Uncategorized

Biografi Steve Jobs, Si Pendiri Apple

Steve Jobs

Biografi Steve Jobs, Pendiri Apple

Para fan-boy or fan-girl, sebutan untuk pemakai produk Apple, tentu tidak akan melupakan jasa Steve Jobs. Dari buah pikiran dan kerja kerasnya, kini kita mengenal iPhone, Mac, iPad, dan produk Apple lainnya. Kehidupan Steve Jobs sendiri bahkan telah diangkat ke layar lebar setelah kematiannya. Steve Jobs meninggalkan Apple dan dunia ini setelah penyakit kanker menggerogoti kesehatannya.

White Isaacson, si penulis buku biografi Steve Jobs, adalah seorang CEO di Alpen Institut. Sebelumnya ia adalah petinggi di CNN dan Redaktur Operasional majalah TIME. Saat masih bekerja di dua media internasional tersebut Steve Jobs sering menemui Mr. Isaacson untuk mendapatkan perhatian dua media berita internasional tersebut dalam peluncuran produk Apple terbaru. Sebelum kematiannya, Steve Jobs meminta White Isaacson untuk menulis biografi kehidupannya. Permintaan ini ditolak oleh White Isaacson dan menyarankan agar untuk biografi sebaiknya dipikirkan ulang, alasan penolakan White Isaacson sederhana Steve Jobs masih terlalu “muda” untuk dituliskan perihal kehidupannya. Setelah mendapat kabar bahwa Steve Jobs melakukan operasi untuk kedua kalinya barulah White Isaacson mengabulkan permintaan pendiri Apple ini.

Di periode kehidupannya yang tergolong singkat, Steve Jobs telah merevolusi 7 bidang Industri yaitu Personal Computer, Film Animasi, Musik, telepon, Tablet, penerbitan digital, dan toko retail. Semua orang kini mengenal bahwa dengan perangkat Apple (apakah itu iPhone, iPad, iPod, atau Mac) seseorang bisa mendapatkan semua yang dibutuhkan dalam sebuah toko, iTunes.

Kesalahan Yang Berulang

Ada sebagian kecil dari kita yang mengetahui kenyataan pahit bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari orang tua yang telah membesarkannya dari kecil. Penyikapan mereka pun berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Ada yang semakin jatuh menjadi penyakit masyarakat, namun ada juga yang menjulang dan menjadi inspirasi bagi masyarakat banyak. Salah satunya adalah pendiri Apple, Steve Jobs.

Dari kecil Steve Jobs telah mengetahui bahwa pasangan suami istri Paul Reinhold Jobs dan Clara Hagopian bukanlah orang tua kandungnya. Mereka mengadopsi Steve Jobs kecil karena setelah menikah selama sembilan tahun, pasangan ini belum juga dikaruniai keturunan. Ayah kandung Steve Jobs diketahui bernama Abdul Fattah Jandali dan Ibu kandungnya bernama Joanne Schieble. Ini adalah kenyataan yang cukup mengagetkan bagi saya bahwa Steve Jobs mempunyai darah Arab dalam dirinya, tidak hanya arab tapi orang tua Steve Jobs adalah seorang muslim Suriah. Abdul Fattah Jandali dikenal oleh Ibu kandung Steve, Joanne Schieble, dengan nama John. Mereka berkenalan ketika Abdul Fattah melanjutkan kuliah di Amerika yaitu di University of Winsconsin. Karena perbedaan agama antara keduanya Abdul Fattah dan Joanne Schieble tidak menikah. Ayah Joanne, Arthur Schieble, adalah seorang penganut katolik yang taat dan ia tidak menyetujui hubungan antara keduanya. Arthur bahkan mengancam akan mencoret Joanne dari daftar ahli waris jika ia tetap bersikeras menikah dengan Abdul Fattah. (Ternyata bukan di Indonesia saja pernikahan beda agama ditentang oleh Masyarakat, di Amerika Serikat juga).

Tipikal anak muda sepertinya, semakin dilarang maka semakin dilakukan. Ibu kandung Steve Jobs, Joanne, tetap berhubungan dengan Abdul Fattah dan bahkan sempat ke Suriah yaitu kampung halaman ayah kandung Steve Jobs, Abdul Fattah. Pulang dari Suriah, Joanne diketahui mengandung namun ia tidak memutuskan untuk menggugurkan si bayi Steve. (Sungguh berbeda dengan ibu-ibu atau orang tua sekarang yang membuang bayinya karena faktor-faktor sosial dan ekonomi) Karena untuk menikah tidak diizinkan oleh ayahnya, Joanne akhirnya melahirkan Steve Jobs kecil dengan bantuan seorang dokter yang membantu wanita yang tidak menikah menampung dan melahirkan bayinya. Dokter itupun membantu Joanne agar si bayi Steve Jobs dapat diadopsi oleh keluarga yang mampu. Syarat yang diberikan oleh Joanne kepada keluarga yang akan mengadopsi si bayi Steve Jobs adalah latar belakang pendidikan orang tuanya minimal harus Sarjana.

Keinginan Ibu kandung Steve Jobs ternyata tidak terwujud. Pasangan yang mengambil si mungil Steve Jobs ternyata hanya tamatan sekolah umum dan mempunyai pekerjaan sebagai “Repo Man”, picking the locks of cars whose owners hadn’t paid their loans and repossessing them (mengambil paksa mobil yang cicilannya macet). Di saat sekarang Repo Man mungkin lebih tepatnya Debt Collector pada saat ini. Namun Paul mempunyai kegemaran mengotak-atik mesin. Dalam waktu luangnya Paul Jobs akan membeli mobil bekas, melakukan restorasi dan kemudian menjual kembali mobil tersebut. Dengan keahliannya tersebut Paul Jobs memenuhi janjinya kepada Joanne agar Steve Jobs berkesempatan untuk kuliah. Tapi peran Paul R Jobs bukan hanya dalam segi finansial kepada Walter Isaacson CEO Apple ini mengaku bahwa dari Paul Jobs ia mendapatkan kegemaran kepada bidang elektronik.

“There’s some notion that because I was abandoned, I worked very hard so I could do well and make my parents wish they had me back, or some such nonsense, but that’s
ridiculous,” he insisted. “Knowing I was adopted may have made me feel more independent, but I have never felt abandoned. I’ve always felt special. My parents made me feel special.” (“Ada pendapat yang mengatakan bahwa karena saya anak adopsi saya kemudian bekerja begitu keras agar setelah saya makmur orang tua [kandung] saya menyesal telah meninggalkan saya atau omongon semacam itu, tapi pendapat itu sangat konyol,” Ia menegaskan. Mengetahui bahwa saya diadopsi membuat saya merasa lebih mandiri tetapi saya tidak pernah merasa dibuang.” (Steve Jobs by Walter Isaacson p:26)

Steve Jobs pun melakukan kesalahan yang sama dengan ayah biologisnya, Abdul Fattah.

Chrisann Brennan, the mother of that child, said that being put up for adoption left Jobs “full of broken glass,” and it helps to explain some of his behavior. “He who is abandoned is an abandoner,” she said.

Advertisements

Leave a Reply