Broken Heart: Nulis Aja

Udah lama gue gak nulis apa-apa buat di blog maupun buat komputer sendiri. Sekarang keinginan buat nulis itu menjadi begitu memuncak. Jika lo punya masalah yang ga bisa lo pendam dan lo ga punya orang untuk berbagi, maka menulis adalah obat mujarab yang bisa membuat lo bisa memuntahkan semua perasaan. Ingat air yang mengalir adalah air yang bersih dan suci, bagus untuk bersuci atau mandi. Sedangkan air yang mampet adalah air yang dipenuhi kotoran dan kuman dan jika lo pake tu air buat membersihkan badan hasilnya bukan kesehatan malah kebalikannya. Badan lo bakal gatal-gatal.

Nah sekarang kenapa gue mulai menulis lagi?
Gue udah ungkapin diatas bahwa menulis merupakan obat mujarab buat melepaskan kegundahan hati atau sukacitanya lo jika tak ada orang yang lo percaya buat sharing. Sekarang gue menulis karena gue punya masalah yang cukup pelik yaitu diputusin cewek. Hah…??!! Masalah klise yang dihadepin oleh orang-orang yang sedang dilanda penyakit bernama cinta. Gue udah liat ada kemungkinan itu beberapa bulan terakhir. Dan gue udah siapin mental buat hal tersebut. Namun ternyata persiapan gue kurang. Ketika dia bilang dia gak bisa lanjutin hubungan ini, gue jadi lemes. Dia minta agar gue hubungan yang berawal dari pertemanan tetap jalan, gue jawab gue sanggup. Trus dia dengan becanda ngomong kalo gue mau nikah kabarin die, spontan gue jawab tenang aja undangan buat kamu bakalan spesial. Disaat itu gue ngebayangin dia jalan ma cowok lain, becanda, bermesraan aduhh ga kuat gue. Dengan alasan ngantuk gue akhirin percakapan.
Jiwa gue gak tenang malam itu. Gue pengen teriak sekuat-kuatnya tapi gue tinggal dikomplek bukan deket pantai yang bunyi ombak bisa ngalahin teriakan gue. Gue nyoba keluar dari rumah, ngerokok sambil jalan muter komplek berharap agar jiwa ini kembali tenang. Namun setelah satu kali keliling tetep aja gue gak bisa tenang. Gue paksain buat tidur tapi sialnya udara lagi gerah banget. Cahaya kilat gue liat dari cermin dikamar. Gue berharap ujan agar tubuh ini menjadi rada adem and jiwa mau tenang. Sayang ujan yang gue tunggu ga turun-turun.
Guling kanan-guling kiri namun tetep aja gue ga bisa tidur. Wahh.. parah. Akhirnya gue ambil hape Nokia 7610 and gue puter musik guns n roses. Gue pindah dari kamar ke teras di lantai dua. Hmmm…. udara di sana rada adem. Tapi otak tetep aja muter rekaman pembicaraan tadi. Gue paksain buat nginget gimana luar biasanya Slash menciptakan melodi-melodi yang begitu menyentuh perasaan gue. And it works. Lambat laun jiwa gue mulai tenang dan gue siap untuk tidur. Gue pindah lagi ke kamar buat lanjutin tidur gue namun ketika mau tinggal landas. Sebuah sms masuk. Dari teman gue. Isinya dia udah putus ma cowoknya. Dia bilang hubungannya diawali oleh jaket dan diakhiri oleh jaket. Gue jadi ngakak…meski ga terlalu keras, kan udah malam ceritanya tadi. Gue telpon temen gue itu buat ceritain kronologisnya, sambil pengen curhat gue juga cerita. Jika temen gue berawal dari jacket maka gue berawal lewat telpon diakhiri lewat telpon. Ga lama sih akhirnya pembicaraan harus diputusin, kasian kalo dia begadang denger gue nyerocos gak jelas
.
Cinta datang karena sebab dan akan hilang karena hilangnya sebab
Gue inget sebuah kalimat dari Ibnu Qayyim Al Jauzi yang dikutip oleh Salim. Cinta datang karena sebab dan akan hilang karena hilangnya sebab. Dia pernah bilang awalnya dia mau jalanin hubungan pacaran ma gue adalah karena dia bisa nyaman jalan bareng gue. Nyaman dalam hal apa gue gak terlalu ngerti dah. Sekarang kenyamanan itu hilang atau mungkin terkikis dan hasilnya cintanya ke gue juga terkikis. Dia ga suka kalo gue dapat informasi apa-apa dari teman-teman dia dan gue. Dia ngerasa kalo gue udah terlalu overprotective seperti mau mengekang dia yang pengen bebas. Dia ngerasa ga senang kalo gue nanya detail tentang kegiatan dia hari itu. Dia ga senang kalo gue ga smsan ma dia seharian. Sebagian itu sih. Tapi apa benar itu alasan kehilangan kenyamanan dia bareng gue?? Dan kenapa gue masih belum menemukan gue kehilangan sebab buat lepasin dia??? Kenapa gue masih berharap suatu hari nanti gue pengen dia jadi istri gue??
Jangan sekali-kali mengatakan mencari harta yang halal itu sangat sulit
Gue nyoba untuk mengambil hikmah dari peristiwa ini. Sejujurnya gue takut gue ga bakalan dapet jodoh. Padahal dalam kitabnya Shahidul Khatir, Ibnul Qayyim juga berpesan “Jangan sekali-kali mengatakan mencari harta yang halal itu sangat sulit”. Gue jadi ingat bahwa ada qadha dan qadhar yang mesti gue yakini sebagai seorang muslim. Gue belum tahu yang gue alamin sekarang ini termasuk kemana. Rejeki, jodoh, hidup, dan mati telah ditentukan oleh Allah. Hidup dan mati menjadi sebuah takdir yang tidak bisa diubah. Namun rejeki dan jodoh adalah takdir yang dapat diubah jika kita bekerja keras untuk itu. Rejeki dalam hal ini harta tidak akan serta merta kita dapat jika hanya duduk-duduk dalam majlis pengajian. Setelah beribadah atau shalat kita diwajibkan untuk bertebaran dimuka bumi untuk mencari rezki. Jodoh pun begitu menurut gue. Jodoh harus diupayakan dalam mencarinya. Tidak mungkin dia akan datang saja ke rumah atau kehadapan lo. Namun gue berpikir lain sekarang apa proses gue salah?? Gue udah tau proses yang diperbolehkan itu ta’aruf. Di beberapa orang taaruf kemudian mewujud kepada hubungan pacaran. Ada yang bahkan membuat buku tentang hal tersebut. Gue kemudian mengambil pendapat ini. Menjalani sebuah proses pacaran untuk memastikan gue punya jodoh. Tapi dalam pacaran sebagaimana telah ditulis oleh para ustadz banyak mudharatnya. Dalam berpacaran untuk menunjukkan lo sayang ma pasangan lo, mata pasangan lo harus lo tatap, lo harus membuat dia melayang dengan rayuan gombal lo, lo mesti membelai dengan sayang, dan kata teman gue terkadang lo mesti ngasih ciuman. Hal terakhir tersebut harus lepas dari dorongan nafsu.
Gue yang ngerasain menjadi takut sendiri, karena gue pengen melakukan hal-hal yang gue sebutin tersebut menjadi sebuah kenikmatan dalam beribadah nantinya. Dan tentang tanpa nafsu. Naudzubillah gue belum mampu memisahkan mana yang nafsu dan mana yang sayang tanpa nafsu. Karena yang gue tahu nafsu itu built in dalam sebuah hubungan cinta kasih. Ia sebagai sebuah perantara untuk membuat hal yang dasarnya tidak mau lo lakuin menjadi lo lakuin.
Ah sudah berceloteh panjang lebar mungkin lo protes tentang apa hubungannya antara harta dan jodoh. Seperti yang telah gue bilang dari awal bahwa gue takut gak dapat jodoh, dan gue tahu pacaran tidak ada dalilnya di nash. Mudharatnya bagi lo ma pasangan lo juga banyak, gue udah tau itu dan gue ignore. Jika lo yakin harta yang halal itu ada dan insyaAllah dimudahkan Allah dalam mendapatkannya maka jodoh pun seperti itu. Proses yang lo udah tau bakal banyak mudharatnya jangan lo jadiin sebuah dasar untuk mengubah hukum yang lo tetapin sendiri. Ini pelajaran bagi gue dan mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang seperti gue.
Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *