New York Times: Semua Presiden AS Mendukung Israel

Thursday, 24 July 2008 Image

Dari Yerusalem, Amman hingga Kairo, pendapat masyarakat mempercayai, siapapun presiden Amerika, mereka tetap “tunduk” kepada Yahudi-Israel
Hidayatullah.com—Presiden boleh berganti, kebijakan bisa tetap sama. Begitulah setidaknya pendapat banyak orang terhadap rencana pergantian presiden Amerika. Sebuah jajak pendapat tentang hubungan presiden Amerika dengan Israel baru-baru ini dimuat di Koran New York Times.

Artikel yang ditulis oleh Michael Slackman dan Isabel Kershner menyebutkan, saat ini semua kalangan mengharapkan perubahan mendasar dalam kebijakan luar negeri AS, khususnya hubungan antara Washington dan Israel serta dunia Arab, jika Barack Obama memenangkan pemilu presiden AS.

Berdasarkan jajak pendapat yang diambil dari Baitul Maqdis hingga pegunungan Amman dan Mesir, para peserta mengatakan, “Siapa saja yang keluar sebagai pemenang dalam pemilu di AS, Gedung Putih tetap akan mendukung setiap aksi kejahatan Israel terhadap warga Palestina”.

Hasil jajak pendapat ini membuat Zionis semakin tenang menjalankan aksinya.

Mahmud Ibrahim, 23 tahun seorang mahasiswa di Jordania dalam artikel berjudul “Mideast Sees More of the Same if Obama Is Elected”, itu mengatakan, “Kami hanya memahami bahwa semua presiden AS selalu mendukung Israel“. Ditambahkannya, semua presiden AS sama pemikirannya dan tidak pernah akan ada perubahan, oleh karena itu, harapan untuk tercapainya perubahan sia-sia belaka.

Di Israel, Moshe Cohen menyetujui pendapat itu. “Yahudi di sana mempunyai pengaruh, ”ujar Cohen saat menjual karcis-karcis lotere sepanjang Jalan Jaffa di Yerusalem. “Ia harus baik dengan Israel. Jika tidak, ia tidak akan dipilih kembali pada putaran kedua.”

Lain halnya dengan Walid Ghalib (50) seorang warga Amman. Baginya, orang seperti Obama itu mirip bunglon.

“Ia seperti bunglon,” ujar Walid Ghalib, ketika sedang membeli daging dari penjagal di Jabal al Nasr, Amman. Suatu hari ia bersama Palestina tapi suatu hari bersama Israel. Menurut Walid, perilaku seperti itu ibarat sebuah pepatah, “mana yang lebih baik, seekor anjing hitam atau anjing putih?’ Semuanya sama. Bagi kita, tidak ada apa pun yang berubah.” [new york times/irb/cha/www.hidayatullah.com]

Advertisements

Rehat Sejenak

capek dan bosan. mungkin itu yang ada dalam benakku hari ini. sudah hampir lima bulan bertugas sebagai karyawan warnet di padang luar aku merasa bahwa titik-titik jemu telah mulai muncul. kejemuan adalah hal yang lumrah dan ketika mampu untuk me-menej hal tersebut tentu semua akan menjadi biasa lagi. biasa?? mungkin itu kata yang salah. seharusnya bersemangat lagi.
salah satu cara menghilangkan rasa jenuh dan bosan itu adalah dengan kembali mengingat tujuan awal bekerja atau yang lebih dikenal dengan niat.

dari umar berkata: rasulullah saw. bersabda: sesungguhnya segala sesuatu itu berawal dari niat.

nah niat ku bekerja adalah untuk mendapatkan nafkah bagi diriku sendiri. syukur-syukur bisa membantu orang tua. jika aku tidak bekerja maka aku tidak akan menafkahi diriku sendiri dan pastinya lebih merepotkan orang tua. aku memilih bekerja di warnet karena aku ingin belajar lebih dalam tentang komputer. setidaknya aku akan mengetahui seluk-beluk komputer lebih baik dari pada aku dulu sebagai pengguna jasa warnet.
dulu aku tidak bisa menginstall komputer walau aku diberikan cd installer-nya. sekarang aku mampu untuk menginstall komputer walaupun harus pake cd installer. pencapaian ini yang tidak aku rasakan. padahal pencapaian ini berarti aku mendapatkan sesuatu dengan bekerja di warnet. mungkin benar bahwa terkadang kita harus setiap hari menyisihkan waktu untuk menghitung apa yang telah kita dapatkan. dan kita selalu dan selalu terfokus pada sebuah nominal. padahal banyak yang telah kita dapatkan tanpa kita sadari.

Rejeki Harus Dicari

Tanggal 02 Juli 2008 aku akhirnya bisa menyelesaikan pendaftaran registrasi On-Line Penerimaan CPNS tahun 2008 Departemen Keuangan. Dan hari ini tanggal 15 Juli 2008, aku telah menyelesaikan pendaftaran ulang untuk mengikuti Seleksi yang nantinya akan di adakan di Padang (Doakan aku lulus ya…). Cukup melelahkan perjalanan ini. Namun aku berharap usahaku saat ini dapat menghasilkan hasil yang sepadan. Tentu saja tidak hanya aku yang berharap. Ada ratusan ribu pengangguran tingkat tinggi lainnya yang mengharapkan hal yang sama sepertiku.

Menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil bukanlah keinginan ku waktu kuliah. Aku lebih mengingkan menjadi seorang pengusaha. Bahkan yang paling memotivasiku untuk menjadi pengusaha adalah hadist nabi saw. yaitu: “berdagang akan membuka 99 pintu rezeki” Betapa menggiurkannya jika kita mempunyai keahlian berdagang. Ada 99 celah yang diberikan untuk kita. Jika dibandingkan dengan bekerja sebagai pegawai hanya 1 pintu rezeki yang terbuka. Dulu dengan berseloroh aku dan kawan-kawan mengatakan dari pada mendapatkan 1 atau 99 lebih baik mendapatkan semuanya (100). Bagaimana caranya? Tentu saja kedua hal tersebut digabungkan. Mungkin bagi mereka yang mempunyai motivasi yang dahsyat dan pandai mengatur waktu dan pandai melihat peluang hal ini dapat terjadi.

 

[Obat Hati]Syahadatain

A. Makna Syahadat Laa Ilaaha Illallah

Yaitu beritikad dan berikrar bahwasanya tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala, mentaati hal tersebut dan mengamalkannya.
La ilaaha menafikan hak penyembahan dari yang selain Allah, siapapun orangnya. Illallah adalah penetapan hak Allah semata untuk disembah.

Jadi kalimat ini secara ijmal (global) adalah, “Tidak ada sesembahan yang haq selain Allah.” Khabar Laa ilaaha illallah harus ditaqdirkan bihaqqin (yang haq), tidak boleh ditaqdirkan dengan maujud (ada). Karena ini menyalahi kenyataan yang ada, sebab Tuhan yang disembah selain Allah banyak sekali. Hal itu akan berarti bahwa menyembah tuhan-tuhan tersebut adalah ibadah pula untuk Allah. Ini tentu kebatilan yang nyata.

Kalimat laa ilaaha illallah telah ditafsiri dengan beberapa penafsiran yang batil, antara lain:
1. Laa ilaaha illallah artinya:
“Tidak ada sesembahan kecuali Allah.” Ini adalah batil, karena maknanya: Sesungguhnya setiap yang disembah, baik yang hak maupun yang batil, itu adalah Allah.
2. Laa ilaaha illallah artinya:
“Tidak ada pencipta selain Allah.” Ini adalah sebagian dari arti kalimat tersebut. Akan tetapi bukan ini yang dimaksud, karena arti hanya mengakui tauhid rububiyah saja, dan itu belum cukup.
3. Laa ilaaha illallah artinya:
“Tidak ada hakim (penentu hukum) selain Allah.” Ini juga sebagian dari makna kalimat laa ilaaha illallah. Tapi bukan ini yang dimaksud, karena makna tersebut belum cukup.
Semua tafsiran di atas adalah batil atau kurang. Kami peringatkan di sini karena tafsir-tafsir itu ada dalam kitab-kitab yang banyak beredar. Sedangkan tafsir yang benar menurut salaf dan para muhaqqiq (ulama peneliti) Laa ilaaha illallah ma’buuda bihaqqin illallah (tidak ada sesembahan yang haq selain Allah) seperti tersebut di atas.

B. Makna Syahadat Anna Muhammadan Rasuulullah

Yaitu mengakui secara lahir batin bahwa beliau adalah hamba Allah dan RasulNya yang diutus kepada manusia secara keseluruhan, serta mengamalkan konsekuensinya: mentaati perintahnya, membenarkan ucapannya, menjauhi larangannya, dan tidak menyembah Allah kecuali dengan apa yang disyari’atkan.

(Dinukil dari “Kitab Tauhid 1”, Dr. Shaleh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan. Penerbit: Darul Haq, Jakarta. Cetakan Kedua, Rajab 1420 H/Oktober 1999 M, hal.52-53)

Ayah, Sang Raja

Kini aku mengerti kenapa bunda memintaku untuk mempertimbangkan kembali keinginanku untuk menikah. Aku berharap tidak seperti ayah….

Matahari telah beranjak tinggi saat aku masih terlelap dalam kedamaian mimpi. Sinarnya yang menyemangati bumi untuk hidup dihambat oleh dinding kamarku yang lembab dan kelam. Udara dingin kaki pegunungan dan terisolirnya kamarku dari sinar mentari merupakan kondisi yang amat sesuai untuk setiap manusia tetap bermanja dalam pelukan kasih selimutnya. Secercah sinar yang berhasil melewati blokade kamar yang lembab itu tak mampu untuk membangkitkan kesadaranku bahwa makhluk telah berlomba mencari rezeki.

Aku heran kenapa tidak ada sentakan dikaki yang biasa ku terima ketika subuh telah datang. Biasanya bunda yang selalu membangunkan aku kalau diri ini terlalu terlena dalam pelukan hangat selimut. Entah aku sadar ato tidak tapi aku ingat bunda menanyakan dimana letak buku tabunganku. Apakah itu mimpi atau bunda memang bertanya padaku? Pintu kamarku memang tidak dikunci. Hal itu telah menjadi sebuah kebiasaan.

Berat rasanya badanku untuk bangkit dari tempat tidur. Serasa ada himpitan berton-ton batu diatasku. Setiap aku mencoba untuk bangkit dari tidur tubuhku terasa berat. Sepertinya kasur dan tubuhku telah menghasilkan lem yang kasat mata. Namun, ku berhasil untuk menghindari godaan untuk melanjutkan tidur.

Telingaku tidak menangkap bunyi fat-fet-fot dari rok abu-abu saudariku yang selalu mondar-mandir dalam ketergesaan menyiapkan keperluan sekolahnya. Bunyi dentingan sendok dan gelas yang diputar menjadi satu-satunya suara yang tertinggal.

Bunyi dentingan sendok dan gelas adalah musik sehari-hari menyambut pagi. Bunda selalu mempersiapkan teh telur untuk suaminya. Namun ia tidak mendapatkannya. Karena itu aku bangkit lalu mencoba mengingat dimana bukuitu aku letakkan. Aku lihat buku A handbook of critical approaches to literature yang tergeletak di lemari. Halamannya kubuka dan buku tabungan itu aku dapatkan dan aku serahkan kepada bunda tanpa bertanya kegunaan buku tersebut. Hanya itu yang kuingat karena udara dingin kota ini telah membawaku untuk beristirahat kembali.

Aku bangun sekitar pukul delapan. Dengan langkah sempoyongan aku ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Setelah itu aku ke ruang tengah dan ku dapati bunda tengah duduk terdiam. Ayah telah siap pergi entah kemana untuk mencari nafkah. Pakaiannya rapi dan sepatu yang mengkilap telah menjadi tanda ia siap menantang hari untuk mencari nafkah. Tanpa bicara aku keluar rumah membawa sedikit uang untuk membeli “alat kosmetik”-ku yang telah berkurang. Sesampainya dirumah ayah bertanya “Mau pergi bareng, nda?”

“tidak, andra masuk siang nanti” Setelah mendengar jawabanku ia langsung menstarter mobil dan menginjak gas keluar dari komplek perumahan kami.

Di rumah aku melihat mata bunda berkaca-kaca. Sebenarnya sudah menjadi pemandangan yang biasa bagiku melihat mata beliau berkaca, atau menangis. Biasanya masalah yang dihadapi itu sama. Uang.

Bunda menutupi wajahnya yang sendu dengan jilbab mini warna krem. Jilbab itu telah nampak lusuh. Aku ingin menghadiahkannya jilbab baru bulan lalu ketika aku mendapatkan gaji kedua. Namun keinginan aku harus ditunda karena ayah juga membutuhkan uang untuk menutupi hutang beliau. Mengingat kejadian itu hatiku jadi miris dan marah. Aku sadar tak seharusnya aku marah, apalah arti gajiku yang berjumlah 750 ribu dibandingkan dengan dana yang selama ini telah diberikannya padaku hingga aku dapat menyelesaikan gelar sarjana ini.

“untuk apa buku tabungan tadi nda?” tanyaku.

“untuk minjam uang sama tek yong” jawabnya setelah ia menyeka air mata yang mungkin mulai berjatuhan.

“untuk apa?”

Kemudian seakan aku telah memutar kran air, mata beliau kembali berkaca-kaca. “untuk uang sekolah adikmu,vani. Ia belum bayar uang sekolah padahal ujian akhir semakin dekat.”

“emang sudah nunggak berapa bulan sih?”

“ia harus membayar uang sekolah hingga empat bulan ke depan”.

“berapa uang sekolahnya sebulan?”

“delapan puluh lima ribu”

Kemudian aku mencoba untuk menjumlahkan tunggakan adikku tersebut. Dalam hati aku bertanya ujian bulan ini tapi harus membayar untuk empat bulan kedepan. Apa gunanya? Lalu aku melanjutkan, “340 ribu. Rasanya gak terlalu banyak. Insya Allah dengan gaji andra dua bulan besok akan bisa terbayarkan.”

Apasih tugas dari seorang ayah? Yang aku tahu tugas seorang ayah adalah sebagai kepala keluarga, penyedia nafkah bagi anggota keluarganya, selain itu ia harus membimbing keluarganya. namun hari ini aku tidak menemukan hal itu dalam sosok ayahku. Paling tidak dalam hal memberikan nafkah bagi keluarganya.

Ayahku adalah seorang kontraktor. Pekerjaannya kebanyakan bergantung pada proyek pembangunan pemerintah. Jalan, irigasi, gedung adalah bidang spesifikasi beliau. Orang banyak berprasangka bahwa menjadi seorang kontraktor berarti hidup dengan nyaman. Bayangkan aja sekali dapat kontrak nilainya saja ratusan juta bahkan hampir setengah milyar. Tapi banyak orang yang tidak paham dengan kemana saja uang setengah milyar itu habisnya. Pertama tentu saja pada bahan bangunan dan upah buruh serta sewa alat berat. Namun alokasi dana untuk kebutuhan pertama ini tidak banyak. Berapa nominalnya aku tidak tahu persis yang pasti tidak sebanyak uang pelicin untuk membuat sebuah proyek itu berhasil dikerjakan perusahaan ayah.

Amat dusta kalau aku mengatakan kehidupan kami amat payah. Sekarang aku jadi berpikir apakah dalam daging ini telah tertananm uang haram. Amat sangat menyedihkan. Padahal aku adalah seorang yang dikategorikan ikhwah. Manusia yang hampir disejajarkan dengan malaikat dalam kebaikan yang ada dalam dirinya.

Dalam mengerjakan sebuah proyek pemerintah seorang kontraktor harus mengerjakan pekerjaan tersebut dengan dana sendiri. Bisakah anda membayangkan darimana uang yang hampir ratusan juta atau puluhan juta tersebut didapat? Dari hutang! Biasanya bahan bangunan yang banyak menghabiskan uang awal. Buruh, mereka dapat bertahan semingu-dua minggu dan keterlaluannya sempat 2 bulan gaji mereka belum dibayarkan. Untuk membayar bahan bangunan dan buruh tersebut ayah terpaksa harus berhutang. Dan biasanya ia meminta tolong pada bunda untuk mencarikan pinjaman.

Teori Evolusi Darwin Keliru Jika Diterapkan Ke Psikologi!

Teori evolusi Darwin ternyata keliru jika diterapkan ke psikologi, kata para pakar.

Tulisan mengenai bantahan terhadap penerapan teori evolusi darwin di bidang psikologi dapat dilihat di buku karya Robert C. Richardson yang berjudul Evolutionary Psychology as Maladapted Psychology.

Secara khusus presiden Royal Dutch Zoological Society juga menulis tanggapan atas buku tersebut di jurnal ilmiah pro-evolusi terkemuka, Science.

Isi buku tersebut membongkar kekeliruan penerapan teori evolusi Darwin di bidang psikologi yang banyak menarik perhatian kalangan masyarakat luas. Alasannya, seperti yang dituturkan Bolhuis, seringkali menyentuh bahasan-bahasan seperti birahi manusia, seks dan nafsu.

Psikologi ala Teori Evolusi Darwin

Dalam ulasannya “Psychology: Piling On the Selection Pressure” di majalah Science, Johan J Bolhuis menyatakan Darwin memperluas cakupan teori evolusi. Dalam buku The Origin of Species Darwin menjelaskan kemampuan berpikir pada manusia. Konsep ini dituangkan dalam buku The Descent of Man yang menyebutkan sifat-sifat pada manusia seperti moralitas dan emosi muncul melalui evolusi.

Selanjutnya para pakar psikologi yang datang kemudian mengekor jejak sang guru. Mereka berusaha menerapkan teori evolusi Darwin untuk menjelaskan akal pikiran manusia, atau yang dikenal dengan istilah evolutionary psychology.

Psikologi evolusioner adalah psikologi yang dijelaskan menurut teori evolusi. Psikologi evolusioner menganggap akal pikiran manusia terdiri dari simpul-simpul daya pikir yang berevolusi sebagai tanggapan atas tekanan seleksi yang dihadapi nenek moyang manusia di Zaman Batu.

Ideologi Teori Evolusi Darwin

Teori evolusi darwin pada awalnya berupaya menjelaskan asal usul keanekaragaman makhluk hidup dengan menihilkan Sang Pencipta. Teori ini menitik beratkan bagaimana makhluk hidup dapat bertahan dengan cara beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi di lingkungannya.

Lambat laun teori evolusi darwin pun lalu merambah ke ranah psikologi manusia. Perkembangan ini seakan membenarkan teori darwin bahwa evolusi bukanlah sekedar teori di bidang biologi semata.

Teori evolusi darwin pada saat ini menjadi sebuah ideologi yang harus diterima secara dogmatis, meski tanpa bukti nyata. Teori ini pun dipakai sebagai pijakan dalam mengembangkan ilmu-ilmu lain, termasuk psikologi manusia, oleh para pengagumnya.

Karena dijadikan landasan dogma tanpa bukti di bidang psikologi evolusioner, tidak heran jika terjadi kejumudan dengan menolak penjelasan selainnya. Bolhuis menegaskan permasalahan penting ini:

“The main problem with evolutionary psychology is that it usually does not consider alternative explanations but takes the assumption of adaptation through natural selection as given.

Permasalahan utama dengan psikologi evolusioner adalah biasa tidak dipertimbangkannya penjelasan-penjelasan alternatif tapi menjadikan anggapan (asumsi) adaptasi melalui seleksi alam sebagai kebenaran yang wajib diterima.”

Pernyataan Bolhuis di atas bukti yang menggambarkan sifat teori evolusi darwin yang tidak mencerminkan proses ilmiah melainkan dogma atau ideologi yang wajib diterima dengan menutup diri dari penjelasan lain.

Teori Evolusi Darwin Tak punya bukti

Pengarang buku Evolutionary Psychology as Maladapted Psychology, Robert Richardson, adalah pendukung evolusi, yang percaya bahwa kemampuan psikologis manusia merupakan sifat yang terevolusi. Meskipun demikian filsuf asal University of Cincinnati itu menyatakan bahwa penafsiran psikologi evolusioner dari sudut pandang biologi evolusi adalah salah. Richardson sampai pada kesimpulan tersebut berdasarkan kajiannya yang berpegang teguh pada ilmu pengetahuan, terutama pada metoda-metoda ilmiah yang digunakan dalam penelitian di bidang psikologi.

Menurut Bolhuis, karya Richardson ini merupakan pelengkap karya yang telah terbit sebelumnya, yang juga memberikan bantahan telak terhadap penerapan teori evolusi selama ini di bidang psikologi. Karya yang lebih dulu terbit tahun 2005 itu berjudul Adapting Minds (Akal Yang Beradaptasi), yang juga karya pendukung evolusi, David Buller, pakar filsafat asal Northern Illinois University. Berbeda dari Richardson, karya Buller lebih terperinci, menitikberatkan pada bukti-bukti dan memberikan penafsiran lain.

Para pakar psikologi evolusioner seringkali bersikukuh dengan pendapat mereka hingga timbul kesan bahwa kemampuan nalar manusia hanya dapat dipahami berdasarkan sejarah evolusi manusia. Akan tetapi dalam kajiannya, sebagaimana dituangkan di banyak tempat dalam bukunya Evolutionary Psychology as Maladaptive Psychology, Richardson berkesimpulan bahwa tidak ada bukti sejarah yang dapat digunakan untuk merekonstruksi evolusi kemampuan berpikir manusia.

Contoh nyatanya adalah kemampuan berbahasa pada manusia. Penjelasan yang cenderung digunakan dalam psikologi evolusioner adalah bahwa proses evolusi mendorong kemunculan keterampilan berbahasa tersebut untuk digunakan dalam kelompok masyarakat kompleks. Dengan kata lain, ada kebutuhan akan bahasa. Richardson berpendapat bahwa para pakar fosil mustahil akan menemukan bukti-bukti yang dapat memberikan informasi tentang tatanan sosial masyarakat nenek moyang manusia.

Teori Evolusi Darwin Adalah Rekaan Belaka

Bahkan kalaupun bukti-bukti yang diperlukan dalam pengkajian kemampuan berpikir manusia berdasarkan psikologi evolusioner dapat dikumpulkan, hal ini tidak akan menghasilkan pengetahuan tentang mekanisme kemampuan berpikir manusia, ulas Bolhuis yang juga menjabat sebagai profesor tamu di Department of Zoology, University of Salzburg, Austria. Sebab, kajian tentang evolusi berkutat pada rekonstruksi sejarah sifat-sifat manusia.

Kajian tersebut tidak, dan tidak dapat, menelaah mekanisme yang terlibat pada otak manusia, yang merupakan bidang kajian ilmu saraf dan psikologi kognitif. Dengan demikian pengkajian psikologi berlandaskan teori evolusi tidak akan pernah berhasil, karena berupaya menjelaskan mekanisme-mekanisme tapi secara tidak tepat mengacu pada sejarah mekanisme-mekanisme tersebut. Ini diibaratkan sang pengarang seperti menjelaskan struktur tanaman anggrek dengan merujuk pada keindahannya.

Di akhir ulasannya mengenai buku Evolutionary Psychology as Maladapted Psychology (Psikologi Evolusioner sebagai Psikologi Salah Tempat), profesor Bolhuis mengatakan bahwa hasil kajian Richardson mengungkap betapa kajian psikologi berdasarkan teori evolusi sebagian besarnya adalah rekaan semata:

In this excellent book, Richardson shows very clearly that attempts at reconstruction of our cognitive history amount to little more than “speculation disguised as results.”

Dalam buku luar biasa ini, Richardson memperlihatkan dengan sangat gamblang bahwa upaya-upaya dalam penyusunan ulang sejarah kemampuan berpikir kita sedikit lebih dari “rekaan yang disamarkan sebagai hasil.” (Science 6 Juni 2008, Vol. 320. no. 5881, hal. 1293).

Atau sebagaimana diulas pula dalam editorial buku terbitan The MIT Press (http://mitpress.mit.edu) tersebut:

It is speculation rather than sound science–and we should treat its claims with skepticism. ([Psikologi evolusioner] itu lebih merupakan rekaan daripada ilmu pengetahuan yang mapan – dan kita sepatutnya memperlakukan pernyataan-pernyataannya dengan keraguan).

Mudah-mudahan psikologi evolusioner yang terbukti keliru ini, namun telah lama diajarkan di dunia akademis, tak terkecuali di lembaga pendidikan tinggi terkemuka di Indonesia, semakin mendapatkan pencerahan alternatif. Semoga.

LET’S GET MARRIED !

By. Dewi, 4 Mei 2008

Mungkin saya bukan ahlinya, tapi saya hanya ingin berbagi dan memberikan
nasehat singkat berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang minim,
terutama buat teman-teman yang belum menikah.

Kapan nih menikah? hehehe

Mengingat, sekarang ini saya melihat dan cukup prihatin, pada
orang-orang di sekitar saya, baik teman, adik atau siapa saja yang saya
kenal, yang masih betah membujang hingga usia sudah mengusik alarm,
tanda peringatan teeeetttt!

“hey….you become old and old!”.

Dan berdasarkan hasil survey dan pengamatan dilapangan, ternyata banyak
kendala yang membuat seseorang enggan untuk menikah, dan betah
membujang, antara lain berikut ini dan saya membantu sedikit dengan
saran, mudah-mudahan berkenan ^_^:

1. Karena Belum Ketemu Soul mate

hey guest ! kapan kamu bisa ketemu your soulmate jika kamunya hanya
diam, dimeja kamu, bergelut terus berjam-jam yang menyita dengan
pekerjaan, kamu.

Atau berkutat dengan diktat bacaan kuliah kamu diperpustakaan, apa kamu
tidak melihat disebelah kamu ada cewek cantik berjilbab, sedang
melirikmu

Or apa kamu juga lupa di sebelahmu, cowok sahabat kamu yang berkopiah
itu, ternyata sudah lama naksir kamu? (;-))

Let’s enjoying to find your soul mate guest!

And hey, Please deh, kamu itu hidup, sayang, dan harus menikmati hidupmu
dengan bersosialisasi, terutama dengan lawan jenis, siapa tahu dengan
bersosialisasi kamu menemukan tambatan hatimu.

Tuh khan sambil mendayung minum air sekalian 😉

Come on, get up ! and ready for hunting.

2. karena baru patah hati

hey guest ! patah hati apa patah tulang sih.

Lebih sakit patah tulang donk !.

(uppps kok ngelantur hehehe)

Patah hati, itu untuk Allah semata, jika Dia sudah tidak lagi menerima
taubat kita.

Tapi untuk manusia, No…no…don’t ever do it.

“Allah yang lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya, sedang kita
tidak”

Kalau dia sudah pergi meninggalkanmu atau kamu pergi meninggalkannya
berarti dia memang bukan untukmu.

Cari lagi !

Dunia tidak selebar daun kelor.

Ayo…rajin-rajin nerima saran, dari ortu, teman dekat kamu, atau juga
saudara.

Jangan “ogah” dong dikenalkan dengan kerabat atau teman mereka.

Eh…apa ?…ga, mau dijodohin !, alasannya ? ini khan bukan jaman
siti nurbaya, Nek !

Idih, RUGI….nenek sama kakek kita aja, juga dijodohin, buktinya
mereka bisa lengket sampe kaken-kaken, ninen-ninen. (:-P)

Kenapa harus ragu dijodohin, siapa tahu dari perjodohan itu kita bertemu
dengan tambatan hati.

Atau setidaknya nambah teman, Guest!

3. menikah tidak semudah membalik telapak tangan, pokoknya menikah
itu sulit, jelimet, dan membutuhkan banyak biaya.

Walah….! Siapa bilang sih ????

Menikah itu mudah sayang!.

Tinggal panggil penghulu dan saksi-saksi, ijab khobul…udah deh sah.

Insyaallah.. !

Yang penting tekad dan niat.

Pernikahan dalam Islam sesuai sunah Rasul sangat “easy”

Don’t make it difficult on you.

Upacara pernikahan dan tetek bengeknya ?

Ya…ga usah dipaksain, sayang, kalau itu diluar kemampuanmu.

Tapi ssstttt….kalau ortu maksa, ya syukur-syukur kalau mereka mau
menyumbang biayanya khan ! hehehe.

4. aku merasa belum siap secara finansial

Lalu kapan siapnya, Guest !

Sampai kamu jadi manager, direktur, atau mau nunggu kamu punya
perusahaan sendiri ?.

Eh…kenapa sih sebegitunya kamu tidak percaya, bahwa :

“Rejeki itu Allah yang mengatur”

Sayang, setiap pernikahan itu membawa rejekinya masing-masing.

Eitssss….! Masih mengelak….!

Lalu kamu bisa punya uang setiap bulan itu darimana coba?

Dari perusahaan dan orang tua?

Ah….masa?

Itu semua datangnya dari Allah, sayang.

Allah membagi rejekinya kepadamu lewat perusahaan dan orang tuamu.

Apalagi jika kamu menikah nanti.

Rejekinya pastinya double donk!

Karena setiap orang membawa rejekinya masing-masing

Jika dua hati bertaut, maka dua rejeki juga Insyaallah akan bertaut.

Iya…nggak, Guest!.

5. pernikahanku dengan calonku tidak memenuhi persyaratan adat dan
tradisi suku atau bangsaku

Dia dari marga yang berbeda, status ekonomi yang berbeda, kasta yang
berbeda, kulit yang berbeda, dan sebagainya, dan sebagainya.

STOP !, siapa yang menikah kamu atau adatmu?

Kamu atau orang tuamu?

Apakah Allah juga memandang berbeda setiap makhluk-Nya?

Rasulullah SAW dan agama mengajarkan kita untuk memandang sama kepada
seluruh manusia, kecuali yang iman dan takwa kepada-Nya yang
membedakannya.

Atau kakakku yang tertua belum menikah, emmmm…aku takut
melangkahinya.

Ya…ampun, jodohmu dan jodohnya berbeda waktu datangnya, jika Allah
sudah mempertemukan kamu dengan tambatan hatimu atau jodohmu, maka
segerakanlah menikah dengannya, jangan menundanya kecuali karena Allah.

Atau musibah akan datang.

Terlalu lama pacaran demi menunggu kakak tercinta menikah duluan, apakah
kamu mampu, menjaga hati dan juga cinta sucimu selama itu ?, lalu sampai
kapan, setahun, dua tahun, atau tiga tahun?, lalu sekarang ?

Apakah kamu mampu menjaga kemampuanmu tidak menyentuhnya ?

Walahualam bisawab.

Maka segerakanlah menikah dan jangan menundanya ketika hasrat itu
datang, sempurnakanlah separuh dien !.

Islam is not cultural guest!

6. Saya trauma terhadap perceraian, teman, sahabat, kakak saya, atau
orang tua.

Please, deh !

Kamu khan bukan mereka, beda orang, berbeda pula cara dan karakter dalam
menyelesaikan setiap persoalan.

Mereka boleh jadi gagal, tapi kamu belum tentu.

Dan sebenarnya kamu diuntungkan melihat masalah ini, dari sisi kacamata
positif, artinya kamu bisa mempelajari dan meminimalisasi, dengan banyak
belajar pengalaman berharga dari mereka, yang gagal membina rumah
tangganya.

Agar nantinya kamu juga siap dan mencari pemecahannya bila kamu nanti
sudah berumah tangga.

Kemudian kuatkanlah iman dan takwamu kepada-Nya untuk mengatasi semua
persoalan dengan bijaksana.

Kalau memulai sesuatu jangan melihat gagalnya dong !, lihat proses
menuju perbaikannya, biar kita selalu optimis.

Then say ” Saya pasti bisa !”

Tuh…khan it’s easy to be married, asal tidak menyalahi syariat
dan ajaran agama (misal dengan menyakiti diri sendiri), untuk apa takut
menikah.

Menikah tidak sesulit yang dibayangkan.

So….ayo..!

Sumber: dari milis FLP

Suara Hati Pekerja Jakarta

Maaf kali ini saya tidak akan berbicara mengenai sastra inggris.

Jakarta kali ini telah membuktikan bahwa ia perlu sebuah perubahan besar-besaran. Hari ini saya harus menempuh waktu tiga jam lebih untuk ke kantor. Melelahkan.

Beberapa kali juga saya harus mematikan mesin motor ditengah kemacetan untuk menjaga bensin yang akhirnya saya harus mengisinya dengan shell. Kantor saya berada di Jakarta Selatan dan saya tinggal saat ini di daerah pinggirannya. Dalam waktu normal (maksud saya tanpa hujan) jarak tempuh saya ke kantor hanya sekitar 30 menit atau kalau memang macet sangat parah hanya satu jam.

Hujan menjadi kambing hitam kejadian hari ini. Tapi saya berpikir bukankah setiap tahun banjir melanda? Tidak adakah sebuah tindakan pasti dari penguasa Jakarta? Sumur-sumur resapan yang diharapkan mengurangi genangan air malah seperti tidak berfungsi. Padahal anggaran untuk sumur-sumur resapan di Jakarta tidak main-main jumlahnya.

Saya mengambil keputusan untuk hijrah dari ibukota ini. Banjir dan Kemacetan adalah alasan utama saya. Karena dua kondisi tersebut bisa membuat seseorang selain tua dijalan juga energinya terbuang sia-sia, belum lagi semangat tinggi untuk berkarya di perusahaan menjadi hilang karena kelamaan dan capek dijalan.

Sang Gubernur memang telah berusaha namun sepertinya hasilnya kurang memuaskan. Tanggung jawab memang bukan sepenuhnya di Gubernur karena ada kepala pemerintahan daerah yang lebih mengetahui Jakarta. Kenapa tidak diinstruksikan kepada kepala-kepala daerah tersebut untuk bertanggung jawab terhadap warga dan masyarakatnya. Program yang disusun Gubernur untuk menanggulangi kemacetan harus dilaksanan.

Maaf sekali lagi jika tulisan kali ini tidak sesuai dengan keinginan.  

Proses Hidup

Huah…
Ngantuk banget rasanya. Badan ingin istirahat keknya, padahal jam di dinding baru menunjukkan pukul 14.30 waktu Padang Luar (Kek ospek aja ngasih waktu sekehendak hati). Mungkin bukan badan yang lelah secara sebagai seorang operator warnet (gile operator, kuli kalee…) dari jam delapan pagi tadi hingga saat ini mata gue selalu melototin monitor komputer. Mungkin kantuk yang gue rasa karena radiasi komputer. Kan banyak yang bilang tuh radiasi komputer berbahaya buat kesehatan mata.

Menjadi operator warnet sebenarnya mudah-mudah susah. Inget banyak mudahnya daripada susahnya. Kita tinggal duduk manis di depan komputer sembari melakukan pekerjaan yang kita inginkan. Main game boleh, browsing apalagi, mau nulis yo-i banget. Kalo ada user yang minta print, tinggal cari aja koneksi LAN printer trus suruh si user ngeprint sendiri. Santai kan? Yang menjadi masalah sebagai operator hanya problem koneksi yang kadang putus gak ketauan sebabnya. Ato komputer hang sedangkan si user belon nyimpan data. Jadilah saya berpanik ria untuk memberikan solusi atau menerima suara kesal dari user.

Mempunyai pekerjaan seperti ini emang pilihan gue dalam mengarungi samudera pengangguran. Untung aja dapat pekerjaan daripada nganggur yang membuat perasaan tertekan dan pusing sendiri.
Gue bukan tamatan Teknologi Informatika seperti om Suryo, gue cuman tamatan Sastra Inggris Universitas Negeri Padang (gimana tanggapan dosen-dosen gue ya kalau mereka tahu???), yang gue modalin buat kerjaan ini semangat ingin belajar: belajar surfing dengan aman, belajar membuat website (melalui blog sih), belajar memperbaiki komputer (baru sebatas install windows), belajar membuat aplikasi sederhana memakai MSAccess), dan kalau otak gue masih mampu belajar hacking.

Namun kesyukuran gue mendapatkan pekerjaan ini mendapat tertawaan dari keluarga gue sendiri. Mereka menganjurkan supaya gue buat les privat bahasa inggris aja di rumah. Pendapat yang bagus hanya satu kekurangannya yaitu gue masih malas ngajar. Gue gak pede ngajarin orang dan gue masih ragu dengan ilmu yang di otak gue (masih ngendap gak ya??). Yang paling parah dari adek gue yang nomor dua. Ia menertawakan gue “Masak S-1 jadi operator warnet sih?”. Sindiran beliau gak bakalan gue balas karena yang gue perlu sekarang adalah ilmu pengetahuan dan uang.

Picik seh kalau gue renungi keadaan gue hari ini. Tapi mo gimana lagi, gue gak mungkin ngandalin ortu buat biayain kebutuhan hidup gue setelah kuliah ini. Yang mesti gue kerjain adalah nikmati dulu kerjaan ini dan ngumpulin duit. Setelah itu gue bakalan ngejar sebuah obsesi. Kuliah s-2 di Susastra UI dan pulang ke UNP menjadi dosen.

Ya ALLAH Perkenankanlah

Bergerak ke depan

Kini aku mengerti kenapa bunda memintaku untuk mempertimbangkan kembali keinginanku untuk menikah. Aku berharap tidak seperti ayah….

Matahari telah beranjak tinggi saat aku masih terlelap dalam kedamaian mimpi. Sinarnya yang menyemangati bumi untuk hidup dihambat oleh dinding kamarku yang lembab dan kelam. Udara dingin kaki merapi dan fakta terisolirnya kamarku dari sinar mentari merupakan kondisi yang amat sesuai untuk setiap diri yang letih ini tetap bermanja dalam pelukan kasih selimutnya. Secercah sinar yang berhasil melewati blokade kamar yang lembab itu tak mampu untuk membangkitkan kesadaranku bahwa makhluk telah berlomba mencari rezeki.

Aku heran kenapa tidak ada hantaman yang biasa ku terima ketika subuh telah datang. Biasanya bunda yang selalu membangunkan aku kalau diri ini terlalu terlena dalam pelukan hangat selimut. Entah aku sadar ato tidak tapi aku ingat bunda masuk ke kamar dan menanyakan letak buku tabunganku. Apakah itu mimpi atau kenyataan?

Saat aku akhirnya mendapatkan kesadaran penuh untuk bangkit dari tidur tubuhku terasa berat. Selimut hangat yang ringan seakan berubah menjadi himpitan berton-ton batu diatasku. Begitu pun kasur dan tubuhku. mereka seakan telah menghasilkan lem yang kasat mata dan enggan untuk melepas satu sama lain. Dengan motivasi kuat aku berhasil untuk menghindari cobaan pagi hari ini.

Keadaan rumah setelah aku menguasai kesadaran terasa sunyi. Telingaku tidak menangkap bunyi fat-fet-fot dari rok abu-abu saudariku yang selalu mondar-mandir dalam ketergesaan menyiapkan perlengkapan sekolahnya. Aku sudah betul-betul kesiangan, pikirku.

Aku bangun sekitar pukul delapan. Dengan langkah agak sempoyongan aku ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Dinginnya genangan air di kamar mandi membuat aku kembali berpikir melanjutkan tidur. Namun, setelah membasuh wajah dan tubuh dengan kesegaran air pegunungan niat itu lenyap entah kemana. Setelah menggosok gigi dan nafas telah terasa segar aku shalat subuh. Oh Tuhan, maafkan lah hamba-Mu yang pemalas ini ucapku lirih setelah subuh yang kesiangan.

Setelah itu aku ke ruang tengah dan ku dapati bunda tengah duduk terdiam. Ayah telah siap untuk pergi entah kemana dalam mencari nafkah. Pakaiannya yang rapi dan sepatu yang mengkilap telah menjadi tanda ia siap menantang hari untuk mencari nafkah. Tanpa bicara aku keluar rumah membawa sedikit uang untuk membeli “alat kosmetik”-ku yang telah berkurang di warung terdekat. Sesampainya dirumah ayah bertanya “Mau pergi bareng, nda?”

“Tidak, Andra masuk siang nanti,” jawabku.

Setelah mendengar jawabanku ayah langsung menstarter mobil dan menginjak gas mobil taft4by4-nya keluar dari komplek perumahan kami menuju medan laga pencarian nafkah.

Di rumah aku melihat mata bunda berkaca-kaca. Sebenarnya sudah menjadi pemandangan yang biasa bagiku melihat mata beliau berkaca, atau menangis. Biasanya masalah yang dihadapi itu sama. Hutang.

Bunda menutupi wajahnya yang sendu dengan jilbab mini warna krem. Jilbab itu telah nampak lusuh. Aku ingin menghadiahkannya jilbab baru bulan lalu ketika aku mendapatkan gaji kedua. Namun keinginan aku harus ditunda karena ayah juga membutuhkan uang untuk menutupi hutang beliau. Dan si peminjam telah mendesaknya. Mengingat kejadian itu aku jadi sedih campur kesal. Aku sadar tak seharusnya aku marah, apalah arti gajiku yang berjumlah 750 ribu dibandingkan dengan dana yang selama ini telah diberikannya padaku hingga aku dapat menyelesaikan gelar sarjana Sastra Inggris di salah satu Universitas di Padang.

“untuk apa buku tabungan tadi nda?” tanyaku.

“untuk minjam uang sama tek yong” jawabnya setelah ia menyeka air mata yang mungkin mulai berjatuhan. Tek Yong adalah panggilan mamak yang kini telah menjadi seorang pemimpin sebuah kesatuan polisi di Riau sana.

“untuk apa?” lanjutku.

Kemudian seakan aku telah memutar kran air, mata beliau kembali berkaca-kaca. “untuk uang sekolah adikmu,vani. Ia belum bayar uang sekolah padahal ujian akhir semakin dekat.”

“emang sudah nunggak berapa bulan sih?”

“ia harus membayar uang sekolah hingga empat bulan ke depan”.

“berapa uang sekolahnya sebulan?”

“delapan puluh lima ribu”

Kemudian aku mencoba untuk menjumlahkan tunggakan adikku tersebut. Dalam hati aku bertanya ujian bulan ini tapi harus membayar untuk empat bulan kedepan. Apa gunanya? Lalu aku melanjutkan, “340 ribu. Rasanya gak terlalu banyak. Insya Allah dengan gaji andra dua bulan besok akan bisa terbayarkan.”

***
Apasih tugas dari seorang ayah? Yang aku tahu tugas seorang ayah adalah sebagai kepala keluarga, penyedia nafkah bagi anggota keluarganya, selain itu ia harus membimbing keluarganya. namun hari ini aku tidak menemukan hal itu dalam sosok ayahku. Paling tidak dalam hal memberikan nafkah bagi keluarganya.

Ayahku adalah seorang kontraktor. Pekerjaannya kebanyakan bergantung pada proyek pembangunan pemerintah. Jalan, irigasi, gedung adalah bidang spesifikasi beliau. Orang banyak berprasangka bahwa menjadi seorang kontraktor berarti hidup dengan nyaman. Bayangkan aja sekali dapat kontrak nilainya saja ratusan juta bahkan hampir setengah milyar. Tapi banyak orang yang tidak paham dengan kemana saja uang setengah milyar itu habisnya. Pertama tentu saja pada bahan bangunan dan upah buruh serta sewa alat berat. Namun alokasi dana untuk kebutuhan pertama ini tidak banyak. Berapa nominalnya aku tidak tahu persis yang pasti tidak sebanyak uang pelicin untuk membuat sebuah proyek itu berhasil dikerjakan perusahaan ayah.

Amat dusta kalau aku mengatakan kehidupan kami amat payah. Sekarang aku jadi berpikir apakah dalam daging ini telah tertananm uang haram. Amat sangat menyedihkan. Padahal aku adalah seorang yang dikategorikan ikhwah. Manusia yang hampir disejajarkan dengan malaikat dalam kebaikan yang ada dalam dirinya.

Dalam mengerjakan sebuah proyek pemerintah seorang kontraktor harus mengerjakan pekerjaan tersebut dengan dana sendiri. Bisakah anda membayangkan darimana uang yang hampir ratusan juta atau puluhan juta tersebut didapat? Dari hutang! Biasanya bahan bangunan yang banyak menghabiskan uang awal. Buruh, mereka dapat bertahan semingu-dua minggu dan keterlaluannya sempat 2 bulan gaji mereka belum dibayarkan. Untuk membayar bahan bangunan dan buruh tersebut ayah terpaksa harus berhutang. Dan biasanya ia meminta tolong pada bunda untuk mencarikan pinjaman.