Indeks Prestasi Kumulatif, Unsur Penting Yang Dilupakan Mahasiswa

Sebagai mahasiswa saya orang yang cukup berhati-hati soal IPK atau Indeks Prestasi Kumulatif. Pasalnya ketika saya membaca iklan lowongan kerja baik di surat kabar maupun di portal lowongan kerja, IPK merupakan salah satu persyaratan yang cukup sering saya temukan.

Pendapat saya diatas mungkin saja anda patahkan dengan menyebutkan orang-orang kaya seperti Bill Gates, Mark Zuckerberg, atau almarhum Bob Sadino tidak peduli dengan hasil Indeks Prestasi Kumulatif ini. Tidak salah memang tetapi lihat saja orang-orang tersebut, mereka tidak kuliah dan menjadi seorang pengusaha. Kalau anda kuliah dan ingin bekerja di perusahaan (bukan menjadi pengusaha) sebaiknya jangan gunakan alasan tersebut untuk pembenaran sikap masa bodoh dengan berapa nilai IPK yang anda peroleh saat ini.

Atau mungkin juga orang tua anda salah satu orang terkaya di Indonesia jadi anda tidak perlu repot-repot memikirkan berapa IPK anda nanti karena sudah ada bisnis warisan yang akan anda jalankan.

Tapi saya pun membaca anak-anak orang kaya seperti anak-anak konglomerat dunia diajarkan untuk tidak menyepelekan pendidikan. Dan mereka pun gengsi untuk hidup dibawah bayang-bayang orang tua mereka yang kaya. Maka tidak heran jika anak seorang Bill Gates, Jenifer Gates, malah serius kuliah di jurusan Biologi Universitas Stanford. (sumber)

Jadi saya balik lagi, kalau anak konglomerat dunia saja serius kuliah kenapa KAMU yang bukan anak orang kaya malas-malasan?

Pentingnya Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) Untuk Mahasiswa

Pentingnya nilai Indeks Prestasi Kumulatif yang akan anda bawa untuk melamar pekerjaan nantinya dirasakan dengan sangat oleh kerabat saya yang baru selesai kuliah tahun ini. Ketika kuliah kerabat saya ini sangat tidak peduli dengan nilai Indeks Prestasi yang ia peroleh setiap semester. Padahal IP per semester yang didapat menentukan nilai IPK di akhir kuliah nanti.

Ke-tidakpedulian-nya terhadap kuliah yang sedang diikuti membuat kedua orang tua kerabat saya ini pusing. Sudah banyak orang yang menasehatinya untuk serius kuliah, perbaiki Indeks Prestasi tetapi tetap saja nasehat dan saran numpang lewat saja di kupingnya.

Orang tua tentu khawatir bagaimana masa depan anak mereka jika nilai yang dibawa dibawah standar yang ditentukan setiap perusahaan, ipk 2.75. Lulusan universitas terkenal dengan IPK diatas standar saja susah untuk diterima oleh perusahaan bonafide apatah lagi lulusan yang nilainya jauh dibawah standar.

Ketika berdiskusi dengan orang tua kerabat saya ini, saya mencoba untuk memberi harapan kepada mereka. IPK tidak standar kalau punya keahlian tertentu pasti akan tertutupi, begitu kira-kira kata-kata penyemangat saya. Sayang orang tua kerabat saya itupun mengatakan kalau anaknya malah tidak mempunyai keahlian apa pun sebagai penyeimbang kekurangan indeks prestasi kumulatif yang ia dapatkan.

Sampai detik tersebut saya terdiam dan berdoa semoga saja Allah memberikan rezeki yang paling baik di sisinya.

Dan sekarang kerabat saya tersebut menyesal dengan nilai IPK dibawah standar yang ia bawa pulang. Penyesalan memang selalu datang belakangan, kalau didepan namanya Downpayment 🙂 (garing yak). Saya berharap pengalaman dari kerabat saya yang kini menyesal tersebut dapat menjadi pelajaran bagi anda, mahasiswa maupun calon mahasiswa. Jangan sekali-kali menyepelekan IPK yang akan menjadi modal anda saat melamar kerja.

Cara Menghitung nilai IPK Sederhana

Jika saat ini anda baru masuk kuliah, ada baiknya anda mempersiapkan sebuah file excell ataupun di google docs untuk memonitor pergerakan nilai anda per semester. Didalam file yang anda buat untuk menghitung nilai Indeks Prestasi Kumulatif tersebut anda cukup membuat kolom

  1. mata kuliah
  2. beban mata kuliah
  3. Indeks Prestasi
  4. dan terakhir perolehan Indeks Prestasi Kumulatif sementara

Pada kolom mata kuliah pastinya anda harus mengisi judul mata kuliah yang anda ikuti pada semester berjalan. Misal jika saat ini anda kuliah di jurusan sastra inggris dan mengambil mata kuliah dasar jurusan seperti Listening 1, maka anda tuliskan Listening 1 pada kolom mata kuliah.

Pada kolom kedua anda ketikkan beban mata kuliah yang diambil. Contoh, di mata kuliah Listening 1 beban sks yang harus anda ambil adalah 2 sks. Jadi anda cukup ketik 2 di kolom tersebut.

Pada kolom Indeks Prestasi, anda harus membuat rumus dulu sebelumnya. Jadi tujuannya ketika anda mendapatkan nilai A untuk mata kuliah Listening 1 maka anda bisa menghitung Indeks Prestasi anda di mata kuliah Listening di Semester pertama.

Sayangnya patokan nilai untuk menghitung IP anda ini bisa berbeda-beda untuk masing-masing perguruan tinggi. Contoh ketika saya kuliah pedoman nilai itu ada A, B, C, D, dan E. Jika mata kuliah yang diambil mendapat nilai A berarti IP yang anda dapatkan adalah 4 dikali 2 (beban sks). Untuk nilai B berarti nilai yang anda isi 3, C bernilai 2, dan D bernilai 1. Untuk nilai E anggap saja 0 (nol).

Di Universitas Andalas, nilai yang digunakan tidak seperti diatas. Nilai yang diberikan kepada mahasiswa berkisar pada A+, A, A-, B+, B, B-, C+, C, dan D. Jadi rumusan yang akan saya berikan untuk menghitung indeks prestasi kumulatif sementara tidak dapat hasil yang pasti. Untuk hal ini anda harus membuat rumusannya sendiri, mohon maaf.

BTW saya cari dulu file yang pernah saya gunakan untuk memonitor nilai IPK saya waktu kuliah. Sekali lagi saya mohon maaf.

Cara Mendongkrak Indeks Prestasi Kumulatif

Seperti yang saya sampaikan diatas anda sebagai mahasiswa harus memonitor nilai IPK sedari awal kuliah atau sejak semester pertama. Ada banyak cara yang dapat digunakan untuk mendongkrak indeks prestasi anda setiap semester. Tiga cara yang paling sering disampaikan oleh beberapa senior saya dan terbukti mendongkrak indeks prestasi saya di beberapa semester adalah

  1. selalu mengikuti kegiatan perkuliahan
  2. selalu menyelesaikan tugas tepat waktu
  3. berpakaian yang pantas dan rapi setiap kuliah

Standar memang.

Jika anda tanyakan kepada setiap senior kampus mana pun tiga cara ini saya yakin selalu disampaikan oleh senior anda atau pembimbing akademik anda.

Selain tiga hal standar diatas ada trik lain yang harus anda lakukan agar anda bisa mendapatkan IPK yang membuat orang tua bangga, dan perusahaan antre untuk mendapatkan anda sebagai karyawan mereka. Trik-trik ini dibahas secara rinci oleh mas Agus M. Irkham di buku 24 Cara Mendongkrak IPK terbitan Pro U Media. Buku yang diterbitkan di tahun 2012 seharusnya dibaca oleh kerabat saya. Sayang penyakit malas baca (yang harusnya tidak dimiliki oleh seorang mahasiswa) menjangkiti kerabat saya tersebut.

Buku ini hanya disimpan di lemari dan sepertinya tidak dibaca oleh kerabat saya tersebut. Sekarang hanya penyesalan yang ia dapatkan. Buku yang diterbitkan oleh penerbit Pro U Media, Yogyakarta ini saya beli lewat tokopedia.com.

Saya harap tulisan ini bermanfaat bagi calon mahasiswa maupun mahasiswa yang sempat mampir di blog pencaricerah.com.

 

Advertisements

Tinggalkan Balasan