Berwisatalah ke Turki

By: Nandang Burhanudin
****

Jika ada negara tujuan wisata yang selalu dirindui untuk dikunjungi, Turki berada di urutan pertama. Di Turki, kita akan menemukan goresan kenang yang tak akan ditemukan di negara-negara lain.

Aspek keamanan, serasa di rumah sendiri. Hampir sulit ditemukan gerombolan geng atau makhluk menganggur di Turki. Cobalah jalan-jalan ke tempat paling dalam sekalipun. Semisal kereta bawah laut. Kita tidak menemukan sosok preman yang sangat mudah ditemukan di bandara Soehat di Jakarta.

Jangan lupa, cobalah seluruh moda transportasi darat di Turki. Kaum wanita dan Manula mendapat porsi penghormatan tersendiri di public transport. Wanita atau pria muda yang tampilannya “glamor” ataupun “urakan”, akan mudah memberikan tempat duduk kepada wanita atau manula.

Coba nikmati hidangan Turki. Lupakan nasi ala Indonesia. Kita akan menemukan 100 % makanan halal di seluruh pelosok Turki. Bukan hanya halal. Seluruh RM atau restoran diawasi khusus oleh Dinas Kesehatan setempat. Tentu dengan syarat dan peraturan superketa. Jangan takut keracunan, disuguhi makanan basi, atau mendapatkan harga “tembak”.

Jika wisata bersama istri atau anak perempuan. Saya tidak merasakan sedikitpun kekhawatiran. Kaum wanita bebas mengenakan pakaian jenis apapun. Termasuk bercadar, jika mau. Namun tentu, wajah wanita Indonesia berada di posisi biasa dibanding wanita-wanita Turki. He he …

Lebih penting dari itu. Ketika jalan-jalan ke Turki. Kita membelanjakan uang untuk muslim, oleh muslim, dari muslim. Membangkitkan ekonomi Turki. Satu-satunya negara yang memberi tempat terhormat untuk 2.000.000 (dua juta) pengungsi Syiria. Hanya Turki pula yang siaga membantu Muslim di seluruh dunia.

Jangan lupa. Ketika kita memasuki antrian imigrasi Turki. Paspor Indonesia termasuk yang dihormati. Imigrasi tidak menaruh curiga atau menanyakan pertanyaan yang cenderung menohok dan menghinakan. Hal yang tidak akan kita temukan di negara-negara lain.

Jadi sekali lagi. Jika ada rezeki. Mari agendakan untuk berwisata ke Turki. Apalagi jika saat berwisata kita dipertemukan dengan saudagar-saudagar, grup-grup kebajikan, bahkan sosok-sosok agamis yang dinamis. Serasa kita menjadi kaum Muhajirin yang dimuliakan kaum Anshar. Yakin itu!

About these ads

Leave a Reply