Uncategorized

Di suatu SUBUH

tadi pagi asli penyakit iseng gue kambuh. gue bangun sebelum subuh, sambil menunggu azan berkumandang gue mainin hape yang berada disamping bantal. gue liat daftar kontak teman-teman, dan mulailah kejahilan itu.
satu-per-satu gue menghubungi teman-teman gue di daftar kontak tersebut. korban pertama adalah akh dodi. beliau adalah teman waktu kuliah dulu. namun karena sesuatu dan lain hal gue lebih dahulu out dari kampus dari beliau. lagian sudah lama tidak mendengar kabarnya. terakhir gue salut terhadapnya. ia mendapatkan hidayah dan selalu belajar mengamalkan amalan yang membuat Allah ridho dengannya. kalau gue inget awal-awal kuliah dulu, keadaan akh dodi amat sangat berbanding terbalik. beliau adalah salah satu pria yang trendi (menurut kawan-kawan gue sih). gue masih ingat stelan pakaiannya yang seperti raper, celananya yang kedodoran, ikat kepala yang kayak jambul ayam… ah sudah ah. sekarang ia betul-betul beda. kawan-kawan yang sempat naksir doi pun jadi mundur dengan teratur. ia dianggap orang yang terkena penyakit. tapi sebenarnya tidak justru aku mulai senang dengannya. ia selalu membaca buku-buku agama. celananya mulai diatas mata kaki walau masih slebor. ikat kepala jambul ayam diganti dengan kopiah….
sedering-dua dering lalu gue putusin hubungan telepon tersebut. jari dan pikiran gue bersatu mencari siapa lagi yang akan di jahili. ada akh toriq, akh cipto, dari golongan ikhwan yang jadi korban keisengan gue. dari cowoknya ada erik, cecep, kawan se-kosan dulu, sedangkan ceweknya dedet ma anggi (yunior) yang sering sms dengan beberapa kata yang pedih. sombong kali kaw bang (hiperbola!!!). sebenarnya banyak lagi yang gue jahilin selama penantian namun saking banyaknya jadi lupa.
akhirnya azan subuh berkumandang. gue ambil wudhu trus gangguin tidur nyokap (walah nyokap…) oke ganti bunda. Bunda selalu nasehatin supaya shalat selalu di mesjid. karena itu gue bangunin kan asik anak, dan ibu shalat subuh ke mesjid. tapi ternyata bunda tak bisa. tubuhnya terlalu lemah sebab kemarin sore baru pulang dari Pekan Baru menemani pendaftaran masuk kuliah si dedek Vani. sedihnya. tapi niat ke mesjid tlah diikrarkan dan dengan jaket gue berangkat ke mesjid.
***
sebelum azan subuh berkumandang akh dodi menelpon balik. tak kira cuma miss call eh ternyata si akhi benar-benar nelpon. beliau gak tahu nomor hape gue jadi awalnya suaranya rada-rada serem. tapi setelah gue sebut nama panggilan akhirnya suara yang menyeramkan itu mencair menjadi suara yang bersahabat. beliau sekarang di pekan baru lagi mondok di sebuah ponpes disana. doi melepas kuliahnya di padang. subhanallah beliau benar-benar lebih hebat dari gue. mendalami agama sampai mondok, dan melepas kuliahnya. pasti berat tuh, ada tantangan dari keluarga. salut deh ama beliau.

Advertisements

Leave a Reply