About these ads

Frederic Kanoute: Bikin Mesjid Dengan Uang Hadiah Kompetisi

Frederic Kanoute adalah pesepakbola berkewarganegaraan Mali yang lahir negara Perancis. Selama berkarir di dunia sepak bola Kanoute telah membela klub-klub besar Eropa seperti Totenham Hotspur, Sevilla, West Ham, dan Lyon.

Selama berkarir di dunia sepak bola Frederic Kanoute telah mencapai prestasi yang gemilang, terutama selama membela klub asal Spanyol, Sevilla. Kanoute ikut berpartisipasi dalam capaian Sevilla sebagai Juara UEFA Cup dua tahun berturut-turut (musim kompetisi 2006 dan 2007) dengan selalu mencetak gol di pertandigan Final.

Meskipun mempunyai prestasi yang sangat gemilang Kanoute yang memeluk agama Islam di umur 22 tahun tidak kalah semangat untuk membela Islam dan ajarannya. Beberapa tindakan yang ia lakukan diakui cukup kontroversi (setidaknya bagi masyarakat Eropa) seperti membeli sebuah rumah untuk dijadikan Mesjid di Sevilla, menolak menampilkan sponsor klub yang tidak sesuai ajaran Islam, membela Palestina dengan menampilkan tulisan di dalam kaos yang dipakai dalam bertanding.

Artikel tentang Frederic Kanoute ini saya angkat kembali sebagai inspirasi bagi kita semua tentang kewajiban kita sebagai muslim setelah kembali mengangkat tulisan tentang ustadz Rahmat Abdullah.

Membeli Mesjid Untuk Muslim di Sevilla

Sumbangsih Kanoute tidak hanya diberikan untuk klub Spanyol yang telah menggajinya untuk bermain di lapangan hijau. Umat Muslim yang tinggal di Sevilla pun tidak dilupakan oleh pesepak bola Mali ini.

“Jamaah di Ponce de Leon ini sangat beragam. Jika tidak ada Kanoute, maka kami tidak lagi mempunyai masjid, khususnya untuk shalat Jumat yang merupakan hari libur bagi kami kaum Muslimin,”

Inilah ungkapan dari salah seorang muslimin yang tinggal di Sevilla. Tindakan Kanoute dengan membeli rumah yang kemudian menghadiahkannya untuk komunitas muslim untuk dijadikan mesjid telah menghapus kecemasan yang selama ini menghantui kaum muslimin di Sevilla Spanyol Selatan.solidaritas frederic kanoute untuk palestina

Sebelumnya mereka didera kekhawatiran tidak akan mempunyai tempat lagi untuk beribadah. Pasalnya bangunan yang mereka kontrak dan disulap menjadi sebuah masjid, kontrak dan izinnya akan segera habis dan pemilik bangunan berniat menjual propertinya. Padahal masjid ini menjadi tumpuan utama kaum muslimin di Sevilla.

Kanoute merogoh koceknya sebesar 510.860 euro atau setara dengan 700 ribu dolar AS (sekitar Rp 6,3 miliar) untuk menyelamatkan masjid di Sevilla itu agar tidak ditutup. Ia juga tidak ingin melihat saudara muslimnya, yang sebagian besar migran dari Afrika Utara dan Afrika Barat, tak lagi memiliki sebuah masjid di sebuah kota Eropa. Sevilla mengeluarkan pernyataan yang membenarkan bahwa Kanoute telah memberi penawaran untuk bagunan yang digunakan sebagai mesjid tersebut dan pembelian tersebut merupakan sebuah bentuk inventasi.

Inventasi untuk akhirat.

 

Profil Singkat Frederic Kanoute

Fredi–panggilan akrabnya–lahir di Sainte-Foy-les-Lyon, kawasan metropolitan di pinggiran Lyon, kota terbesar kedua di Prancis setelah Paris. Ayahnya adalah warga negara Mali yang lantas menetap di Paris saat berusia 21 tahun dan menjadi pekerja pabrik. Sang ayah menikah dengan perempuan Prancis, seorang profesor filsafat–ibu Kanoute.

“Keluarga kami bukan keluarga miskin, tapi juga tidak terlalu kaya,” kenang Kanoute. Karena itu kedua orang tua Kanoute sangat menekankan pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka. Saudara laki-laki Fredi seorang doktor, saudara perempuannya guru sekolah perawat. Dia sendiri selalu diharapkan ayah-ibunya untuk masuk universitas.

“Tapi ayah, ibu, dan saudara-saudara saya tak keberatan saat saya memutuskan untuk berkarier sebagai pemain bola. Meski tentu saja mereka lebih suka bila saya meneruskan kuliah,” ceritanya sambil tertawa.

Terbiasa dengan pola pikir filosofis yang diterapkan ibunya, Kanoute tumbuh menjadi pemuda yang selalu haus mencari jati diri. Di sela-sela latihan dan pertandingannya sebagai pemain muda Olympique Lyon, Kanoute mencoba merenungkan arti hidup.

“Saat itu saya sudah berpikir, pasti ada yang lebih bermakna daripada sekadar sepak bola,” kenangnya. “Bukan berarti saya menganggap remeh sepak bola, bukan, sampai sekarang pun saya menganggap sepak bola penting bagi hidup saya.”

Dari situlah dia menemukan Islam. Kanoute muda mengenal Islam dari lingkungannya yang banyak dihuni para imigran dari Afrika bekas jajahan Prancis. Karena tertarik, dia lantas mencari buku-buku rujukan.

Tepat pada tahun pertama memulai karier profesional bersama Lyon, musim 1997/1998, saat usianya 20 tahun, dia mengucapkan kalimat syahadat. Namanya lantas berganti menjadi Frederic Oumar Kanoute. Dia kemudian menikahi perempuan keturunan Mali, Fatima. Mereka telah dikaruniai dua putra: Ibrahim, 5 tahun, dan Iman, 3 tahun 6 bulan.

”Saya sudah menghabiskan banyak waktu, merenung mengenai kepercayaan dan agama. Islam mampu membuktikan dan menjelaskan pertanyaan-pertanyaan sulit yang selalu membuat saya penasaran soal hidup,” kata Kanoute dengan yakin atas keputusannya.

‘Keputusan saya bukan tanpa alasan. Saya sudah menghabiskan banyak waktu merenung mengenai kepercayaan dan agama. Islam mampu membuktikan dan menjelaskan pertanyaan-pertanyaan sulit yang selalu membuat saya penasaran soal hidup. Saya membaca dan terus membaca, sehingga akhirnya yakin telah melakukan sesuatu yang benar,” tutur Fredi, sapaan akrab Kanoute.

Ketika budaya selebritis merasuki para pemain sepakbola, gaya hidup pun berubah. Awalnya karena kontrak gila-gilaan yang mendatangkan uang berlimpah. Kemudian menjadi idola yang dipuja-puji dan selalu menghiasai halaman surat kabar. Lambat laun terseret pula ke dalam kehidupan gemerlap.

Mereka punya permainan luar biasa yang membuat dunia terpesona. Tapi, mereka sendiri yang mengakhiri kisah indah itu dengan gaya hidup yang konsumtif terhadap minuman keras dan narkoba. Zat-zat setan itu tak hanya menghancurkan karier dan kehidupan mereka, tapi juga mencoreng nama baik mereka. Olahraga yang semestinya dekat dengan pola hidup sehat malah menghancurkan kehidupan. Tragis memang!!!

Namun tidak begitu dengan tokoh kita ini, meski amat mencintai sepak bola, Kanoute tetap meyakini ada sesuatu yang lebih penting dalam hidupnya. ”Saya pikir ada sesuatu yang lebih besar dibanding sepak bola. Tapi bukan berarti sepak bola tak penting. Yang jelas saya mendapat pencerahan saat menjadi Muslim. Aturan dan hukum Islam menjadi model terbaik saya dalam menjalani hidup. Islam membantu saya menjalani hidup yang benar,” tegas Kanoute, yang pernah menjadi striker andalan di klub Liga Primer Inggris, Tottenham Hotspur. Bukan tanpa halangan ketika Kanoute memutuskan memeluk Islam.

Mendakwahkan Islam di Eropa

Saat media-media Barat selalu memberitakan fanatisme Islam sangat berbahaya dan memicu aksi terorisme, Fredi justru semakin menunjukkan perilaku seorang Muslim.

”Situasinya memang sangat sulit,” ungkap Kanoute.

”Saya selalu menjawab bahwa mereka yang terlalu fanatik dan berbuat teror hanyalah segelintir umat Islam di dunia. Bukan berarti publik Barat bisa menghakimi seluruh umat Islam. Islam selalu mengajarkan pemeluknya untuk hidup dengan benar dalam perdamaian.”

Tak sekadar mengeluarkan bantahan, Kanoute menerapkan perilaku Islami saat bertemu publik, baik di ruang pers maupun saat latihan di tempat latihan Spurs di Chigwell. Pemain yang murah senyum dan berbicara hati-hati ini tak mengikuti gaya para pesepak bola Inggris yang gemar mengenakan anting berlian, mengecat rambut, dan mengendarai mobil mewah.frederic kanoute dukung rakyat mesir - r4bia

Frederic Kanoute dan Beragam Prestasi Yang Diperoleh

Selain menjadi top skorer Liga Spanyol bersama Samuel Etoo dari Barcelona. Frederic Kanoute memberikan gelar UEFA cup dua kali bagi Sevilla. Asosiasi Sepak Bola Africa pun memiilih Kanoute sebagai pemain terbaik Afrika tahun 2007. Gelar yang pertama kali diberikan kepada pemain kelahiran Eropa. Kanoute juga menjadi pemain Mali pertama yang menjadi pemain terbaik Afrika setelah Salif Keita pada tahun 1970.

Penghargaan itu diumumkan Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAS) di Lome, Togo. Penghargaan ini diberikan setelah melalui penetapan berdasarkan voting 57 pelatih tim nasional (timnas) anggota CAS. Kanoute mengalahkan dua kandidat lain, yakni gelandang dan striker Chelsea, Michael Essien (Ghana) dan Didier Drogba (Pantai Gading).

Sebelumnya striker berusia 30 tahun itu masuk nominasi sebagai pemain terbaik atas perannya meloloskan Mali ke putaran final Piala Afrika 2008. Dia juga membantu Sevilla juara Piala UEFA dan Piala Raja tahun lalu.

Ironisnya terpilihnya Kanoute sebagai Pemain Terbaik Afrika 2007 terjadi dalam waktu tiga hari setelah tim Mali tersingkir dari ajang Piala Afrika 2008. Kanoute sendiri cedera saat Mali dipukul Pantai Gading 0-3 pada laga terakhir penyisihan grup.

Tak mudah baginya untuk menjalani kehidupan sebagai pesepak bola profesional yang tersohor sekaligus menjalankan ibadah. Tapi, keputusannya untuk menjadi religius membuatnya semakin memiliki karakter yang kuat.

Di mana pun dia berada, pemain bertinggi badan 192 sentimeter ini selalu tegas menyatakan bahwa dia seorang muslim. Dia shalat lima waktu, tidak minum alkohol, dan menjauhi kehidupan malam. Saat Pangeran Charles mengunjungi Masjid Whitechapel, London Timur, pada 2003, dia menjadi salah satu orang yang menyambutnya.

Yang paling sulit bagi seorang pemain profesional seperti dia adalah beradaptasi dengan lingkungan dan kompetisi setempat, terutama bila bulan Ramadan tiba. Sebagai seorang muslim, dia harus melaksanakan puasa wajib. Sebagai pemain profesional, dia dituntut untuk selalu turun dalam kondisi fisik terbaik.

“Sebagai seorang Muslim, saya merasa kurang lengkap bila tidak menjalani puasa Ramadhan. Walaupun ada konsekuensi profesionalisme,” kata striker kelahiran Lyon ini. Setiap tahun dia selalu berharap dapat menjalankan ibadah puasa. Ternyata, bila keimanan telah terpatri, pilihan terbaik pun akan diberikan Yang Maha Kuasa.

Empat hari menjelang Ramadan tahun ini, pelatih Sevilla, Juande Ramos, bertanya tentang pola makannya saat puasa. Ramos khawatir si penyerang andalnya akan kehilangan ketajamannya bila kondisi fisiknya menurun saat puasa.

Mengenai puasa, Kanoute termasuk pemain yang menolak anggapan bahwa puasa akan menurunkan penampilannya. “Siapa pun yang mengerti dan memahami Islam memahami bahwa puasa justru menambah kekuatan dan tidak memperlemah,” tegasnya. Dia pun telah membuktikan kebenaran pendapatnya. Pada musim kompetisi tahun lalu, misalnya, ia mampu menjebloskan 20 gol ke gawang lawan. Harian cetak ABC menuliskan, produktivitasnya ini meyakinkan pemilik klub untuk tidak menekannya agar jangan berpuasa ketika pertandingan digelar.

“Pemain Sepakbola beragama Islam di Eropa dipercaya adalah sebuah bukti bahwa kepercayaan dan kebudayaan mereka bukanlah halangan untuk berkontribusi di dalam masyarakat,” kata Anas Al-Tikriti, mantan Ketua Asosiasi Muslim Inggris pada Online.net.

“Mereka dapat menjernihkan miskonsepsi tentang Islam dan membuktikan bahwa menjadi Muslim adalah way of Life,” dia menambahkan.

Kanoute telah mengalami perjalanan panjang sebelum menemukan keteguhan iman Islam seperti sekarang. Perenungan dalam yang membuatnya bisa berucap tegas, “Islam telah menuntun saya ke jalan yang benar, dan Nabi Muhammad panutan saya.” Setiap menyebut nama Nabi Muhammad, dia selalu menambah dengan kalimat, “Shalallahu ‘alaihi wasallam.”

Ada beberapa pemain sepakbola international yang ternyata beragama Islam, dan ini dipercaya mampu menunjukkan wajah Islam yang lain yang selama ini tidak pernah kelihatan. Salah satunya adalah Frederic Kanoute. Di tengah kilatan blitz yang memburu, mendapat hujan pujaan, sukses di lapangan hijau, Kanoute tetap dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Di kampung halamannya, ia mempunyai yayasan yang menyantuni anak yatim. Kini, sebuah masjid pun berdiri dengan torehan namanya.

sumber:

 

About these ads

1 Comment

  1. artikel anda bagus dan menarik, artikel anda:
    http://agama.infogue.com/
    http://agama.infogue.com/pichichi_ingin_jadi_muslim_sejati

    anda bisa promosikan artikel anda di http://www.infogue.com/ yang akan berguna untuk semua pembaca. Telah tersedia plugin/ widget vote & kirim berita yang ter-integrasi dengan sekali instalasi mudah bagi pengguna. Salam!

Leave a Reply

%d bloggers like this: