Masa Orientasi Sekolah (MOS)

Masa Orientasi Sekolah atau MOS merupakan sebuah kegiatan yang diselenggarakan sekolah untuk menyambut siswa baru. Biasanya panitia kegiatan ini berasal dari senior sekolah yang aktif dalam organisasi ekskul sekolah. Biasanya kegiatan MOS ini diselenggarakan di tingkat sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Isi kegiatannya sebenarnya hanya pengenalan terhadap cara belajar yang semakin “rumit” dan juga motivasi agar siswa dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekolah. Tapi banyak yang memprotes bentuk kegiatan MOS saat ini.

Seingat saya kegiatan MOS selain untuk memperkenalkan lingkungan sekolah juga agar siswa baru mengenal setiap “orang penting” di sekolah. Contohnya siapa nantinya yang menjadi wali kelas? Guru ini enak gak jadi wali kelas? Mata pelajaran apa yang diajar oleh si wali kelas? Ini hal penting selain nama kepala sekolah dan juga kepala tata usaha 🙂 . Disekolah juga ada ekskul apa aja? siapa saja senior yang aktif didalam ekskul tersebut? Prestasi yang sudah dicapai apa aja?

Sewaktu saya sekolah di tingkat SMP saya mengikuti penataran P4 jadi tidak ada kegiatan perploncoan. Semua kegiatan berada didalam ruangan dengan materi butir-butir pancasila. Di akhir kegiatan ada ujian mengenai materi P4 dan juga setiap siswa yang mengikutinya mendapatkan sertifikat. Setelah P4 ditiadakan sepertinya terjadi pergeseran terhadap budaya sekolah. Saya tidak tahu kapan persisnya tapi kegiatan penerimaan siswa baru yang lebih dikenal dengan MOS ini malah seperti meniru OSPEK di perguruan tinggi. Siswa senior seakan berhak untuk melakukan apa saja terhadap yuniornya. Kalau senior cowok banyakan nyari musuh atau nyari gebetan. Kalau cewek? Entahlah saya gak tahu juga apakah sama atau beda sama sekali.

Yang paling saya ingat pada kegiatan MOS yang saya rasakan di tingkat SMA/SMU adalah mendapatkan tanda-tangan senior dan juga guru pembimbing di sekolah. Kalau guru sih mending ya, paling ditanya “nama siapa? kelas berapa? dulu sekolah dimana?” dan lain sebagainya. Pokoknya standar bangetlah. Beda kalau ketemu senior, ga cuman pertanyaan standar yang diberikan tapi permintaan yang tidak masuk akal. Saya lupa apa saja yang diminta sama senior sewaktu SMA, yang saya ingat setiap minta tanda-tangan harus push up dulu berapa gitu. Untung juga saya tidak mendapat permintaan yang tidak masuk akal dari senior, kalau tidak mungkin yang saya ingat adalah wajah-wajah yang menjadi musuh hingga saat ini. Perkelahian antara senior dan yunior pada masa MOS menjadi hal yang tidak bisa ditolak. Hal ini dikarenakan permintaan senior-senior yang menjadi oknum dan bukan panitia yang meminta hal-hal aneh kepada yuniornya.

Maka saya mengapresiasi surat edaran dari Mendikbud tentang aturan-aturan kegiatan orientasi sekolah yang dilakukan saat ini. Bahkan sepatutnya setiap warga sekolah agar dapat menjaga kegiatan MOS dapat berlangsung sebagaimana mestinya.

Ada argumen yang mengatakan bahwa penggonjlokan yang dilakukan ketika MOS itu perlu untuk melatih mental dari siswa baru. Pertanyaannya apa mental siswa senior lebih baik daripada siswa baru? Kalau ujian masih nyontek trus kalau ada masalah masih ngadu sama orang tua lebih baik ga usah gaya-gayaan deh ngomong melatih mental. Toh masih ada masanya siswa baru itu akan diuji mentalnya ketika ia masih berstatus pelajar. Sikap mental untuk tidak gampang menyerah misalnya. Bukan soal berkelahi antar sekolah atau antar siswa, tapi terhadap bagaimana memperbaiki diri ketika ada hal-hal yang tidak bisa diraih dengan mudah. Contoh paling gampangnya bagaimana memperbaiki nilai mata pelajaran tertentu agar bisa lulus ujian nasional, atau bagaimana menghadapi pelajaran yang kita sukai tapi gurunya tidak kita sukai.

Disini seorang senior dalam kegiatan MOS harusnya bisa berperan. Bukan dengan dengan hardikan atau perintah push up setiap kali dimintai tanda-tangan oleh yuniornya.

About these ads

1 Comment

  1. […] Ospek itu hampir sama dengan kegiatan MOS disekolah. […]

Leave a Reply