About these ads

Hari Sumpah Pemuda

Memperingati hari sumpah pemuda di tanggal 28 Oktober sekarang saya melihat tidak adanya sebuah kemeriahan dalam penyambutannya. Mungkin karena saya terlalu banyak berada di depan komputer di dalam kantor daripada beraktifitas di luar kantor. Hanya saja peringatan hari sumpah pemuda kali ini betul-betul beda yang saya rasakan.

Tanggal 28 Oktober 1928, kelompok-kelompok pemuda dari berbagai organisasi menyatukan pendapatnya dalam sebuah tujuan untuk merdeka dari penjajahan Belanda. Jong Islamiten Bond, Jong Java, Jong Sumatra, dan lain-lain mengadakan kongres dan melahirkan sumpah pemuda. Deklarasi sumpah pemuda yang digagas oleh organisasi pemuda yang berkumpul tersebut menyatakan:
1. berbangsa satu, bangsa indonesia
2. berbahasa satu, bahasa indonesia
3. tanah air satu, tanah air indonesia

Melihat kondisi pemuda dan pemudi Indonesia saat ini, kembali mempelajari sejarah yang terjadi sebelum lahirnya sumpah pemuda harus dilakukan. Tujuannya jelas yaitu agar pemuda dan pemudi bangsa ini tidak terjebak dengan perpecahan yang sedang dipersiapkan oleh bangsa lain.

Penjajahan bangsa lain yang secara tidak sadar telah dilakukan yaitu melalui budaya, ekonomi, dan pola pikir.

Lihatlah budaya nasional kita sekarang. Sangat sedikit pemuda dan pemudi yang melestarikan adat istiadat yang menjadi kebijakan lokal di masing-masing daerah. Di minang contohnya, ada berapa anak nagari yang mengetahui seluk beluk adat istiadatnya dan juga pentingnya posisi Kerapatan Adat Nagari. Di Jayakarta ini contoh lainnya, saya melihat kebudayaan asli terpinggirkan dengan kebudayaan impor. Menyedihkan melihat budaya betawi yang digunakan untuk mengamen dari satu komplek perumahan ke komplek perumahan yang lain.

Anak-anak, adik-adik yang menjadi generasi penerus bangsa ini lebih paham dengan budaya-budaya impor. Mereka lebih mengenal tata cara makan ala Eropa atau berpakaian ala K-Pop tapi sedikit yang mengenal deta, atau baju kurung.

Untuk rasa nasionalisme pun kita patut menyayangkan karena beberapa kali beredar di media sosial oknum-oknum pemuda yang ber-selfie dengan alas bendera merah putih. Atau di Papua Barat sana yang semakin menggencarkan teriakan dan juga aksi lepas dari NKRI dengan membakar bendera merah putih. Bendera yang menjadi simbol perlawanan dan pemersatu bangsa Indonesia yang dikibarkan pertama kalinya saat proklamasi kemerdekaan seakan menjadi benda mati yang tidak punya nilai. Seharusnya bendera merah putih tidak menyentuh tanah, itu yang saya pelajari ketika mendapatkan penataran P4 di sekolah menengah puluhan tahun yang lalu.

Ada banyak yang harus diperbaiki agar generasi muda kita minimal mengenal budayanya sendiri, tapi dengan keterbatasan saya semoga contoh diatas bisa memberikan gambaran.

Di bidang ekonomi kita sudah terjajah oleh korporat-korporat asing, disadari atau tidak. Setiap barang yang kita gunakan untuk kegiatan sehari-hari diproduksi oleh korporat-korporat asing. Mulai dari sabun mandi hingga alat komunikasi, padahal tidak sedikit pemuda dan pemudi yang mampu dan memiliki keahlian untuk membuat barang yang sama. Entah apa yang ada di pikiran para birokrat di negeri ini ketika mobil listrik akhirnya "diberikan" pengembangannya ke Malaysia. Padahal kita semua memimpikan adanya mobil nasional, transportasi yang menjadi kebanggaan setiap anak negeri. Produk yang dimulai dari anak negeri sendiri, diproduksi oleh anak negeri sendiri, dan digunakan oleh anak negeri.

Pemuda dan pemudi yang melahirkan sumpah pemuda mungkin berangan-angan agar rakyat Indonesia bisa mandiri ekonominya. Tidak harus bertumpu pada pasokan bantuan yang dibelakang bantuan tersebut ada jeratan untuk mencekik hingga membuat orang mati perlahan-lahan.

About these ads

Leave a Reply

%d bloggers like this: