Motivasi Ngeblog Setelah Menonton Video Dewa Eka Prayoga

Sudah lama saya tidak menerbitkan tulisan baru di blog pencaricerah.com. Lamaa sekali. Jika tidak ada pesan sponsor yang mau dibantuin buat jualan sekaligus promo mungkin teman-teman pembaca tidak akan menemukan tulisan baru sama sekali.

Inilah salah satu faktor positif mengikuti program monetisasi melalui content placement menurut saya. Ketika kita sedang de-motivasi dalam menulis, setidaknya ada bantuan untuk menyegarkan keadaan blog ketika kita sendiri sedang buntu (baca: malas menulis).

Sifat malas itu datang bukan tanpa alasan. Bertahun-tahun ngeblog sendiri membuat saya capek sendiri. Belum lagi motivasi saya mulai melenceng. Dari berbagi pengalaman menjadi mencari uang. Mungkin motivasi terakhir itu yang membuat saya kemudian malas untuk ngeblog. Pasalnya penghasilan saya yang sebelumnya mencapai target 1 dolar sehari tiba-tiba turun drastis. Jika penghasilan sudah turun, pastinya akuisisi trafik ke blog juga turun.

Padahal untuk mencapai penghasilan tersebut saya butuh waktu tahunan juga. Banyak waktu dan biaya yang sudah saya investasikan saat mulai ngeblog dengan hosting mandiri. Meskipun penghasilan yang saya dapatkan dari adsense maupun iklan mandiri tidak menutup biaya maintainance domain dan hosting, tapi itu menjadi motivasi saya untuk terus menerbitkan tulisan terbaru.

Makanya ketika terjadi penurunan trafik maupun penghasilan saya jadi down. Sempat terpikir kalau saya ingin menjual saja blog yang sudah lama saya kelola ini kepada orang lain yang berminat. Hanya saja saya belum tahu berapa harga yang harus saya pasang dan apakah ada orang yang tertarik untuk membeli blog pencaricerah.com ini?

Agar tidak berlarut-larut dalam kegalauan saya pun mencari hal baru untuk menyegarkan diri.

Alih-alih mencari informasi terbaru bagaimana caranya untuk memperbaiki blog dari sisi teknis maupun non-teknis dengan mengikuti blog-blog pakar digital marketing seperti Neil Patel, Yaro Starak dan lain sebagainya saya berselancar di Youtube untuk mendapatkan wawancara maupun seminar gratis dari beberapa pakar dan mentor bisnis kawakan. Ada banyak pakar dan mentor bisnis yang sudah membagikan pengalaman up and down mereka di situs streaming video milik google tersebut. Salah satu channel yang membuat saya tertarik untuk menulis adalah channel milik ceo situs red101.com, Christina Lie, khususnya pada wawancara eksklusif beliau dengan Dewa Eka Prayoga.

SEKILAS BAGAIMANA SAYA MENGENAL DEWA EKA PRAYOGA

Saya tidak mengenal dengan dekat dengan pakar penjualan digital asal Bandung ini. Pertama kali saya mengenal beliau mungkin dari facebook fan page milik motivator bisnis bernama Saptuari Sugiarto. Di fanpage tersebut mas Saptuari mengabarkan jika temannya Dewa Eka Prayoga sedang dalam masa penyembuhan dari sakit langka yang tiba-tiba menyerang beliau dan juga sedang terlilit hutang hingga 7,7 Milyar. Sebuah keadaan yang jika kita melihat sebagai orang awam, merupakan kondisi paling bawah dari seorang motivator dan mentor untuk pebisnis pemula.

Setelah postingan tersebut saya pun tidak lagi mencari tahu informasi lebih lanjut mengenai Dewa Eka Prayoga. Hingga kembali di fanpage yang sama saya melihat iklan buku kedelapan Dewa Eka Prayoga yang berjudul Easy Copywriting: Contek Habis, Sampai Laris! Buku ini saya beli karena saya ingin serius berjualan secara online baik itu melalui website sendiri maupun media sosial. Niatnya saya ingin mempersiapkan diri agar tetap memiliki nafkah ketika memasuki masa pensiun (atau amit-amit dipecat perusahaan) dengan berjualan online. Entah mau berjualan apa nantinya.

Julukan yang diberikan teman-teman yang mengenal pria asal Bandung ini juga tidak main-main, Dewa Selling. Julukan ini diberikan oleh orang-orang yang mengenalnya karena seringnya beliau mendapatkan mendapatkan peringkat dalam kontes penjualan produk afiliasi situs YukBisnis.com. Inilah yang membuat saya berusaha untuk belajar lebih jauh tentang teknik menjual dari Bapak satu anak ini.

TANTANGAN & KEUNTUNGAN MENJUAL SEBUAH PRODUK AFILIASI

Karakteristik penjualan sebuah produk afiliasi sangat unik. Ia akan memberikan penghasilan yang lebih baik dibandingkan dengan sekedar menampilkan iklan milik google atau sponsored content. Kita akan mendapatkan komisi dari setiap penjualan produk yang berhasil dilakukan. Besarannya bervariasi untuk setiap pemilik produk.

Kalau di marketplace seperti tokopedia dan bukalapak, komisi dibagi untuk beberapa kategori produk. 5% untuk penjualan produk elektronik atau 2% untuk penjualan produk dengan kategori lifestyle. Kalau komisi untuk penyedia jasa seperti perusahaan yang menjual domain dan hosting, komisi yang diberikan bisa 10 sampai 25 persen dari harga produk.

Jika pembeli sempat melakukan pembelian produk senilai 900 ribu rupiah dengan komisi sebesar 10%, maka kita akan mendapatkan potensi penghasilan 90 ribu rupiah. Jika dibandingkan dengan satu klik yang didapatkan dari program adsense, nilai ini tentu lebih besar. Bayangkan saja jika artikel yang memiliki link afiliasi itu sempat viral dan kita bisa menjual produk kepada 100 orang, potensi penghasilan yang akan kita dapatkan lebih kurang 9 juta rupiah.

Tantangan menjual sebuah produk afiliasi dengan blog ada pada bagaimana kita bisa meyakinkan pengunjung blog agar membeli produk yang ditawarkan melalui link afiliasi kita pada saat itu juga dan tidak melakukan pembatalan pemesanan dalam batas waktu yang ditentukan. Kenapa itu tantangannya? Karena orang tidak langsung membeli dari link afiliasi kita. Bisa jadi sekarang kita giring orang ke halaman produk tetapi ia baru membeli produk yang dimaksud keesokan harinya, minggu depan, atau bulan depan.

Bisa juga orang yang kita dorong untuk membeli produk pada saat itu juga melakukan pembelian tetapi esok harinya (atau dua minggu kemudian) memiliki pertimbangan lain hingga melakukan pembatalan transaksi dan meminta pengembalian dana.

Maka dari itu mendapatkan ilmu memenangkan penjualan produk afiliasi yang telah dilakukan oleh Dewa Eka Prayoga layak untuk dipelajari dan dipraktekkan.

Penjualan sebuah produk afiliasi yang saya lakukan menunjukkan hasil. Tingkat konversi promosi produk afiliasi yang saya lakukan mencapai 1%. Pencapaian ini menurut seorang teman blogger saya sudah luar biasa. Karena memonetisasi blog dengan menjual produk afiliasi lebih sulit dibandingkan dengan memonetisasi dengan google adsense maupun content placement. Tapi pencapaian tersebut belum membuat saya mendapatkan penghasilan. Ambang batas pembayaran yang harus saya capai harus 1.2 juta rupiah.

SERBA 3 UNTUK BANGKIT DAN PROMOSI PRODUK

Balik ke video yang saya singgung tadi.

Menonton video wawancara Kang Dewa yang membahas banyak hal membuat saya kemudian kembali termotivasi dalam menulis. Ada 3 hal yang membuat seorang Dewa bangkit dan menjadi Dewa Selling.

  1. Tobat dari kesalahan. Kesalahan apa saja? Tonton saja videonya.
  2. Yakin dengan pertolongan Allah.
  3. Sering menolong orang lain.

Tiga hal diatas yang dilakukan oleh Kang Dewa hingga ia mampu untuk memutar balikkan kembali keadaannya. Kelihatannya klise dan mudah dilakukan. Tapi apakah saya bisa mempraktekkannya? Lalu pertanyaan berikutnya adalah apakah saya bisa konsisten dan persisten menjalankan tiga hal yang disampaikan oleh Kang Dewa untuk minimal menyamai pencapaiannya saat ini?

Yang pasti setelah menonton video tersebut ada sekat-sekat yang membuat saya kemudian kembali menulis dan mengupdate blog yang sudah bertahun-tahun saya kelola ini.

Didalam video wawancara tersebut saya tidak hanya mendapatkan pelajaran bagaimana kita harus memperbaiki dengan merenungkan 3 hal yang membuat kita bangkit tadi tapi juga mendapatkan rumus promosi produk dari Dewa Selling. Ini patut saya catat selain 3 hal yang membuat Dewa Eka Prayoga bangkit.

Menurut Kang Dewa kita tidak bisa memberikan rumus penjualan melalui promosi tanpa mengetahui karakteristik produk yang dijual. Ada 3 pendekatan promosi terkait tipikal produk menurut beliau

  1. Tipe Produk Yang Dicari
  2. Maksud dari tipe produk yang dicari ini menurut Kang Dewa, adalah produk-produk yang calon pembeli mencari informasi detail tentang produk tersebut. Contohnya seperti layanan pembuatan website dimana perusahaan menjual domain dan hosting. Seseorang pasti akan mencari informasi bagaimana kinerja atau tingkat kepuasan pelanggan terhadap layanan dan produk (khususnya hosting) yang ditawarkan oleh sebuah provider/registrar. Contoh lain seperti orang yang akan membeli mobil atau rumah. Pastinya ketika akan membeli mobil atau rumah seseorang tidak hanya mencari informasi harga dan cicilan pembelian tetapi juga mudah/tidak spare part mobil, atau jauh atau dekatnya rumah dengan fasilitas umum seperti rumah sakit, pasar, terminal bus / stasiun kereta dan lain sebagainya.

    Oleh karena itu untuk tipe produk yang harus dicari informasinya bagi calon pembeli kita harus memaksimalkan promosi melalui website dengan SEO, Google Ads, atau membuat video Youtube.

  3. Tipe Produk Yang Ditawarkan
  4. Contoh produk yang ditawarkan ini menurut kang dewa seperti kosmetik atau buku. Maka promosi yang cocok untuk produk dengan tipe tersebut harus dipromosikan melalui facebook, whatsaap, telegram, atau instagram.

  5. Tipe Produk Yang Impulsif
  6. Kadang kita ketika berbelanja ke sebuah mini market atau warung sebelah rumah awalnya hanya ingin membeli satu barang saja. Contoh saya ingin makan mie goreng jadi saya ke warung dan ingin beli mie instant merek tertentu. Tiba-tiba ketika melihat isi dalam kulkas ada minuman teh dalam kemasan yang terlihat cocok dikonsumsi ketika makan mie goreng. Maka saya pun membeli minuman teh dalam kemasan tersebut dan juga mie instant. Inilah yang disebut dengan produk yang impulsif. Tiba-tiba saja ingin membeli produk tanpa niat untuk membeli pada awalnya. Oleh karena itu promosi untuk tipikal produk impulsif ini bisa dilakukan di marketplace, website sendiri, atau toko offline.

    Kira-kira produk afiliasi saya masuk kedalam kategori mana ya? Rasanya saya ingin meminta analisa dan pendapat dari pemilik billionairestore.co.id ini untuk meningkatkan penjualan produk afiliasi saya dan juga untuk memperbesar blog pencaricerah.com di masa depan. Bukannya tidak ada impian besar dari saya sendiri tapi sebagai single fighter tanpa ada orang yang diajak untuk diskusi, rasanya impian besar itu jauuuuh dari pencapaian.

    Bagi kawan-kawan yang juga sedang demotivasi mungkin ada baiknya menyimak wawancara kang dewa yang saya tonton. Silahkan disimak jika ada kesempatan dan kuota internetnya.

    Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *