Future is Unpredictable

Kemarin gue berencana menghabiskan malam minggu dengan teman sekampung yang kerja di Bank Mandiri. Janjian di Blok M Square di toko teman sekampung lainnya. Namun hingga sore hari temen gue itu gak datang. Di telpon ke Hapenya gak diangkat-angkat. Beragam ketakutan kemudian silih berganti muncul di benak gue. Mungkin hapenya dicopet, atau mungkin dia lagi sibuk. Hingga magrib tiba barulah ia bisa dihubungi. Ternyata ia disuruh lembur oleh atasannya dan karena Jakarta lagi hobi diguyur hujan, rencana ngumpul di toko teman pun batal.

Alhasil gue mesti nunggu teman gue yang punya toko. Sembari menunggu dia nutup toko, perasaan gue gundah gulana. Sebelumnya teman gue yang di Mandiri tersebut pernah mengajak untuk tinggal bareng dia di sebuah asrama di daerah Salemba. Untuk ukuran cowok rumah yang ia tempati tersebut lumayanlah, paling tidak kalo gue jadi tinggal disitu, kami bisa gotong royong untuk mempercantik rumah tersebut. Gue udah ngebayangin ketika gue udah mendapat kontrak dari perusahaan gue bekerja sekarang, gue bakal nyoba untuk ngambil motor dan gue taroh dulu di rumah temen yang di Mandiri tersebut. Tapi ternyata Allah menggariskan lain. Kemarin mungkin hari terakhir kami untuk berjumpa, ia akan resign dari Mandiri dan merantau ke Ternate. Menurut beliau kesempatan buat sukses disitu lebih baik. Cukup sedih sebenarnya karena kami dari dulu sudah bekerja sama dan saling bantu ketika masih di Bukittinggi. Gue berharap kami bisa mencapai sukses bersama disini, Jakarta.

Masa depan begitu kelam. Kita bisa memprediksi apa yang akan terjadi 1 detik ke depan namun belum tentu prediksi tersebut akurat seperti yang kita harapkan. Teman gue yang di Mandiri tersebut juga begitu, ia terlihat begitu gamang dalam pekerjaannya sekarang. Ia seakan tidak tahan dengan tekanan pekerjaan yang ia dapatkan padahal sebelumnya di Bukittinggi ia mempunyai 2 sampai 3 profesi yang dapat berjalan sekaligus. Tekanan yang ia dapatkan adalah sebuah target yang harus dibebankan kepada dirinya. Sebagai seorang telemarketing ia ditargetkan untuk mendapatkan pencairan kredit sebesar Rp.250 juta dalam bulan ini. Aku pikir dia mampu melakukan itu. Memang tidak instant walau sudah di training sekalipun, namun ternyata ia memilih untuk ke Ternate mencari pekerjaan baru yang menurutnya tidak terlalu besar tekanannya. Bagaimana dengan gue?? Posisi gue hampir sama dengan teman yang di Mandiri tersebut. Menjadi seorang marketing, namun gue belum diberikan target. Hal itu yang patut gue syukuri. Me-maintain relasi yang sekarang saja otak gue udah panas dan emosi hampir gak terkendali. Gimana kalo dikasih target?

Yang pasti sekarang adalah gue dan dia telah memilih jalan masing-masing. Rencana yang gue buat kembali harus diubah. Tak mungkin membeli sebuah sepeda motor sekarang. Tak mungkin lepas dari hidup menumpang dengan kerabat sekarang. Tapi 3 tahun lagi gue harus bisa nyicil sebuah istana kecil yang bisa gue buat menjadi surga…

Advertisements

Tinggalkan Balasan