Mudik; Tradisi Yang Dirindukan

Tahun ini pun saya tidak mudik. Seperti tahun sebelumnya rencana keuangan saya masih berantakan. Ada niat, ada action tetapi jangan lupa ada kekuatan lain yang Maha Menentukan. Jadi meskipun tahun ini kembali tidak mudik, insya Allah tidak apa-apa karena tahun ini kedua orang tua saya berada di perantauan dan insya Allah dua adik saya akan menyusul sebelum Ramadhan berakhir.

Bagi saya rancangan Allah tahun ini sudah mengurangi rasa rindu untuk pulang. Dan saya puas dengan berlebaran di perantauan ini.

Kebiasaan untuk berkumpul dengan keluarga di hari raya idul fitri maupun di hari raya keagamaan lainnya di Indonesia sangat dimanfaatkan oleh masyarakat yang merantau. Temu kangen dengan saudara, kerabat, teman yang sudah lama ditinggalkan menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Banyak cerita yang akan mengalir ketika bertemu.

Bagi para pemudik pun ada beragam momen manis yang bisa teguk. Cobalah sekali-kali perhatikan bagaimana orang-orang yang selama ini tinggal di kota besar harus menepi dari hiruk pikuknya. Ada kekagetan luar biasa yang dialami.

Apalagi jika kamu baru pertama kali merasakan pulang ke kampung setelah berpuluh-puluh tahun orang tua kamu sendiri tidak melihat tanah kelahirannya. Istri saya dan tiga orang adiknya merasakan pengalaman yang luar biasa ketika dibawa pulang kampung oleh kedua orang tuanya.

Pengalaman berjalan di pematang sawah, duduk di atas punggung kerbau yang pulang sehabis membajak, makan di warung kopi ala masyarakat minang merupakan sebagian dari momen-momen fantastis yang hingga sekarang masih terngiang dalam memori.

Saya sendiri merindukan waktu menunggu buka puasa dengan berjalan-jalan di Bukittinggi. Turun di stasiun, terminal bayangan untuk angkutan pedesaan ke tempat tinggal saya, Anda kemudian cukup berjalan kaki ke Janjang Gudang. Di puncaknya Anda akan bertemu Pasar Ateh dan landmark kota Bukittinggi, Jam Gadang. Jangan berhenti di pasa (baca:pasar) tapi teruslah berjalan ke belakang pasar hingga kamu menemukan blok paling belakang dari Pasar Ateh. Tanya saja dimana sebuah kios yang sering kami kenali dengan TB ERI.

Di TB ERI ini saya menghabiskan waktu menunggu waktu berbuka. TB ERI merupakan sebuah kios yang mempunyai bisnis sewa menyewa komik kepada para pelanggannya. Ada banyak judul komik yang terdapat di TB ERI ini. Mulai dari yang lawas hingga judul komik yang paling baru. Kebiasaan saya untuk membaca sebuah cerita disertai dengan gambar-gambar yang menarik sangat terpuaskan disana.

Jika waktu shalat tiba, Anda cukup berjalan kaki dari TB ERI menuju Masjid Raya. Setelah menunaikan shalat biasanya saya lanjutkan membaca komik di kios penyewaan tadi. Jika bertemu teman lama atau saya merasa sudah bosan membaca, berjalanlah lagi ke janjang gudang.

Dulu, sewaktu SMA, di janjang gudang ada banyak tempat penyewaan konsol permainan Play Station. Entah kalau sekarang. Saya punya tempat favorit di salah satu kios yang terdapat disana. Maksimal, jika saya sendiri, bermain konsol PS bisa menghabiskan waktu dua jam dan itu sudah dekat dengan waktu berbuka puasa.

Permainan yang biasa saya mainkan tidak beda dengan anak-anak lain. Game permainan sepak bola seperti Pro Evolution Soccer atau yang lebih dikenal dengan Winning Eleven.

Semoga saja saya bisa mengulang kembali masa-masa itu dengan izin Allah.

Advertisements

Tinggalkan Balasan