About these ads

Go-Jek; Mahalnya Sebuah Ide Yang Bermanfaat

ide usaha ojek motor online
Nadiem Makariem – Founder Go-Jek

Ide itu memang mahal harganya. Paling tidak dengan fenomena ojek online yang baru-baru ini meledak. Go-jek mungkin sudah dikenal dibeberapa kota, selain Go-jek ada Grab Bike, dan Jeger. Paling anyar perusahaan sekelas Blue Bird pun mengeluarkan “produk” ojek dengan iming-iming yang menggiurkan. Tahukah teman kalau ide Go-Jek tersebut telah ada semenjak beberapa tahun yang lalu?

Saya Mengenal Go-Jek

Go-Jek pada awalnya adalah sebuah start up. Saya ingat aplikasi ini karena beberapa tahun yang lalu Metro Tv pernah mengangkat segmen teknologi dalam salah satu program acaranya (mohon maaf saya lupa apa nama acaranya). Saya juga tidak terlalu mengikuti program tersebut dari awal sampai akhir karena tidak berminat, tapi saya selalu ingat dengan ide dari founder Go-Jek.

Go-Jek diperuntukkan untuk memudahkan penggunanya dalam mencari layanan ojek. Jika sebelumnya si pengguna harus mencari pangkalan sekarang hanya butuh satu sentuhan dan menunggu driver ojek tersebut datang. Kemudahan lainnya adalah pengguna ojek tidak harus melakukan tawar menawar dengan ojek yang akan mengantarkannya karena tarif yang ditetapkan sudah fixed. Manfaat juga didapat oleh driver ojek, jika sebelumnya harus menunggu antrian untuk mendapatkan pelanggan dan mendapatkan penghasilan yang pas-pasan. Sekarang ojek jadi lebih mobile, setelah mengantar seseorang dari titik A menuju B, ia bisa mengambil “orderan” lagi dari titik B menuju titik C. Kalau seorang teman facebook mengatakan Go-Jek membuat ojek mencari pintu rezeki dibanding menunggu pintu tersebut dibuka.

Sekarang Go-Jek mungkin sedang diincar oleh ribuan mantan karyawan yang terkena PHK. Bahkan menjadi sebuah profesi yang dicari untuk menambah kepulan asap dapur. Ribuan orang mendaftar untuk menjadi driver Go-Jek (sekali lagi maaf Go-Jek terus yang dibahas). Tapi tahukah teman di awal start up ini launching berapakah driver Go-Jek? Saya tidak tahu pasti angkanya tapi dari wawancara host dengan founder Go-Jek saya dapat menangkap bahwa untuk mencari driver Go-Jek beberapa tahun lalu amat sangat susah. Mereka melobi ojek-ojek pangkalan untuk bergabung dengan perusahaan mereka.

Faktor-Faktor yang Membuat Ide Ojek Online Menjadi Booming

Ada beberapa faktor yang membuat layanan ojek online menjadi primadona pada saat ini menurut saya. Pendapat saya ini juga tidak murni dari saya sendiri tapi hasil diskusi di warung kopi dengan teman-teman lintas departemen.
Faktor pertama booming-nya smartphone android dan iPhone yang melengserkan blackberry. Smartphone berbasis OS android dan iPhone saat ini memperlihatkan keunggulan mereka dibanding blackberry. Saya pribadi berpikir jika blackberry masih menjadi primadona masyarakat saat ini maka aplikasi Go-Jek dan Grab Bike masih akan tertatih-tatih dalam pemasarannya.
Faktor kedua yang membuat GO-Jek dan layanan serupa menjadi primadona pada saat ini karena memberikan solusi berupa kemudahan untuk mengatasi kemacetan. Kota besar seperti Jakarta yang tidak tertata dengan baik, sistem transportasi massal yang masih belum sempurna serta juga membludaknya jumlah kendaraan di jalanan membuat penghuninya membutuhkan kendaraan alternatif untuk menghemat waktu. Entah itu waktu untuk bersama keluarga di rumah atau waktu untuk menjalankan aktifitas lain yang produktif.
Faktor ketiga adalah bukti dari penghasilan para driver Go-Jek yang menyebar secara viral di media sosial. Berbagai testimoni yang dikeluarkan pun teknik marketing yang eye-catching membuat semakin banyak pendaftaran pengguna layanan ini. Beberapa dari berita yang menyebar secara viral tersebut adalah Driver Go-Jek cantik (yang ternyata partner Go-Jek yang sedang dalam sesi pemotretan) dan juga kisah menejer perusahaan yang sengaja pindah menjadi driver dan juga mendapatkan penghasilan yang lebih besar dari gajinya sebagai menejer.

Berapa investasi founder Ojek online ini pada bisnisnya?

Seperti yang telah saya sampaikan di awal tulisan bahwa saya mengenal Go-Jek ini pada salah satu program televisi. Karena penasaran saya cari di google dan menemukan situs Go-jek. Jika membuat sebuah situs profesional biayanya bisa dilihat dari beberapa situs penyedia layanan hosting di Indonesia, rata-rata biaya pembuatan situs sekitar 1 juta rupiah. Namun untuk GO-Jek saya rasa lebih, karena situs ini membutuhkan server khusus untuk menampung ribuan database penggunanya. Mungkin situs go-jek mempunyai server sendiri yang dapat mereka maintain sendiri. Belum lagi membuat aplikasi yang sinkron dengan situs yang telah ada. Ah saya tidak tahu berapa pastinya dana yang dibutuhkan. Saya sendiri masih bermodalkan 26 dolar untuk maintain domain doang. Untuk hosting masih gratisan. Kalau Go-Jek mendapatkan 140 Milyar rupiah kira-kira layanan apa yang akan diberikan kepada pengguna?

Bagaimana bisnis ojek online kedepannya?

Ini yang menjadi pertanyaan saya dan teman-teman. Bisnis seperti Go-Jek, Grab Bike ini menurut teman saya yang bekerja di departemen keuangan, adalah bisnis rugi. Teman saya melanjutkan bahwa Go-Jek dan Grab-Bike berani rugi diawal dengan memberikan promo tarif kepada pengguna dan juga memberikan modal kepada driver mereka. Tapi investasi mereka juga akan membawa hasil yaitu berupa database pelanggan yang dapat mereka manfaatkan untuk beragam macam produk. Go-Jek misalnya sekarang sudah memperluas layanan mereka dengan kurir (mengantar dokumen atau barang) dan juga membelikan barang/produk untuk pelanggan. Bisa jadi, kata teman saya lagi, ke depan perusahaan otomotif melirik bisnis ini dan memberikan kerja sama berupa produk kendaraan motor roda dua yang akan diberikan secara membeli dengan cicilan kepada drivernya. Keuntungannya dua pihak, driver Go-Jek dapat motor baru, perusahaan otomotif mendapat promo gratis yang akan melonjakkan penjualan kendraan mereka.

About these ads

1 Comment

  1. […] ← Go-Jek; Mahalnya Sebuah Ide Yang Bermanfaat Memilih Jurusan Di Universitas → […]

Leave a Reply

%d bloggers like this: