Memilih Wakil di Lembaga Perwakilan Rakyat

Tahun 2013 ini sering disebut tahun politik oleh para politikus. Alasannya sederhana saja karena di bulan April 2014 bangsa kita akan kembali memilih wakil mereka untuk duduk di lembaga perwakilan rakyat, DPR/DPD dan MPR. Setelah itu kita akan melangsungkan pemilihan umum untuk menentukan siapa pemimpin bangsa Indonesia untuk lima tahun kedepan yang juga menjadi partner dari para wakil rakyat yang telah dipilih melalui pemilihan legislatif sebelumnya.

Kalau sahabat memperhatikan disekitar lingkungan sahabat tinggal atau beraktivitas pasti sudah terlihat pamflet, stiker, spanduk, atau segala bentuk alat kampanye bagi partai politik dan calon legislatif yang men-jual diri. Mungkin juga sahabat bosan melihat kampanye milik taipan media yang saban menit selalu muncul untuk mengiklankan janji mereka jika mereka terpilih sebagai presiden dan wakil presiden. Karena sebentar lagi pemilihan umum legislatif akan dijelang maka tentu segala cara akan dilakukan untuk membuat masyarakat minimal mengenali para calon legislatif atau partai politik yang akan bersaing untuk menjadi kelompok/orang yang pantas sebagai wakil rakyat. Untuk iklan massif dari para calon presiden dan partai politik yang mengusungnya gencar karena kalau tidak mungkin saya, atau sahabat akan melupakan momen paling penting dalam bernegara ini. Sebabnya Komisi Pemilihan Umum telah membuat peraturan agar para calon legislatif yang akan berlaga di pemilihan umum tahun depan harus memperhatikan rambu-rambu dalam berkampanye. Salah satunya adalah dengan tidak mengiklankan diri dengan spanduk yang membuat “kotor” di jalanan ibukota. Coba sahabat liat gaya kampanye partai politik dan caleg tahun lalu, dan bandingkan dengan tahun ini pasti sahabat akan menemukan kalau spanduk, stiker, baliho atau media lain yang semisal amat sangat jarang ditemukan di jalan-jalan. Alasannya ya itu tadi KPU sebagai pelaksana pemilihan umum telah membuat aturan yang me-restrict para calon legislatif untuk menyebarkan iklan yang mengakibatkan keindahan kota menjadi terganggu. Saat ini caleg dan parpol berganti strategi sepertinya, karena dijalan raya tidak boleh (merusak pemandangan) maka gang-gang kecil dan tiang-tiang listrik perumahan menjadi pelampiasannya.

Sebelum saya lebih lanjut membahas pemilu 2014, mungkin sebagian bertanya-tanya kenapa postingan saya berubah dari memberi tips belajar bahasa inggris menjadi membahas politik. Saya ingin menjelaskan alasan saya untuk membahas politik saat ini.

Beberapa waktu lalu seorang teman yang saat ini menjadi dosen di sebuah universitas negeri terkemuka di daerah asal saya memposting status pesimis skeptis di akun facebooknya. Dalam statusnya tersebut ia mengajak untuk golput atau tidak menggunakan hak pilih sebagai pilihan. Hal ini menggelitik saya karena saya tahu teman saya itu orangnya kritis, cerdas, dan jika ia mengemukakan pendapat pasti ada sebab yang mendasarinya. Dan saya sedikit memahami kenapa ia mengajak orang untuk tidak memilih dalam pemilihan daerah yang ia komentari. Sepertinya teman saya merasa frustasi dengan berbagai berita dan juga, mungkin,pengalamannya berinteraksi dengan manusia-manusia yang berpolitik dengan jargon “demi rakyat,” padahal apa yang dilakukan oleh oknum-oknum wakil rakyat tersebut merugikan rakyatnya. Tindakan merugikan rakyat ini pastilah semua sudah tahu. Korupsi!

Apa semua wakil rakyat yang korupsi? Lantas dengan menggeneralisir semua pejabat negara korupsi, apakah kemudian perbaikan tidak lantas dilakukan? Perbaikan yang saya maksud disini adalah dengan mengganti orang-orang yang korupsi dan mengkhianati amanat rakyat dengan orang-orang yang bisa dipercaya. Mungkin sahabat bertanya bagaimana caranya untuk mengenali orang-orang bersih ini. Jawaban atas pertanyaan itu simpel saja, dekati orangnya. Kita akan mengenal karakter seseorang saat kita dekat dengan orang tersebut. Apakah tokoh yang maju menjadi caleg melalui parpol atau independen tersebut mau menerima sahabat saat dirumah atau dikantor atau saat si caleg sendirian? Jangan saat ia kampanye baru sahabat dekati karena karakter orang saat ia berada di depan khalayak berbeda dengan saat ia sendiri.

Yang ingin saya sampaikan adalah jangan sampai anda memilih untuk tidak memilih alias golput. Karena kita punya kesempatan lewat pemilihan umum untuk memperbaiki kondisi bangsa dan negara kita ini. Dengan sengaja golput berarti sahabat tidak mau memperbaiki kondisi sekarang, dan orang yang tidak mau memperbaiki kondisi dirinya sendiri tidak layak untuk berkeluh kesah.

Advertisements