About these ads

Masuk Sastra Inggris itu …

Menjadi mahasiswa sastra adalah sebuah keputusan terbaik saya walaupun jika mengingat masa lalu kadang saya menjadi merinding. Teringat dosen killer yang baru menyelesaikan studi di luar negeri yang membawa metode belajar mengajar di luar negeri ke jurusan saya. Namun berkat beliau saya menjadi tahu arti menjadi mahasiwa dan menikmati kepuasan dalam menulis berdasarkan isi kepala sendiri bukan dari buku teks saja.

Sistem pendidikan di Indonesia terlalu mengandalkan hapalan, ketika seorang pelajar yang terbiasa menghapal disuruh menggali apa yang ada dalam otaknya terhadap sebuah wacana maka serta merta keningnya berkerut dan mengeluarkan keringat dingin. Itulah saya ketika berhadapan dengan dosen saya. Makanya saya lebih senang sejarah yang ada hapalannya dibanding matematika yang kemudian membuat otak saya mendadak kram. 🙂

Masa-masa saya menggunakan otak adalah ketika saya harus menghadapi dosen killer selama satu semester dalam mata kuliah analisa novel. Novel yang harus dianalisa waktu itu adalah novel karya Arundhati Roy. Novel tentang kehidupan sosial di India yang mendapat berbagai penghargaan kesusastraan di dunia. Ada banyak fenomena sosial di India yang dibahas dalam novel tersebut. Mulai dari isu feminisme, post modernisme, dan lain-lain sesuai dengan pengetahuan anda mengenai teori sastra. Judul novel tersebut The God of Small Thing.

Saya tidak ingat hingga kapan saya bisa mengupas novel dari Arundhati Roy ini. Setiap pertemuan saya selalu menjadi bahan amukan ibu dosen yang selalu mengatakan bahwa saya hanya memberi ringkasan bacaan setiap pertemuan. Agak frustasi pada awal-awalnya dan saya beruntung bahwa baik dosen saya itu maupun teman-teman seangkatan sabar dalam menghadapi kebebalan saya dalam menganalisa novel. Alhamdulillah ketika akhir semester saya bisa menganalisa novel dengan mengangkat sebuah isu sosial. Dan nilai saya lumayanlah, hehehehe.

Satu titik penting dalam hidup saya adalah mengambil prose analysis. Dimana saya mengolah otak yang terbiasa menghapal menjadi membiasakan menganalisa.

Jika saya bawa kepada kehidupan sehari-hari maka sebuah ungkapan bahwa kebenaran itu relatif ada benarnya. Hanya saja dari sudut pandang mana anda mau melihatnya. Kalau kata dosen saya itu anda melihat sesuatu tergantung kaca mata apa yang anda pakai. Jika lensanya merah maka anda akan melihat dunia dalam warna merah, jika anda melihat dengan kacamata hitam maka dunia yang anda lihat akan gelap, dan jika anda melihat dengan kacamata yang bening anda akan melihat berbagai warna yang terdapat didunia.

Balik lagi ke nostalgia saya dengan sang dosen killer (aduh mudah-mudahan beliau ga baca postingan ini atau punya akun facebook secara postingan ini akan otomatis muncul di timeline). Metode yang dipakai dosen saya dalam mengajar juga membuat perubahan dalam diri saya sebagai seorang penghapal. Mahasiswa Indonesia selain penghapal juga paling suka membuat sebuah tulisan yang disalin dengan menggunakan tombol ctrl C dan ctrl V. Mahasiswa copas kalau ane dan kawan-kawan menjuluki. Dulu mungkin karena merasa begitu jumawa karena menghasilkan sebuah karya tulis sendiri dengan otak sendiri. Tapi sekarang saya kasihan. Internet memang memudahkan pekerjaan mahasiswa dalam mencari bahan referensi tulisan namun jangan di copas plek-plek juga dong. Dan my darling lecturer selalu tahu siapa saja yang melakukan kecurangan (#menggigil).

Mudah saja kalau saya saat ini memikirkan trik si ibu dosen. Tentu saja beliau akan tahu siapa yang copas dari internet secara beliau di dalam kelas selalu memperhatikan kemampuan analisa mahasiswanya. Tentu kemampuan itu akan juga terlihat dalam karya tulis berupa makalah. Dan benarlah ungkapan kejujuran itu berbuah manis. Setiap orang mempunyai kemampuan berbeda-beda dalam menulis dan menuangkan hasil daya olah otaknya terhadap sesuatu dalam tulisan. Ada karakter dalam tulisan tersebut. Dan sebagaimana manusia yang mempunyai beragam karakter, gaya penulisan pun beragam pula.

Copas sebuah tulisan boleh saja namun imbangi dengan pemahaman mengenai tulisan yang disalin tersebut. Ini mungkin yang disebut dengan mengutip.

Awalnya sebuah cerpen kemudian sebuah novel lalu membedah puisi, sekarang bekerja diasuransi membedah polis (kontrak perjanjian antara perusahaan asuransi dengan peserta asuransi). If something is wrong I know why not just it is wrong. Thanks for the trouble Ms. Kurnia Ningsih.

Ini Sastra menurutku, bagaimana dengan kamu?

About these ads

3 Comment

  1. […] yang digunakan dalam film ini pun terlalu vulgar bahkan cenderung kasar. Tapi sehubungan saya lagi bernostalgia dengan kuliah saya di Universitas Negeri Padang Jurusan Bahasa Sastra dan Seni, saya akan mencoba melakukan […]

  2. […] Sastra Inggris Sebaiknya Menghindari Bank Mandiri Phonetics: Teknik Bahasa Inggris Dengan Mudah Masuk Sastra Itu Menyenangkan Dan Belajar untuk Kritis 7 Tips Belajar Bahasa Inggris Skype Aplikasi Untuk Memperlancar Berbicara Dalam Bahasa […]

  3. […] Sastra Inggris Sebaiknya Menghindari Bank Mandiri Phonetics: Teknik Bahasa Inggris Dengan Mudah Masuk Sastra Itu Menyenangkan Dan Belajar untuk Kritis Skype Aplikasi Untuk Memperlancar Berbicara Dalam Bahasa Inggris The Plot Against America, Novel […]

Leave a Reply

%d bloggers like this: