About these ads

Mengenal dan Mewaspadai Syiah

Syiah dalam bahasa Arab berarti Pengikut atau Pembela. Syiah saat ini merujuk kepada kelompok yang mengaku bagian dari umat Islam namun tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar, Umar bin Khatab, dan Utsman bin Affan. Kaum Syiah hanya mengakui kepemimpinan Ali bin Abi Thalib dan juga anak keturunan beliau. Menurut kepercayaan sebagian kaum Syiah, kepemimpinan setelah wafatnya nabi Muhammad S.A.W. haruslah ditangan Ali bin Abi Thalib dan rasul telah mengisyaratkan hal tersebut.

Menurut sejarah, pendiri syiah adalah seorang Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba yang masuk Islam dan selalu menyanjung ahlul bait. Ahlul bait berarti anak keturunan yang berasal dari nabi Muhammad S.A.W. Kaum Syiah sering mengatakan bahwa mereka sangat mencintai Ahlul Bait terkhusus Ali bin Abi Thalib, Fathimah, dan Husein bin Ali, sedangkan untuk Hasan ra. tidak terlalu banyak sanjungan akan beliau seperti yang didapat oleh Bapak, Ibu dan saudara beliau. Karena kecintaan ini kaum syiah menolak kepemimpinan Abu Bakar, Umar, dan Utsman.

Syiah juga lebih dikenal dengan sebutan Rafidhah. Kata ini lebih mengkhusus lagi kepada kaum syiah yang meninggalkan Zaid bin Ali, anak dari Ali Zainal Abidin, yang memandang bolehnya memberontak kepada pemimpin yang zalim. (Maqalatul Islamiyyin, 1/137). Ibnu Taimiyyah dalam Majmu Fatawa mengatakan bahwa seorang Rafidhah pasti Syiah, tapi Syiah bukanlah Rafidhah (13/36). Imam Syafii pun berpendapat tentang Rafidhah ini, “Saya belum melihat seorang pun yang paling banyak bersaksi/bersumpah palsu (berdusta) dari Syi’ah Rafidhah.”

Syiah sering dimasukkan sebagai salah satu mahzab dalam Islam, namun jika melihat pokok dari keyakinan Kaum Syiah maka kita akan menemui bahwa dasar agama pun ternyata telah berbeda dengan Islam. Islam mengajarkan kepada umatnya bahwa Ia tegak atas lima perkara, yaitu kesaksian tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah, kedua Menegakkan Shalat, Membayar Zakat, Berpuasa, dan Haji jika mempunyai kemampuan. Sedangkan Syiah ditegakkan atas pertama Tauhid, bahwa Tuhan adalah Maha Esa; kedua Al-‘Adl, bahwa Tuhan adalah Mahaadil; ketiga, An-Nubuwwah, bahwa kepercayaan Syi’ah meyakini keberadaan para nabi sebagai pembawa berita dari Tuhan kepada umat manusia; Al-Imamah, bahwa Syiah meyakini adanya imam yang senantiasa memimpin umat sebagai penerus risalah kenabian; Al-Ma’ad, bahwa akan terjadinya Hari Kebangkitan.

Perbedaan lain antara Syiah dan Sunni adalah cara pandang sahabat Rasulullah SAW dan istri beliau, khususnya pada Abu Bakar As Siddiq ra, Umar Ibn Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Hasfah ra, dan Aisyah ra. Bagi Syiah tiga khalifah pertama umat muslim disangkakan manusia-manusia haus kekuasaan dengan menyembunyikan perintah Allah (ayat-ayat Al Quran) tentang kepemimpinan Ali Bin Abi Thalib ra sebagai pemimpin setelah mangkatnya Rasulullah SAW. Padahal siapapun yang belajar sirah nabawiyah mengenal Abu Bakar ra sebagai sahabat nabi paling setia, ia beriman kepada ajaran yang dibawa oleh Muhammad SAW pada saat pertama kali ia diseru. Abu Bakar bahkan mengorbankan seluruh hartanya di jalan dakwah. Ia ikut berhijrah, dan membela nabi pada saat masa-masa kritis yang mengancam jiwa nabi. Umar ibn Khattab ra adalah manusia yang ditakuti oleh Syetan, dan ia adalah manusia yang keislamannya di pintakan oleh nabi untuk memperkuat dakwah beliau pada masa dakwah di Makkah. Begitu Umar ibn Khattab menerima ajaran Islam, banyak kaum muslim yang tertindas kala itu berpendapat bahwa mereka menjadi kuat untuk menampakkan ibadahnya setelah sebelumnya hanya beribadah secara sembunyi-sembunyi. Utsman bin Affan apalagi beliau adalah menantu nabi, dua putri nabi dinikahkan kepada sahabat yang menafkahkan seluruh harta perniagaannya ketika terjadi penceklik di kota Madinah. Belum lagi kisah beliau yang membeli sumur dari orang Yahudi yang memastikan bahwa setiap orang mendapatkan air minum secara gratis dan mudah.

Terdapat beberapa aliran dalam Syiah. Aliran yang paling banyak dianut adalah aliran imamiyah, dan aliran ini yang menjadi sebuah ancaman besar bagi manusia dan muslimin secara khusus. Syiah Imamiyah merupakan aliran yang sangat mengagung-agungkan sahabat Ali bin Abi Thalib ra, Fatimah ra, dan Husein ra. Perlu diingat syiah Imamiyah meminggirkan Hasan ra, walaupun ia termasuk ahlul bayt. Isolasi ini disebut-sebut karena Hasan ra telah bersedia membaiat Muawiyah sebagai khalifah, padahal nabi SAW telah bersabda tentang ketinggian kedudukan Hasan ra. “Anakku ini akan mendamaikan dua kaum,” begitu kira-kira perkataan nabi tentang Hasan ra. Sungguh sangat disayangkan ketika nafsu berkuasa berada di atas kepala kaum Syiah tidak melihat keagungan cucu kesayangan nabi ini. Kaum Syiah saat ini berusaha untuk ekspansi ke seluruh jazirah, dan yang paling terlihat adalah jazirah Arab. Konflik antara ahlu Sunnah dan Syiah di beberapa negara timur tengah seperti Yaman dan Suriah adalah bukti dari hipotesa ini. Syiah yang telah mengakar di negara Iran berusaha untuk masuk ke negara-negara ahlu sunnah seperti Yaman dan Suriah. Bahkan pentolan Syiah Jalaluddin Rahmat pada saat kampanye presiden tahun lalu memberikan ancaman untuk ahlu sunnah di Indonesia. Dan beberapa kejadian belakangan ini seperti pemblokiran situs-situs Islam, penyerangan di Masjid Az Zikra dan pembakaran mesjid Daarut Tauhid di Bandung sepertinya mengkonfirmasi pernyataan tokoh Syiah asal Bandung tersebut.

Tidak ada seorang muslim yang menginginkan perpecahan di antara kaum muslimin di dunia terkhusus di Indonesia. Tapi menutup mata terhadap beberapa kejadian yang bahkan media nasional pun tidak mau memberitakannya seharusnya dapat mengaktifkan kewaspadaan pada kaum muslimin di Indonesia bahwa ada gerakan yang akan mengancam keutuhan NKRI.

About these ads

Leave a Reply

%d bloggers like this: