Menjadi Seorang Ayah : Be A Father

Ketika Anda kesakitan di kamar bersalin, sang calon ayah berusaha menenangkan Anda. Ketika bayi lahir, ayahlah yang pertama kali mengabadikan wajahnya di kamera. Lalu di masa menyusui, ayah membantu menjadi ‘alarm hidup’ di tengah malam. Apalagi peran yang perlu dilakukan oleh sang ayah?

“Kalau sang ayah ikut membantu mengambilkan popok, membuatkan susu, atau menyiapkan air mandi, berarti ia menunjukkan sikap sebagai seorang suami yang baik, yang membantu sang istri mengurus anak. Tetapi untuk menjadi ayah yang baik, bukan hanya itu yang perlu dilakukan seorang ayah,” demikianlah pernyataan yang disampaikan oleh James B. Stenson, pembicara profesional dan konsultan sekolah di Amerika, yang menjadi pembicara di sebuah seminar parenting. Maksudnya, menjalani peran ayah bukan berarti hanya sekedar menjadi pendamping sang istri mengurus keperluan bayi. Ayah pun harus menjadi pemeran utama, karena ia memiliki peran yang penting dalam setiap tahap kehidupan anak.

Masa Bayi – 1 tahun: Umumnya, pada awal kehidupannya, bayi menunjukkan reaksi takut terhadap figur ayah. Berbeda dengan sang ibu yang bau tubuh, detak jantung dan suaranya sudah sangat dikenal sejak si bayi masih di dalam perut, sosok ayah bagi bayi adalah sesuatu yang sangat berlawanan. Mereka merasakan otot yang kasar dan tegang ketika berada dalam gendongan sang ayah. Sentuhan dan suara yang kasar dari ayah, sangat berbeda dengan suara ibu yang lembut. Umumnya bayi akan otomatis cenderung memilih ibu.

Karena penolakan sang bayi, seringkali sang ayah menjadi bertambah tidak pede kalau harus menggendong bayi. Akhirnya terpaksa ia memilih dan memosisikan diri hanya sebagai pemeran “pembantu” saja. Padahal di usia ini, ayah sudah bisa menanamkan dan membentuk landasan bonding dengan sang anak.

Untuk menarik perhatian bayi dan mendapatkan kepercayaan, ayah harus berusaha lebih keras untuk mengambil hati mereka, yaitu dengan mengajaknya bermain – menggelitik, memuta-mutarkan, mengayun, menunjukkan mimik lucu, dan semua usaha untuk membuat bayi tertawa. Itulah yang membentuk bonding dan kepercayaan bayi pada ayahnya. Lewat permainan, bayi mengenal dan memahami bahwa ayah memang kasar dan kuat, tapi dia juga lucu dan mencintainya.
Lewat permainan yang cenderung lebih kasar dengan ayah, bayi pun menyadari bedanya antara sentuhan ayah (pria) dengan sentuhan ibu (wanita). Kesadaran akan perbedaan gender sudah tertanam sejak awal.

Tip untuk Anda: Seringkali ibu protes bila melihat sang ayah berinterkasi sedikit kasar dengan si kecil: melemparnya ke atas, mengayun-ngayunkannya di udara. Sebaiknya tahan diri Anda, jangan melakukan protes. Memang itulah yang diperlukan bayi Anda. Biarkan ayah berinteraksi sesuai dengan gendernya sebagai pria. Yang penting semuanya masih dalam batas yang aman.
Masa Balita: Pada masa kanak-kanak, mereka akan lebih memahami dan menyadari perbedaan peran antara ibu dan ayah. Perlu Anda sadari, bahwa anak balita adalah “pengamat dan peneliti” yang ulung. Tanpa diajari pun mereka bisa melihat reaksi yang berbeda antara ayah dan ibu ketika menghadapi sebuah masalah. Mereka tahu, kalau mengeluh soal mainan yang rusak, mereka akan mendatangi ayah dan minta tolong dibetulkan. Sementara kalau mereka ingin meminta makan, ibulah yang akan mereka datangi. Ibu adalah spesialis dalam urusan domestik. Ibulah yang mengatur isi rumah dan melakukan ‘quality control’ kegiatan dalam rumah dan menjaga agar kondisi rumah tetap harmonis. Ibulah yang menjadi sumber keterikatan anak dengan rumah. Ibu mengajarkan hal-hal yang detil, kesabaran, harmoni dalam kehidupan keluarga.
Lalu apa yang perlu mereka lihat dalam peran ayah? Kehebatan dan tanggung jawab ayah dalam segala urusan yang berhubungan dengan dunia di luar rumah. Ayahlah yang berhadapan dengan orang asing dan dunia di luar sana. Ayah mengajarkan situasi hidup di luar rumah, bagaimana berhubungan dengan dunia luar dan rencana-rencana jangka panjang. Walaupun kedua orang tua sama-sama bekerja dan ada beberapa tugas yang overlapping , mereka tetap bisa merasakan adanya tanggung jawab yang berbeda. Dalam keadaan ‘normal’, ibu dan ayah saling menghargai otoritas masing-masing, anak-anak pun tumbuh dengan kondisi yang memberikan mereka kesadaran penuh akan perbedaan peran antara wanita dan pria. Orientasi hidup mereka sebagai pria atau wanita menjadi lebih jelas.
Tip untuk Anda: Bila ayah marah dan bereaksi keras terhadap ulah anak, sebaiknya Anda tak perlu ikut campur, apalagi sampai menunjukkan setidaksetujuan Anda di hadapan anak. Biarkan ayah bereaksi sebagaimana seorang laki-laki marah. Kalau ada yang tidak Anda setujui, lakukan ketika Anda sedang berdua saja dengan pasangan.

Pembentukan Karakter
Banyak ahli yang setuju bahwa peran ayah sangat menentukan pembentukan karakter seorang anak. Ibu bisa mengajarkan tata karma dan norma sopan santun, tetapi untuk menggembeng karakter yang baik, diperlukan sentuhan ayah.
Karakter adalah gabungan dari beberapa kekuatan pikiran dan kemauan yang terintegrasi dalam satu kepribadian. Kekuatan pikiran dan kemauan ini menyatu, menjadi suatu kebiasaan dan secara permanen melandasi perilaku seseorang dalam menjalankan hidupnya, di segala situasi. Ada 7 kekuatan pikiran dan kemauan yang membentuk karakter yang kuat:
Temperamen. Kemampuan mengontrol diri dan menegakkan disiplin. Bisa berpikir secara rasional untuk menyeimbangkan kesukaan atau kesenangan diri dengan tanggung jawab; antara kenyamanan dan keamanan.
Keadilan: Menghargai hak orang lain dan bertanggung jawab atas kewajibannya.
Kebijaksanaan: Bisa membedakan yang baik dari yang buruk. Berpikir panjang dan bisa melihat potensi bahaya yang ada di depan, yang tersembunyi di belakang kesenangan.
Amal: Mencintai Penciptanya dan menghargai sesamanya.
Harapan: Percaya akan pengharapan dan kekuasaan Sang Pencipta.
Kepercayaan: Meyakini suatu agama dan tahu tujuan hidupnya.
Ketujuh komponen inilah yang menentukan dan membentuk sebuah karakter.

Advertisements

Tinggalkan Balasan