Penyebab mereka menjadikan hari tersebut sebagai hari raya adalah, ketika Raja mereka ‘Tumarat’ wafat, ia digantikan oleh seorang yang bernama ‘Jamsyad’, yang ketika dia naik tahta ia merubah namanya menjadi ‘Nairuz’ pada awal tahun. ‘Nairuz’ sendiri berarti tahun baru. Kaum Majūsî juga meyakini, bahwa pada tahun baru itulah, Tuhan menciptakan cahaya sehingga memiliki kedudukan tinggi.
.
Kisah perayaan mereka ini diriwayatkan dan diceritakan oleh Ulama besar, al-Imâm an-Nawawî dalam kitab Nihâyatul ‘Arob dan al-Muqrizî dalam al-Khuthoth wats Tsâr. Di dalam perayaan itu, kaum Majūsî menyalakan api dan mengagungkannya –karena mereka adalah penyembah api. Kemudian orang-orang berkumpul di jalan-jalan, halaman dan pantai, mereka bercampur baur antara lelaki dan wanita, saling mengguyur sesama mereka dengan air dan khomr (minuman keras). Mereka berteriak-teriak dan menari-nari sepanjang malam. Orang-orang yang tidak turut serta merayakan hari Nairuz ini, mereka siram dengan air bercampur kotoran. Semuanya dirayakan dengan kefasikan dan kerusakan…!
.
Maka jika kita melihat perayaan tahun baru, maka di situlah kita dapat melihat nilai-nilai Yahudi di dalamnya. Meniup trompet misalnya, terompet adalah alat ciptaan Yahudi. Budaya meniup trompet ini merupakan budaya masyarakat Yahudi ketika menyambut kedatangan Rosh Hasanah atau tahun baru Taurat yang jatuh pada bulan ketujuh atau tarikh 1 bulan Tishri dalam kalendar Ibrani kuno
.
Hal ini pun terpampang dalam Alkitab Imamat 23; 24 ;
.
“Katakanlah kepada orang-orang Isra’el, begini: Dalam bulan yang ketujuh, pada tanggal satu bulan itu, kamu harus mengadakan hari cuti penuh yang diperingati dengan meniup terompet, yakni hari pertemuan kudus” –. (Imamat 23:24)
.
Pada malam tahun baru, masyarakat Yahudi melakukan muhasabah diri dengan tradisi meniup shofarot sebuah alat musik jenis trompet. Bunyi Shofarot adalah sama bunyinya dengan terompet kertas yang dibunyikan kebanyakan penyambut di malam Tahun Baru.
.
Dan merupakan Adat-kebiasaan Orang-orang Romawi ketika merayakan Tahun Baru ini dengan kegiatan berjudi, mabuk-mabukan, bermain perempuan dan segala tindakan maksiat-keji penuh nafsu kebinatangan diumbar disana. Persis seperti yang terjadi pada saat ini.
.
Ketika Romawi menggunakan Kristen sebagai agama negara, maka terjadi akulturasi agama Kristen dengan agama pagan Romawi. Maka diadopsilah tanggal 25 Desember sebagai hari Natal, 1 Januari sebagai Tahun Baru dan Bahkan perayaan Paskah (Easter Day), dan banyak perayaan dan simbol serta ritual lain yang diadopsi.
.
Bahkan untuk membenarkan 1 Januari sebagai perayaan besar, Romawi menyatakan bahwa Yesus yang lahir pada tanggal 25 Desember menurut mereka disunat 6 hari setelahnya yaitu pada tanggal 1 Januari, maka perayaannya dikenal dengan nama ’Hari Raya Penyunatan Yesus’ (The Circumcision Feast of Jesus)
.
Bahkan setelah di teliti tanggal 25 Desember itu bukan hari kelahiran Yesus, tapi hari Natal dua dewa terkemuka pada masa purba, yaitu Dewa Matahari bangsa Roma yang dikenal dengan perayaan Solis Invictus (matahari yang tak terkalahkan) dan Dewa Mithras (dewa matahari kebenaran dan kebijakan).
.
Untuk menyesuaikan dengan hari perayaan Penyembahan Berhala yang populer pada saat itu itu, para misionaris Kristen mengadopsi perayaan Natal Dewa Matahari dan Dewa Mitra tanggal 25 Desember sebagai Natal Yesus. Inilah misi Kristenisasi agar para Paganis (penyembah Berhala) ikut beralih menjadi penganut Kristen. Karena sudah terlanjur jadi tradisi Kristen, maka tanpa malu-malu, sejak abad ke-4 Masehi Gereja Katolik mencaplok tanggal 25 Desember sebagai Hari Natal Yesus Kristus. Enam hari setelah Natal 25 Desember, tibalah tahun baru Masehi tanggal 1 Januari. Umat kristiani biasa menggabungkan ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru. Yang Konyol-nya.. Tak sedikit dari umat Islam yang latah terjebak promosi kekafiran dengan mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru Masehi…!!!
.
NA’UDZUBILLAHI MIN DZALIK ….!!!
.
————————————————
.
PANDANGAN ULAMA AHLU SUNNAH TERHADAP RITUAL KAFIRIN ..!
.
Komisi Fatwa Saudi Arabia (Al-Lajnah Ad-Daimah lil-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal-Ifta’) dalam Fatawa nomor 20795 menyatakan bahwa mengucapkan Selamat Tahun Baru Masehi kepada non muslim tidak boleh dilakukan oleh seorang Muslim karena perayaan tahun baru tidak masyru’ (tidak disyariatkan).” Fatwa ini ditandatangani oleh: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alu Syaikh, Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan, Syaikh Shalih Al-Fauzan, dan Syaikh Bakr Abu Zaid.
.
Senada itu, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, dengan tegas menyatakan bahwa umat Islam dilarang mengucapkan Selamat Tahun Baru Masehi (Miladiyah), karena ia bukan tahun syar’i. Bahkan apabila memberi ucapan selamat kepada orang-orang kafir yang merayakan hari raya Tahun Baru, maka orang ini dalam keadaan bahaya besar berkaitan dengan hari-hari raya kekafiran.
.
Karena ucapan selamat terhadap hari raya kekafiran itu berarti senang dengannya dan mensupport kesenangan mereka, padahal senang terhadap hari-hari raya kekafiran itu bisa-bisa mengeluarkan manusia dari lingkaran Islam, sebagaimana Ibnul Qayyim rahimahullah telah menyebutkan hal itu dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz-Dzimmah. –. (Kitab Liqoatul Babil Maftuh, juz 112 halaman 6).
Ulama, Ibnul Qayyim berkata, “Adapun memberi ucapan selamat kepada simbol-simbol khusus kekafiran, (hal tersebut ) adalah haram menurut kesepakatan ulama…” –. (Kitab Ahkamu Ahlu Ad-Dzimmah, 1/441).
.
Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili dalam situsnya juga mengharamkan ucapan Selamat Tahun Baru Masehi karena perbuatan tersebut termasuk tasyabbuh (meniru kebiasaan & ritual orang kafir) kepada kaum Kristen yang mana mereka saling mengucapkan selamat ketika awal tahun baru Masehi. Tasyabbuh dengan mereka diharamkan oleh Rasulullah Shallallahu’Alayhi Wassallam :
.
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” –. (HR. Ahmad dan Abu Daud).
.
Rasulullah Shallallahu’Alayhi Wassallam sudah mewanti-wanti umatnya tentang bahaya tasyabbuh terhadap orang Persia, Romawi, Yahudi dan Kristen. Kaum muslimin mengikuti mereka baik dalam berpakaian atau pun berhari raya.
Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang biawak, pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?”
–. (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri).
.
————————————————
.
10 Mudharat & Kerusakan bagi muslim yang Merayakan Tahun Baru Masehi.
.
* Kerusakan Pertama: Merayakan Tahun Baru Berarti Merayakan ‘Ied (Perayaan) yang Haram !
.
* Kerusakan Kedua: Merayakan Tahun Baru Berarti Tasyabbuh (Meniru-niru) Orang Kafir..!
.
*Kerusakan Ketiga: Merekayasa Amalan yang Tanpa Tuntunan di Malam Tahun Baru..!
.
*Kerusakan Keempat: Terjerumus dalam Keharaman dengan Mengucapkan Selamat Tahun Baru..!
.
*Kerusakan Kelima: Meninggalkan Perkara Wajib yaitu Shalat Lima Waktu.
.
*Kerusakan Keenam: Begadang Tanpa Ada Hajat…!
.
*Kerusakan Ketujuh: Potensi Terjerumus dalam Zina..!
.
*Kerusakan Kedelapan: Mengganggu Kaum Muslimin & masyarakat umum.
.
*Kerusakan Kesembilan: Meniru Perbuatan Setan dengan Melakukan Pemborosan.
.
*Kerusakan Kesepuluh: Menyia-nyiakan Waktu yang Begitu Berharga..!
.
Sesungguhnya Merayakan malam tahun baru termasuk membuang-buang waktu. Padahal waktu sangatlah kita butuhkan untuk hal yang bermanfaat dan bukan untuk hal yang sia-sia.
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi nasehat mengenai tanda kebaikan Islam seseorang,
.
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”
.
*Ikuti Ritual-Budaya Orang Kafir, Maka Akan jadi Seperti Mereka !
.
Sesungguhnya Allah yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat yang paling agung, yaitu nikmat Islam. Nikmat ini tidak bisa ditandingi oleh nikmat-nikmat yang lain. Dengannya, kita berada di atas petunjuk. Mengamalkannya akan menghantarkan kepada keselamatan dan kebahagiaan dunia-akhirat.
.
Karenanya, kita harus senantiasa bersyukur atas nikmat ini dengan menjaganya dan memohon keteguhan dalam berpegang teguh dengannya hingga kematian menjemput. Karena Allah telah membuat satu adat kebiasaan, bahwa siapa yang hidup di atas sesuatu maka ia akan wafat di atasnya, dan siapa yang mati di atas sesuatu maka ia akan dibangkitkan sesuai dengan kondisi saat itu.
.
“Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”
.
–. (QS. Ali Imran: 102)
.
Janganlah ada kesengajaan berpaling dari Islam, karena akan membuat rugi dunia-akhirat. Sesungguhnya musuh-musuh Islam senantiasa berusaha merusak nikmat yang agung ini dengan berbagai cara dan dengan segenap kekuatan yang dimilikinya. “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.”
.
–. (QS. Al-Taubah: 32)
.
Mereka hendak menjadikan kaum muslimin kafir, sebagaimana mereka telah kafir. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka).”
.
–. (QS. Al-Nisa’: 89)
.
Usaha mereka untuk menghancurkan Islam tersebut sudah dimulai sejak era Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu era Khulafa’ rasyidin, dan dilanjutkan pada era-era sesudahnya hingga zaman kita sekarang. Senjata yang mereka gunakan sangat beragam seperti ekonomi, budaya, atau kekuatan militer, dan yang lainnya. Namun tujuannya yang mereka inginkan sama, yaitu menghancurkan Islam dan memurtadkan kaum muslimin darinya.
.
Kesimpulan ini bukan tanpa alasan atau tuduhan yang tidak berdasar. Tapi, dengan kabar berita dan peringatan yang telah Allah sampaikan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan Kabar tersebut menyebutkan, kelompok yang ingin merusak Islam bukan dari satu kelompok saja, tapi juga dari kalangan musyrikin, Yahudi, Nasrani, Atheis, dan dari kaum munafikin.
.
Allah berfirman tentang permusuhan kaum musyrikin,
.
وَلا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
.
“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”
.
–. (QS. Al-Baqarah: 217)
.
Allah menerangkan tentang permusuhan Yahudi dan Nasrani terhadap kaum muslimin,
.
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ
.
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”
.
–. (QS. Al-Baqarah; 120)
.
Yahudi dan Nasrani berusaha untuk mengajak kaum muslimin untuk mengikuti ajaran mereka (di antaranya adalah budaya dan tradisi mereka), dan berusaha mempropagandakannya ajaran bathil-nya kepada umat Islam.
.
وَقَالُوا كُونُوا هُوداً أَوْ نَصَارَى تَهْتَدُوا قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
.
“Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah: “Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik”.”
.
–. (QS. Al-Baqarah: 135)
.
Allah Ta’ala berfirman,
.
وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
.
“Dan orang-orang yang tidak menghadiri “az-zuur”, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya” (QS. Al Furqan [25]: 72).
.
Ulama, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa di antara makna “az-zuur” dalam ayat di atas adalah hari-hari besar orang-orang musyrik, sebagaimana penjelasan Abul ‘Aliyah, Thawus, Ibnu Sirin, Adh-Dhahhak, Rabi’ bin Anas dan selain mereka. –(Kitab Tafsir Ibnu Katsir, 6/118 (Maktabah Asy-Syamilah).
.
Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafidzahullah mengatakan,”(Maksud ayat tersebut) adalah di antara sifat ‘ibaadurrahman (hamba Allah yang beriman) yaitu tidak menghadiri perayaan hari besar orang kafir.” –(Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan dalam Al-Irsyad ila Shahihil I’tiqod, hal. 251, cetakan pertama, tahun 2006,).
.
Syaikh Muhammad bin Sa’id Al-Qahthani berkata dalam kitab beliau yang sangat bermanfaat, kitab Al-Wala’ wal Bara’ fil Islam, beliau berkata :
.
“..Adapun memberikan ucapan selamat atas syiar-syiar kekafiran yang menjadi ciri khas mereka (orang Kafir), maka ini hukumnya haram dengan kesepakatan (ulama). Yang demikian itu misalnya memberikan ucapan selamat atas hari besar keagamaan mereka dengan mengatakan,”’Iid mubarok” (Selamat hari raya Natal, atau yang lainnya,). Atau ikut bergembira dengan adanya hari raya mereka. Jika yang mengatakan (ucapan selamat tersebut) terbebas dari kekafiran, maka hal ini termasuk perkara yang diharamkan. Ini sama saja dengan ikut memberikan selamat atas sujud (peribadatan) mereka kepada salib, bahkan ini termasuk dosa yang paling besar di sisi Allah. Dan lebih besar perkaranya (dosanya) dibandingkan ikut mendukung mereka minum khamr, membunuh jiwa, terjerumus ke dalam zina yang haram, atau semacamnya. Kebanyakan orang yang tidak paham agama terjerumus dalam hal ini. Mereka tidak tahu betapa kejinya perbuatan yang mereka lakukan. Maka barangsiapa yang memberikan ucapan selamat atas maksiat yang dilakukan oleh seorang hamba, atau bid’ah dan kekafiran yang mereka lakukan, maka dia telah mendatangkan kebencian dan kemurkaan Allah Ta’ala…”
–(kitab Al-Wala’ wal Bara’ fil Islaam, hal. 359, karya Syaikh Muhammad bin Sa’id Al-Qahthani, taqdim: Syaikh Abdur Razzaq ‘Afifi, cetakan ke tiga, tahun 1409, Daar Thaybah).
.
Senada dengan tulisan di atas, maka Dahulupun ulama Ahlus Sunnah semisal Al-Imam Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah pernah berkata,
.
وَهُوَ بِمَنْزِلَةِ أَنْ يُهَنِّئَهُ بِسُجُودِهِ لِلصَّلِيبِ، بَلْ ذَلِكَ أَعْظَمُ إِثْمًا عِنْدَ اللَّهِ وَأَشَدُّ مَقْتًا مِنَ التَّهْنِئَةِ بِشُرْبِ الْخَمْرِ وَقَتْلِ النَّفْسِ وَارْتِكَابِ الْفَرْجِ الْحَرَامِ وَنَحْوِهِ.وَكَثِيرٌ مِمَّنْ لَا قَدْرَ لِلدِّينِ عِنْدَهُ يَقَعُ فِي ذَلِكَ، وَلَا يَدْرِي قُبْحَ مَا فَعَلَ، فَمَنْ هَنَّأَ عَبْدًا بِمَعْصِيَةٍ أَوْ بِدْعَةٍ أَوْ كُفْرٍ فَقَدْ تَعَرَّضَ لِمَقْتِ اللَّهِ وَسَخَطِهِ
..
🚧 “Mengucapkan Selamat Natal kepada orang nasrani sama saja dengan mengucapkan Selamat atas sujudnya kepada salib, maka itu lebih besar dosanya dan kemurkaannya di sisi Allah daripada mengucapkan Selamat Minum Khamar, Membunuh Jiwa, Berzina dan yang semisalnya (karena syirik adalah dosa terbesar).
.
🚫 Dan banyak orang yang tidak memiliki pemuliaan terhadap agama (Islam) melakukan hal tersebut, sedang ia tidak mengetahui kejelekan perbuatannya itu, padahal siapa yang mengucapkan Selamat terhadap seseorang karena satu kemaksiatan, kebid’ahan atau kekafiran maka sungguh ia telah mengantarkan dirinya kepada kemurkaan dan kemarahan Allah.” [kitab Ahkaam Ahli Dzimmah, 3/441]
.
Ini berarti setiap muslim di Larang keras : Ikut serta hadir dalam perayaan-perayaan Kaum Kafir, termasuk ikut berfoto-foto dengan simbol-simbol ritual ibadah kaum Kafir. atau turut serta membanggakan diri untuk hadir di tengah-tengah simbol perayaan Kafir ! Hal ini jelas Terlarang dan Hukumnya Haram !
.
secara umum kita dilarang menyerupai mereka dalam hal yang menjadi kekhususan mereka. Penyerupaan ini dikenal dengan istilah tasyabbuh.
.
Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
.
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
.
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269)
.
Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
.
لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا
.
“Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).
.
Diriwayatkan oleh imam Baihaqi dengan sanad shahih dari Umat bin Khatab radhiallahu anhu, dia berkata:
.
لا تدخلوا على المشركين في كنائسهم يوم عيدهم فإن السخطة تنزل عليهم
.
“Jangan masuk ke gereja orang musyrik pada hari raya mereka. Karena kemurkaan akan menimpa kepada mereka.”
.
Umar juga mengatakan,
.
اجتنبوا أعداء الله في أعيادهم
.
“Jauhilah musuh-musuh Allah di hari raya mereka.”
.
Diriwayatkan oleh imam Baihaqi dengan sanad jayid (cukup kuat) dari Abdullah bin Amr, beliau berkata:
.
من مَرَّ ببلاد الأعاجم فصنع نيروزهم ومهرجانهم وتشبه بهم حتى يموت وهو كذلك حشر معهم يوم القيامة
.
“Barangsiapa yang melewati negara asing dan melakukan perayaan mereka serta menyerupai mereka sampai dia meninggal dunia. Maka dia akan dikumpulkan bersama mereka pada hari kiamat.”
.
(kitab Ahkamu Ahli Zimmah, 1/723)
.
“..Tidak dibolehkan bagi umat Islam untuk melaksanakan, hadir dan ikut serta bersama orang Kristen. Karena hal itu termasuk bekerja sama dalam dosa dan pelanggaran. Dan Allah telah melarang hal itu. wabillahit taufik. Selesai dari kitab..”
(Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 2/76)
.
Maka Marilah kita renungkan bersama semua Nasehat dan peringatan ini , demi tegaknya Aqidah Tauhid dan kita selisihi kaum Kuffar, sehingga kita semua terhindar dari perkara-perkara bathil. Dan Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua agar bisa berpegang dengan ajaran Islam dan diselamatkan dari segala bentuk meniru-niru orang kafir.
.
Karena seorang muslim semestinya tahu bahwa tidak ada agama yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali agama Islam, dan bahwa agama ini telah menghapus agama-agama yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya. Sehingga kalau agama yang benar yang dibawa oleh para rasul saja dihapus dengan datangnya agama yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, lalu bagaimana dengan agama yang sudah berubah sebagaimana agama Yahudi dan Nashara yang ada sekarang ini? Maka tentunya sangatlah tercela perbuatan orang-orang yang meniru-niru ritual buruk Orang Kafir…! ….Wal-iyyadzubillah. ‘
.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wallahul musta’an.
Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad.
Subhanaka Allahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaha ila anta astaghfiruka wa atubu ilaika. Walhamdulillahirobbil ‘alamin.

Sumber

About these ads

Leave a Reply

%d bloggers like this: