Double Job dan Kartu Kredit

Latar belakang penulisan ini adalah tidak ada kerjaan yang akan membuat saya sibuk seharian menunggu jam pulang. Daripada saya mengalami kebosanan yang tidak menyenangkan lebih baik saya menulis. Tulisan yang tidak jelas pun akan membuat orang yang mengeluarkan uneg-uneg nya lebih baik dan lebih sehat. For Your info, terapi menulis telah membuat orang gila menjadi seorang penulis di Amerika.

Double Job

Bekerja diperkantoran ini membuat saya merasa bekerja di sebuah kementerian atau lembaga pemerintah sebagai pns. Bekerja sedikit dan mendapatkan penghasilan full. Kondisi yang tidak menyenangkan ini patut disyukuri setelah tahun-tahun sebelumnya untuk menghindari pekerjaan yang sangat banyak saya harus mengarang tentang penyakit yang tak saya derita.

Sembari menikmati pekerjaan ala pns, saya mengikuti sebuah proyek yang digawangi oleh perusahaan lain. Jadi bisa dibilang saya bekerja pada dua perusahaan berbeda. Secara hukum saya telah melanggar undang-undang ketenagakerjaan, akan tetapi saya harus melakukan hal ini karena saya tidak menerima bayaran yang pantas dari perusahaan pertama saya (kita panggil saja perusahaan pertama, dan perusahaan kedua untuk yang kedua).
Dengan melakukan pekerjaan di dua perusahaan yang berbeda ini saya mendapatkan penghasilan yang cukup untuk menyambung hidup. Sebenarnya gaji diperusahaan pertama sudah layak, tapi masih belum cukup untuk melangsungkan kehidupan yang tenang bersama istri dan seorang anak yang akan lahir.

Pekerjaan kedua ini mungkin rezeki anak, saya diterima bekerja di perusahaan kedua hampir bertepatan dengan kabar positif istri tersayang sedang mengandung anak pertama kami. Niatnya penghasilan dari pekerjaan kedua ini dapat menambah tabungan untuk sicalon bayi dan juga untuk menghilangkan daftar hutang dari list anggaran bulanan.
Menikah dan mempunyai bayi pada saat kita mempunyai hutang merupakan kombinasi yang tidak diinginkan setiap pasangan baru menikah. Tetapi saya dan istri saling mengingatkan bahwa Allah tidak akan menelantarkan bayi kami. Saya sendiri menyesal mempunyai kartu kredit yang penggunaannya pun saya batasi pada kegiatan produktif (Baca: Penggunaan Kartu Kredit Pertama Saya). Saya yang suka menulis di media online sendiri berharap hobi menulis di blog akan menjadi sumber penghasilan yang hasilnya lebih daripada bekerja dibawah arahan orang lain. Tapi hingga tulisan ini saya ketik, penghasilan secara riil dari aktifitas online masih belum sesuai dengan keinginan.

Seperti yang sudah saya singgung di awal bahwa saya saat ini sedang menjalani dua pekerjaan sekaligus. Pekerjaan kedua saya ini cukup mudah dan tidak membutuhkan waktu yang banyak sebenarnya. Tapi tantangan yang harus saya hadapi adalah akses internet yang tidak stabil di tempat saya beraktifitas. Pekerjaan saya yang kedua ini membutuhkan komputer dan akses internet. Dua hal ini saya penuhi tapi sayang tantangan tidak henti muncul dalam perjalanannya. Modem yang saya gunakan untuk berselancar sering putus nyambung ditengah aktifitas mengerjakan tugas yang diwajibkan kepada saya. Bahkan kemarin saya mendapatkan surat peringatan karena tidak memenuhi kuota pekerjaan yang harus saya selesaikan. Bagi saya pribadi kondisi ini pertama kali saya rasakan.

Antara Petarung dan Survivor

Bagi saya tantangan yang saya hadapi saat ini tidak membuat saya patah semangat, saya bukan seorang petarung tapi saya diajarkan untuk menjadi seorang survivor. Petarung dan survivor menurut saya adalah dua karakter yang berbeda. Orang tipe petarung adalah orang yang selalu menaklukkan tantangan dengan kekuatannya. Dan seperti petarung yang ditayangkan di televisi, jika ada pukulan mematikan petarung yang bersangkutan akan jatuh tersungkur di atas kanvas. Sedangkan seorang survivor adalah orang yang mempunyai jiwa petarung namun tidak menggunakan semua kekuatannya untuk bertarung. Ia akan menerima pukulan, tapi ia tetap bertahan. Ia tidak akan menjadikan tubuhnya sebagai sansak bagi lawannya. Survivor akan mencoba untuk menghindari setiap pukulan yang mematikannya. Saat survivor butuh untuk menang ia akan mencari satu celah untuk memberikan lawan pukulan mematikan jika ia butuh untuk kalah maka ia akan menyerah tanpa harus kehilangan tenaga untuk kembali bangkit dan membuat orang-orang yang menyangka ia tak mampu berdiri terkagum-kagum.
Saya pernah membaca sebuah kutipan dari salah seorang politikus di Indonesia. Bunyinya kurang lebih begini, “Pukulan yang tidak mematikan akan membuat kamu kuat”. Kalau tidak salah kutipan tersebut juga beliau dapat dari tulisan seorang ulama Timur Tengah. Saya tidak ingat nama ulama yang dikutip tapi nama politisi yang menyatakan hal diatas adalah Presiden Partai Keadilan Sejahtera.
Menjalani dua pekerjaan sekaligus membuat saya cukup lelah sebenarnya. Untungnya pekerjaan pertama sedang tidak terlalu banyak sehingga saya bisa mencuri waktu untuk melakukan pekerjaan kedua. Mungkin orang-orang akan merasa aneh melihat saya selalu membuka laptop di kantor tapi untungnya orang-orang dikantor juga mengetahui keranjingan saya dalam hal tulis menulis di dunia maya.
Komitmen saya sebagai seorang ayah, seorang suami dan juga sebagai seorang muslim diuji disini. Memaksimalkan semua potensi saya untuk mengerjakan dua pekerjaan ini sekaligus membutuhkan kondisi yang prima selain juga waktu yang dapat diatur. Tantangan yang paling saya rasakan adalah betapa mudahnya kondisi tubuh turun begitu saya sampai di rumah. Apalagi setelah makan malam. Mata rasanya begitu berat dan juga berbaring di kasur akan sangat nikmat.

Kartu Kredit Pertama

Seperti yang telah saya singgung pada tulisan sebelumnya. Kehidupan rumah tangga saya diawal pernikahan ini cukup berat. Kondisi ini dikarenakan masa pra nikah yang saya jalani begitu hedon. Tidak terasa saya menggunakan kartu kredit dengan tidak bijak. Kebanyakan saya gunakan untuk penggunaan konsumtif.
Awalnya saya tidak berminat untuk memiliki kartu kredit tapi pekerjaan di perusahaan pertama memaksa saya untuk memiliki kartu setan ini. Lebih tepatnya atasan saya yang meminta agar saya mempunyai kartu kredit. Hal ini dikarenakan tugas yang mengharuskan saya untuk menggunakan kartu kredit dalam membayar biaya entertaint klien. Kebetulan ada bank penerbit kartu kredit yang berada dalam lingkungan kantor menawarkan aplikasi kartu kredit dengan mudah. Berbekal surat rekomendasi dari HRD, aplikasi kartu kredit saya pun diterima.
Qadarullah. Tepat ketika kartu kredit tersebut saya terima, telpon genggam saya hilang dikantor. Alhasil bertolak belakang dengan tekad tidak akan menggunakan kartu kredit, saya terpaksa harus melakukan pembelian dengan kartu kredit.
Pembelian pertama yang saya lakukan dengan kartu kredit adalah smartphone sony x peria mini. Harganya waktu itu sekitar 2 jutaan. Saya melakukan pembelian dengan mencicil sebesar lebih kurang 250 ribu per bulan. Dan setelah itu saya pun terjebak pada arus setan kartu kredit. Setelah membeli telpon genggam saya pun menggunakan kartu kredit untuk membayar traktiran di salah satu merchant kartu kredit.
Sekarang saya betul-betul menyesal telah mempunyai kartu kredit.
Tiap bulan tagihan kartu kredit saya selalu naik. Kini kartu kredit saya di blokir oleh penerbit kartu. Pasalnya sesuai dengan aturan Otoritas Jasa Keuangan, Bank penerbit kartu kredit boleh memberikan/menyetujui aplikasi kartu kredit seseorang jika penghasilan perbulan dari orang tersebut sebesar 3 juta rupiah.
Walaupun saya pribadi tidak ingin bertransaksi lagi dengan kartu kredit, saya juga merasakan manfaat kartu kredit ini dalam menggarap blog saya. Saya membeli domain TLD dengan kartu kredit untuk dua blog yang saya kelola saat ini. Dan dari blog yang telah saya beri TLD tersebut ada satu yang menjanjikan. Sekarang dengan diblokirnya kartu kredit saya oleh bank penerbit kartu kredit saya menjadi lebih memutar otak. Domain saya harus diperpanjang pada bulan november nanti sedangkan saya biasa membayar dengan kartu kredit. Solusi yang bisa saya siapkan adalah menggunakan kartu debit untuk bertransaksi dan saya harus mempersiapkan dananya dari sekarang.
Saya bersyukur karena saya masih bisa menggunakan kartu kredit untuk tujuan produktif (bukan konsumtif).

Ingin mengajukan aplikasi kartu kredit Bank Mega?

About these ads

Leave a Reply