About these ads

[OPINI] Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak

Akhirnya Bahan Bakar Minyak diumumkan kenaikannya malam ini. Dibeberapa tempat sepertinya sudah mulai orang-orang menimbun minyak jenis yang harganya masih IDR 6,500 karena esok harga premium sudah harga baru IDR 8,500. Saya sudah pasrah dengan keputusan pemerintah untuk menaikkan BBM. Indikasinya sudah kuat kesitu. Bahkan di sosial media pun teman-teman yang pro kenaikan BBM memberikan sebuah pernyataan yang menarik. “BBM naik pada protes, Harga Rokok naik pada diam saja.”

Saya pernah memberikan argumentasi pada pernyataan ini dan sekarang saya ulangi lagi. Kenaikan harga BBM dan kenaikan harga rokok itu, menurut saya, jauh berbeda. Memang baik BBM atau rokok menjadi sebuah kebutuhan yang tidak terpisahkan dari orang Indonesia, tetapi efek yang dirasakan antara keduanya sangat bertolak belakang.
Seperti tahun sebelumnya saat presiden SBY menaikkan harga BBM, harga-harga kebutuhan pokok masyarakat Indonesia langsung naik. Bahkan cabe pun lebih dahulu naik harganya mendahului harga BBM. Bagi masyarakat minang cabe adalah penyedap ketika makan, rasanya belum puas jika tidak ada cabe yang dijadikan sambal menemani aktivitas makan. Cabe baru sebagian kecil dari kebutuhan masyarakat, nantinya beras, daging, telur, dan bahan kebutuhan pangan lainnya akan mengikuti kenaikan BBM. Rokok pun akan naik harganya saya kira. Kenaikan harga BBM ini mungkin akan berakibat bertambahnya penduduk miskin di Indonesia. Saya bukan orang ekonomi namun saya hanya seorang pencaricerah yang mendapatkan penjelasan dari pakar-pakar ekonomi di media.
Momen kenaikan BBM juga tidak tepat karena harga minyak dunia di pasar NYMEX (setahu saya acuan dari pasar minyak global) justru sedang turun. Tapi pemerintah yang tetap menaikkan harga BBM mungkin mempunyai gambaran tentang masa depan. Saya hanya berharap ketika harga minyak dunia kembali naik pemerintah tidak menjadikan kondisi tersebut untuk kembali menaikkan harga BBM. 
Salah satu faktor lagi kenaikan BBM “harus” dilakukan oleh pemerintahan Jokowi – JK adalah tidak tepat sasarannya subsidi BBM selama ini. Alasan yang sama juga dikemukakan oleh presiden SBY pada periode sebelumnya. Dan menarik ketika membaca tulisan dari politisi PDI-P Kwik Kwian Gie yang menyatakan pembahasaan subsidi BBM sesungguhnya tidak tepat karena yang terjadi adalah pemerintah sedang memperbesar margin profit atas penjualan minyak oleh Pertamina. (nanti diupdet tulisan Bp. Kwik Kian Gie).
Naiknya BBM juga diharapkan agar dapat mengurangi penyelundupan BBM bersubsidi ke luar negeri. Saya berharap demikian (penyelundupan berkurang atau malah hilang sama sekali). Saya ingin melihat pengawasan dari pemerintah dan PERTAMINA untuk hal ini. 
Mungkin juga ada beberapa tempat yang akan mengalami kelangkaan BBM dikarenakan pengumuman dari pemerintah ini. Seorang pedagang akan segera mengumpulkan barang dagangan dengan harga murah untuk esok dijual dengan harga baru. Ini prasangka jelek saya atas kondisi kenaikan BBM saat ini.

BBM naik tinggi, susu tak terbeli
(Galang Rambu Anarki, Iwan Fals)

About these ads

Leave a Reply

%d bloggers like this: