About these ads

Brand “Bung” pada Hatta Rajasa

Setelah debat calon wakil presiden yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum tempo hari ada kisah yang tertinggal dan kemudian menjadi perdebatan. Kisah tersebut adalah yel-yel para pendukung Hatta Rajasa dalam koalisi merah putih. Para pendukung meneriakkan yel-yel Bung Hatta kepada Hatta Rajasa.

Bung Hatta adalah sebuah panggilan yang biasa dilekatkan dengan tokoh proklamator Indonesia Mohammad Hatta. Tokoh nasional yang menjadi pendamping Soekarno ketika memproklamirkan kemerdekaan Indonesia ini menjadi ikon yang dilekatkan kepada calon wakil presiden nomor urut satu Hatta Rajasa

Ada beberapa persamaan dari Hatta Rajasa dan Mohammad Hatta menurut beberapa tulisan yang saya temui di Internet. Salah satu persamaan antara calon wakil presiden nomor urut satu ini dengan tokoh nasional yang dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia ini adalah latar belakang pendidikannya. Bung Hatta dan Hatta Rajasa sama-sama mempunyai latar belakang pendidikan di bidang ekonomi dengan jabatan terakhir adalah sebagai Menko Perekonomian.

Panggilan pendukung koalisi merah putih dan Hatta Rajasa mendapat tanggapan langsung dari anak proklamator Indonesia Halida Hatta. Ia menganggap antara Bung Hatta dan Hatta Rajasa harus dibedakan menurut zamannya. Jika dulu Bung Hatta dikenal di zaman pergerakan kemerdekaan Indonesia maka Hatta Rajasa harus dikenal menurut zaman sekarang. Halida menyarankan panggilan untuk Hatta Rajasa sebaiknya Abang Hatta atau Pak Hatta.
Bung Hatta Rajasa
kompas.com

Dalam kampanye politik menjelang pemilihan umum presiden seperti saat ini branding seorang tokoh sangat menentukan dalam proses pemenangan tokoh tersebut. Calon presiden Prabowo Subiakto dan Calon wakil presiden Hatta Rajasa membuat brand bahwa mereka adalah penerus dari Bapak Bangsa Indonesia Soekarno dan Mohammad Hatta. Kedua tokoh ini dimasa lalu adalah simbol dari persatuan dan keberanian untuk menentukan nasib sendiri bangsa Indonesia melawan penjajahan Belanda dan Jepang, simbol yang melekat kepada kedua proklamator Indonesia ini  kemudian dipakai oleh Capres dan Cawapres nomor urut satu. 

Menurut saya aneh jika pemakaian panggilan “Bung” untuk Hatta Rajasa kemudian dipermasalahkan oleh orang banyak. Panggilan “Bung” adalah panggilan hormat yang juga mengisyaratkan kedekatan antara yang memanggil dan yang dipanggil walaupun antara keduanya masih belum kenal baik. Permasalahan memakai kata “Bung” ini muncul karena zaman sekarang panggilan tersebut jarang digunakan oleh masyarakat. Terjadi sebuah penyempitan arti dalam bahasa yang dipakai sehingga panggilan “Bung” kemudian hanya dinisbahkan kepada Mohammad Hatta. Dalam konteks politik yaitu pemasaran calon wakil presiden brand Hatta Rajasa akan menjadi kuat dibandingkan capres dan cawapres nomor urut dua. Apalagi slogan atau tagline kampanye pasangan nomor urut satu ini adalah #SelamatkanIndonesia

Di tengah persaingan untuk mendapatkan simpati masyarakat Indonesia dalam pemilu calon presiden dan calon wakil presiden Indonesia tahun 2014 branding capres dan cawapres nomor urut satu tentu tidak menguntungkan kompetitornya. Calon presiden dan Calon wakil presiden dari koalisi PDI-Perjuangan, Joko Widodo dan Jusuf Kalla juga mengemas dirinya untuk menjadi dekat dengan proklamator RI dalam memenangkan kompetisi politik tahun 2014 saat ini.

Perbedaan kemasan antara kedua capres dan cawapres, nomor urut satu dan nomor urut dua, dalam mengidentikkan diri masing-masing adalah reinkarnasi proklamator Indonesia adalah pada ideologi yang mereka bawa. Pasangan nomor urut satu merasa bahwa Indonesia saat ini dijajah bukan secara fisik dan militer namun secara ekonomi. Penjajahan yang kemudian mengakibatkan masyarakat Indonesia tidak bangkit menjadi bangsa yang bermartabat. Sedangkan pasangan nomor urut dua tidak terlihat sama sekali mengetahui isu nasional seperti yang disampaikan oleh pasangan capres dan cawapres nomor urut satu. Pasangan nomor dua menitik beratkan pada pencapaian yang telah mereka klaim berhasil saat mereka menjabat sebuah jabatan publik. Jokowi dengan KJS dan KJP, monorail, penanganan banjir dan kemacetan sedangkan Jusuf Kalla dengan capaian ekonomi saat masih bersama dengan presiden Indonesia saat ini Susilo Bambang Yudhoyono.

Gita Wiryawan pernah menyebutkan dalam sebuah wawancara bahwa branding dalam praktek pemasaran calon pemimpin Indonesia sangat berpengaruh kepada publik. Jika brand tidak kuat maka masyarakat/pembeli akan mudah untuk berpaling dari sebuah produk. Brand dalam konteks politik berarti bagaimana seseorang membentuk gambaran dirinya di dalam benak masyarakat. Dalam membentuk brand ini pun berbagai macam caranya ada yang memang terlihat dari fisiknya dan ada yang dibantu oleh pencitraan. Bagaimana brand sampai diterima oleh masyarakat ada triknya sendiri dan juga kecenderungan pasar untuk menerimanya. Sebagaimana seorang teman pernah membuat status dalam akun sosialnya, jika dilihat kecenderungan kandidat capres dan cawapres dalam mengemas diri mereka dengan mengasosiasikan kepada Bapak Proklamator bangsa ini maka patutlah kita bersyukur bahwa kita bukanlah bangsa yang melupakan kiprah nenek moyangnya dalam memerdekakan dan membentuk Republik Indonesia ini.
About these ads

Leave a Reply

%d bloggers like this: