Jadikan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Perekat Persatuan bukan PERPECAHAN

Alhamdulillah hutang telah terbayarkan, meski belum semua. 
Sekarang saya ingin mengomentari mengenai pemilu presiden 2014 yang sedang dilalui oleh bangsa Indonesia ini. Seperti yang telah kita ketahui bersama pemilu capres dan cawapres di tahun 2014 hanya ada dua pasang kandidat, Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa dan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Dua pasangan calon presiden dan wakil presiden ini mempunyai banyak perbedaan dari pandangan mengenai ekonomi, hingga ke masalah internasional.
Adanya dua pasang calon presiden dan wakil presiden ini patut disyukuri karena kita sebagai pemilih tentu akan lebih mudah dalam memilih. Namun dilain pihak adanya dua pasang calon membuat konstelasi politik semakin memanas. Para pendukung kedua calon presiden dan calon wakil presiden di akar rumput saling menjagokan pasangannya masing-masing berdasarkan pemahaman mereka terhadap kedua pasang calon.
prabowo dan jokowi
hizbut-tahrir.co.id

Kampanye negatif dan kampanye hitam kemudian menjadi sebuah fenomena baru di pemilu presiden dan wakil presiden 2014. Calon presiden Prabowo Subianto diserang pribadinya dengan sebutan psikopat, pelanggar HAM yang berambisi menjadi pemimpin bangsa Indonesia. Pasangannya Hatta Rajasa disebut-sebut sebagai pejabat yang gagal dalam pemerintahan Presiden saat ini Susilo Bambang Yudhoyono. Di lain pihak Joko Widodo yang menjadi media darling diisukan sebagai capres boneka dan Jusuf Kalla diserang karakternya sebagai orang yang menjilat lidah sendiri.
Pendukung kedua pasang calon presiden dan wakil presiden saling mempunyai argumen untuk mendukung jagoannya dalam pemilihan umum kali ini. Inilah pemilihan umum paling ketat dan juga paling gawat untuk persatuan dan kesatuan Republik Indonesia. Setiap pendukung menyatakan bahwa jagoannya baik dan lawannnya tidak baik. Situasi politik antara dua kubu ini mengingatkan saya pada pernyataan George Bush ketika akan menyerang Irak. Either you are with us or with them
Dalam konteks pernyataan Bush “/US” (terjemahan Indonesia sederhananya “Kami”) menyiratkan bahwa kami lah yang benar dan yang paling adil, sedangkan “them” atau mereka berarti orang-orang diluar kami yang tidak seide dengan kami, yang menjadi lawan kami. Alasan saya menyamakan pernyataan Bush dengan kondisi sekarang adalah para pendukung kedua capres dan cawapres seakan mengambil kebenaran mutlak diyakini oleh masing-masing. Hal ini tentu baik namun pendukung capres dan cawapres yang tidak dewasa dalam berpolitik akan menimbulkan efek yang merusak.
Gosip politik di media-media sosial baik dari ronin Indonesia maupun di media cetak dan televisi yang menjadi sumber sah sebuah kebenaran peristiwa memperkirakan ada kegiatan yang akan merusak pesta demokrasi di Indonesia. Salah satu tim sukses calon presiden dan wakil presiden bahkan mengeluarkan statement provokatif yang dikhawatirkan merusak kondisi pemilu yang diharapkan dapat menjadi pemilu damai. Tudingan dan tuduhan salah satu tim sukses capres dan cawapres yang diedarkan melalui media informasi baik yang independen maupun yang bersifat massa mainstream menjadi bumbu yang akan mengancam kesatuan. Untungnya ada capres dan cawapres yang selalu mengingatkan bahwa mereka siap menang dan siap kalah. Capres dan cawapres ini tentu tidak menjadi soal namun jika ada capres dan cawapres yang bersiap untuk tidak menerima kekalahan itu yang patut diwaspadai. Saya hanya berharap bahwa gosip-gosip politik yang beredar di dunia maya itu hanya sebuah isapan jempol atau hanya angin bau yang cepat berlalu. SBY yang masih mempunyai kuasa selama beberapa bulan kedepan juga sigap memerintahkan kepada setiap angkatan bersenjata dan kepolisian untuk menjaga pelaksanaan pemilihan presiden dan wakil presiden di Indonesia.
Sudah beberapa kali juga media asing baik jurnalisnya sendiri dan juga pemerintah asing melalui dubes atau tangan lain mengeluarkan pendapat yang saya tangkap seperti memancing di air yang keruh. Tuduhan demi tuduhan dilontarkan untuk dimakan oleh rakyat Indonesia terhadap salah satu calon presiden, padahal sebagai tamu di negara Indonesia mereka harusnya sebagai pengamat yang pasif dan objektif. Kecuali jika kekuatan asing memang seperti yang digosipkan sedang berupaya memecah belah rakyat Indonesia dengan perkataan-perkataannya.
Akhirnya saya harus menutup tulisan ini dengan mengingatkan kepada rekan semua untuk memakai hak sebagai warga negara Indonesia dalam memilih pemimpin. Apapun nanti hasilnya maka para kandidat dan timses beserta pendukung di akar rumput harus legowo dan ikhlas menerima apa yang telah disepakati rakyat Indonesia melalui bilik suara. 
“Hati-hati..
Hati-hati…
Hati-hati provokasi…”
lagu mars mahasiswa sewaktu demonstrasi.
Advertisements

Tinggalkan Balasan