About these ads

Hati Saya Bergetar Setiap ke Blitar; Sukarno Lahir di Surabaya

Beberapa hari ini di dunia twitter sedang ramai hashtag #HatiSayaBergetar, #NgakakSampeBlitar, dan tar-tar lainnya. Penyebabnya tidak lain adalah blunder presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, ketika memberikan sambutan pada hari lahirnya Pancasila di kota Blitar tersebut. Kota Blitar disebut-sebut sebagai tempat lahirnya Bapak Bangsa, Ir. Soekarno. Padahal seorang wartawan yang juga menjadi pengurus di Soekarno Institute telah memberikan klarifikasi terhadap sejarah lahirnya Bung Karno. Proklamator kemerdekaan dan juga presiden pertama Republik Indonesia ini dilahirkan di kota Surabaya. 
Akun anonim dengan nama Sang Pemburu menjadikan blunder ini sebagai inspirasi dan informasi berupa kultwit. Berikut kultwit dari Sang Pemburu yang telah dikumpulkan oleh Mang Usil di situs chirpstory.
Selamat malam tweeps. Menemani jelang tidur Anda, saya akan sedikit berbagi cerita. Topiknya masih terkait dgn kehebohan hari ini. Apa itu?
1. Hari ini jagad TL heboh soal “blunder”nya Jokowi menyebut kota kelahiran Bung Karno yg dia sebut di Blitar, padahal yg benar Surabaya.
2. Nah, terkait dgn kontroversi kota kelahiran Bung Karno itu, hari ini saya benar2 merasa beruntung. Lho? Begini ceritanya…
3. Empat tahun lalu, di sebuah kota di NTB, saya berkesempatan ngobrol2 dg sosok yg berperan besar dlm pelurusan sejarah kelahiran Soekarno.
4. Dia adalah seorang wartawan senior. Bahkan sangat senior. 4 tahun lalu usianya sudah 69 tahun, namun masih nampak sehat dan enerjik.
5. Namanya adalah Peter Apollonius Rohi, atau biasa dipanggil Peter Rohi. Dia asli NTT, lahir pd 14 November 1942
Peter Rohi
6. Belakangan saya baru tahu kalau Peter Rohi adalah Direktur “Soekarno Institute” yg berkedudukan di Surabaya.
7. Saat itu saya berkesempatan ngobrol2 dgn Peter Rohi hanya sekitar 45 menit, setelah sama2 menikmati plecing kangkung yg lezat..

8. Saya benar2 antusias mendengar cerita2 dr Pak Peter Rohi wkt itu, khususnya soal peristiwa2 bersejarah yg disaksikannya langsung.

9. Peter Rohi mulai aktif sebagai wartawan sejak tahun 1970-an. Bisa dibayangkan sekaya apa pengalamannya kan.

10. Dan di kalangan wartawan, nama Peter Rohi sdh tak asing lagi. Ini pesan yg selalu dikatakan kpd para juniornya:

11. Salah satu cerita yg dia sampaikan kpd saya waktu itu adalah soal “pelurusan sejarah” kota kelahiran Proklamator kita, Ir Soekarno.

12. Saat itu dia katakan, kota kelahiran Soekarno yg diajarkan dalam pelajaran sejarah di sekolah2 yaitu di Blitar adalah keliru.

13. Saat itu dia katakan, kota kelahiran Soekarno yg benar adalah Surabaya, bukan Blitar. Saya kaget.

14. Saya waktu itu kaget, kok bisa kota kelahiran seorang Presiden dan pendiri republik ini sampai simpang siur begitu. Mana yg benar?

15. Pak Peter bercerita dgn meyakinkan, bahwa dia telah melakukan penelitian dan penelusuran tentang kota kelahiran Soekarno yg sesungguhnya.

16. Penelitian dilakukan mulai dari buku2 lama, penelusuran tempat2 di Surabaya, sampai pergi ke negeri Belanda.

17. Dan dari serangkaian penelitiannya selama bbrp tahun, akhirnya disimpulkan dan dipastikan bhw Soekarno lahir di Surabaya, bukan Blitar.

18. Jujur saat itu saya belum yakin 100% dgn “klaim” Pak Peter Rohi bahwa Soekarno lahir di Surabaya. 

19. Mengapa belum yakin dg ‘klaim’ Peter Rohi itu? Krn selama sekolah/kuliah, di pelajaran sejarah selalu ditulis Bung Karno lahir di Blitar.

20. Tapi saya lihat Pak Peter Rohi begitu berapi2 bercerita kpd saya soal ‘pelurusan’ sejarah kota kelahiran Soekarno itu.

21. Waktu itu saya blm tahu kalau Peter Rohi adalah Direktur Soekarno Institute, lembaga yg mmg konsen dgn segala hal terkait Soekarno.

22. Tapi sbg pecinta sejarah, saya sangat antusias punya kesempatan ngobrol dgn sosok ‘langka’ spt Peter Rohi, wartawan lintas generasi.

24. Sebagai wartawan lintas generasi, Peter Rohi punya segudang cerita dan pengalaman menarik & berharga untuk dibagi.

25. Saya benar2 merasa beruntung waktu itu. Saking antusiasnya, diam2 saya rekam perbincangan kami pakai gadget, biar bs didengar lagi, hehe.

26. Saya tdk menyangka bila suatu hari apa yg kami obrolkan itu mjd kehebohan berskala nasional akibat “blunder” yg diucapkan seorg presiden.

27. Presiden yg oleh para pendukungnya dianggap laksana nabi, shg apapun kesalahan & blunder yg dilakukan tetap hrs dimaklumi. Itulah Jokowi.

28. Scr pribadi, sebenarnya kita bisa memaklumi “blunder” #hatisayabergetar ala Jokowi. Tapi itu kalau Jokowi rakyat biasa, bukan presiden!

29. Mengapa? Karena mmg selama puluhan tahun dlm pelajaran sejarah di sekolah2 kita diajarkan bahwa kota kelahiran Soekarno adalah Blitar.

30. Sementara ‘pelurusan sejarah’ kota kelahiran Bung Karno itu baru dilakukan pada tahun 2011 dg ditandai peletakan prasasti di Surabaya.

31. Sehingga wajar bila sebagian masyarakat kita belum tahu ihwal ‘pelurusan sejarah’ kota kelahiran sang proklamator dr Blitar ke Surabaya.

32. Tapi Jokowi adalah seorang presiden, orang nomor 1 di negeri ini. Sangat ironis ketika dia tdk tahu ihwal ‘pelurusan sejarah’ itu.

33. Apalagi itu menyangkut kota kelahiran sang proklamator, presiden pertama yg juga salah seorang pendiri republik ini.

34. Dan lebih ironis lagi, Jokowi adalah kader partai yg jualan utamanya adalah ajaran Bung Karno. Meski prakteknya jauh panggang dari api.

35. Apalagi presiden memiliki semua kelebihan yg tdk dimiliki rakyat biasa. Semua serba dilayani, termasuk segala informasi yg dibutuhkan.

36. Apa yg terjadi di Blitar kemarin adalah sebuah aib besar bagi 3 pihak sekaligus: Jokowi scr pribadi, lembaga kepresidenan, dan PDIP.

37. Kualitas Jokowi scr pribadi makin ‘ketakar’ seperti apa. Bagaimana konsen & penghargaannya kpd sejarah tokoh yg dia klaim sbg idolanya.

38. Apalagi dulu ada pendukungnya yg menjuluki Jokowi sbg ‘titisan Soekarno’. Kejadian kemarin tentu bikin kita terpingkal2 sulit berhenti.

39. Lembaga kepresidenan yg sangat terhormat itu juga dipaksa menelan aib yg sangat memalukan dgn kejadian ini. Benar2 memalukan!

40. Lembaga kepresidenan dgn segenap perangkat & pembantu2nya yg konon diisi orang2 “pintar” spt dilempar kotoran sapi dgn kejadian ini.

41. Dan yg juga layak menanggung malu adalah PDIP, krn selama ini Jokowi diklaim sbg kader terbaik sekaligus “anak ideologis” Soekarno.

42. Bgmn mgkn anak ideologis kok sampai tdk tahu kalau ada ‘pelurusan sejarah’ kota kelahiran ‘bapak ideologis’nya? ‘Anak’ macam apa itu?

43. Sehingga wajar bila pentolan PDIP spt Effendy Simbolon menuntut Jokowi minta maaf secara terbuka.

44. Dan ketika si pembuat pidato, Sukardi Rinakit pasang badan atas ‘blunder’ tsb, sesungguhnya itu tidaklah cukup.

45. Sbg pemimpin, Jokowi tdk bisa begitu saja melempar kesalahan yg memalukan ini kpd bawahannya. Jokowi sendiri hrs minta maaf scr terbuka.

46. Jokowi harus minta maaf secara terbuka kpd seluruh bangsa Indonesia dan khususnya kpd keluarga besar Bung Karno. cc @rsoekarnoputri

47. Jokowi tdk perlu minta maaf secara terbuka seandainya dia hanya seorang ketua RT yg berpidato di depan segelintir warganya.

48. Bangsa yg besar adalah bangsa yg menghargai jasa2 para pahlawannya, dan presiden lah yg semestinya pertama kali memberi contoh.

49. Apalagi pahlawan itu adalah sosok yg selalu ‘dijual’ ajaran dan ideologinya. Bahkan diklaim telah “menitis” kpd dirinya.

50. Dan salah satu bentuk penghargaan presiden thd pahlawan itu adalah yg paling awal tahu kalau ada ‘pelurusan sejarah’ kota kelahirannya.

51. Kembali ke sosok Peter Rohi, tak berlebihan bila dikatakan dialah sosok terpenting dlm ‘pelurusan sejarah’ kota kelahiran Soekarno.

52. Dan saya merasa beruntung berkesempatan mendengar secara langsung darinya ihwal ‘pelurusan sejarah’ itu ketika negara belum mengakuinya.

53. Ini artikel yg ditulis tahun 2011, di sini terlihat betapa besar peran Peter Rohi >http://www.republika.co.id/berita/senggang/sosok/11/06/10/lmkiso-sebuah-rumah-kontrakan-dan-putera-sang-fajar-menelusuri-jejak-rumah-kelahiran-bung-karno-di-surabaya (atau Menyusuri Jejak Rumah Kelahiran Bung Karno di Surabaya)

54. Artikel ini ditulis tak lama setelah dilakukan pemasangan prasasti di bekas rumah kelahiran Soekarno di Surabaya.

54. Menurut Peter Rohi, awal mula kekeliruan sejarah kota kelahiran Soekarno terjadi pasca peristiwa G 30S/PKI.

55. Sampai hari ini saya juga blm memahami, mengapa pemerintah Orde Baru sengaja “mengubah” kota kelahiran Soekarno?

56. Apa kepentingan rezim Orde Baru dgn menarik buku2 sejarah dan menggantinya dgn buku2 sejarah baru yg “mengubah” kota kelahiran Soekarno?

57. Saya jg heran, kenapa dlm kurun wkt 1967 s/d tahun 2000-an, tdk ada satu pihak yg mempermasalahkan ‘diubah’nya kota kelahiran Soekarno?

57. Saya jg heran, knp sejak awal Orba s/d tahun 2000-an, tdk ada satu pihak pun yg mempermasalahkan ‘diubah’nya kota kelahiran Soekarno?

58. Termasuk keluarga besar Soekarno. Tak ada yg secara terbuka berani memprotes “pemindahan” kota kelahiran Soekarno. Atau krn takut? CMIIW

59. Jangan2 bila tdk ada Peter Rohi dg Soekarno Institute-nya, mungkin hari ini kota kelahiran Soekarno msh di Blitar

60. Apresiasi juga u/ Bu Risma, walikota Surabaya. Dialah yg meyakinkan pemerintah pusat soal pelurusan sejarah ini!

61. Iseng2 saya search nama Peter Rohi di facebook, ternyata beliau adalah simpatisan @Prabowo08 & @Gerindra 🙂

62. Dan ternyata baru 2 bulan lalu Peter Rohi mengkritik keras Megawati soal pekik “merdeka” di satu sisi…

63. ..tapi di sisi lain nampak Megawati begitu menikmati ketika tangannya dicium Jokowi.

64. Dengan kata lain, Peter Rohi ingin menyampaikan bahwa meski sbg Presiden, Jokowi bukan sosok yg “merdeka” krn di bawah bayang2 Megawati.

65. Dan meskipun Megawati selalu memekikkan kata “merdeka”, nyatanya dia justru amat menikmati “ketidakmerdekaan” Jokowi si petugas partai.

66. Demikian cerita saya soal Peter Rohi, sosok kunci yg berperan besar dlm ‘pelurusan sejarah’ kota kelahiran Soekarno. Semoga bermanfaat..


About these ads

Leave a Reply

%d bloggers like this: