About these ads

Mari Belajar Tentang Rejeki Yang Barakah/Berkah

Pada postingan yang 15 Profesi Yang Bergaji Tinggi saya sempat menyinggung tentang rezeki yang berkah. Rezeki yang berkah akan membuat hidup akan selalu merasa cukup. Dalam nasehatnya ustadz Nandang Burhanuddin menyentil “Wajar setiap gajian selalu kurang, karena keberkahan telah hilang.”

Saya coba merinci apa itu keberkahan dengan merujuk pada buku ustadz Salim A Fillah. Dalam bukunya berjudul Barakallahu Laka, Bahagianya Merayakan Cinta disebutkan berkah adalah bertambahnya kebaikan yang kita alami waktu demi waktu. Tidak peduli sedang mengalami kebahagiaan maupun goncangan seorang muslim akan selalu mengingat Allah, Tuhannya. Ketika bahagia, mendapat rezeki lebih seperti mendapatkan bonus dari kantor, atau dari usaha sampingannya, ia akan ber-SYUKUR kepada Allah Yang Maha Pemberi. Sebaliknya ketika dunia serasa sempit dengan banyaknya cobaan dan musibah, hamba tersebut akan ber-SABAR. Karena itu Nabi Muhammad S.A.W. bersabda

Menakjubkan sungguh urusan orang beriman. Segala perkaranya adalah kebaikan. Dan itu tidak terjadi kecuali pada orang-orang beriman. Jika mendapat nikmat, ia bersyukur, dan syukur itu baik baginya. Jika ditimpa musibah dia bersabar, dan sabar itu baik baginya. (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Dua kata ini akan mengantarkan kepada rezeki yang berkah. Namun dua kata ini jika tidak dilatih maka akan serasa sulit. Jika tidak dilatih dari sekarang maka akan mudah lidah berkata, “Lebih mudah mengucapkan daripada melakukannya”. Percayalah, jika tidak mulai dilatih dari sekarang maka anda akan tersiksa karena rezeki yang kurang berkahnya tersebut.

Saya pernah menuliskan (baca: curhat) tentang sebuah ketidakadilan yang saya rasakan setahun yang lalu perihal pembagian bonus di perusahaan. Keluhan saya pada tulisan tentang bonus karyawan dan bonus untuk semua mungkin bentuk ketidaksabaran saya dalam menerima keadaan, yang kini dicoba untuk berubah (mohon doanya 🙂 ).

Umar bin Khatab r.a. berkata tentang keberkahan yaitu seperti dua kendaraan yang ia tidak peduli harus menunggang yang mana: Sabar atau Syukur. Seorang tabiin, Ibnul Qayyim berkata, Barakah adalah semakin dekatnya hamba kepada Rabb, semakin akrabnya seorang hamba dengan Allah. Aa’ Gym membahasakan, barakah adalah kepekaan untuk bersikap benar menghadapi masalah.

Saya mulai banyak merenung tentang topik ini, rezeki yang barakah, setelah menikah. Adalah kewajiban seorang suami untuk memberikan nafkah kepada istrinya, dan tentunya nafkah ini pun harus diperhatikan “kebersihannya”. Ada kekhawatiran dari diri saya sendiri jika nafkah yang saya dapatkan tidak bersih, karena akibatnya mungkin tidak pada saat saya mendapatkan nafkah tersebut tapi ditunda hingga beberapa tahun hingga saya tua dan anak-anak saya sudah besar. Apa yang saya sebut “nikmat” serta merta diganti Allah menjadi azab.

Ada banyak kisah yang saya dengar tentang rezeki yang tidak barakah. Salah satunya adalah timbulnya penyakit yang tidak berkesudahan bagi pelakunya. Seseorang yang mendapatkan kenikmatan duniat berupa kekayaan materi dengan proses yang tidak halal lagi zalim ditimpakan musibah penyakit yang menguras harta benda yang ia dapatkan dari proses yang tidak halal tersebut hingga ajalnya menjemput. Belum lagi keluarganya yang terpecah karena harapan untuk mendapatkan warisan dari harta kekayaan yang tidak didapat dari proses yang halal tersebut.

Terkadang saya menjadi respek kepada penjual asongan atau tukang semir sepatu yang menjaga diri dari meminta dan teguh dalam mencari nafkah halal yang akan membawa keberkahan bagi keluarganya. Ada banyak contoh disekitar kita tentang berkahnya rezeki, tapi kadang kita membatasi pengertian keberkahan itu dengan rezeki yang banyak dari jenis emas, kendaraan yang disukai, dan tanah yang luas.

About these ads

Leave a Reply

%d bloggers like this: