About these ads

Berpolitik Itu Harus dengan Pilihan Sadar

Politik Itu Rakyat
Mengapa kita, rakyat kecil yang jauh dari kursi kekuasaan, harus berpolitik? Atau dalam konteks pemilihan presiden Republik Indonesia 2014-2019, apa gunanya kita ikut pemilu? Apa yang akan kita dapatkan kalau kita ikut dalam hiruk pikuk politik? 
Pertanyaan-pertanyaan ini sering muncul dalam lini masa yang saya artikan mereka bosan atau mungkin muak untuk bersentuhan dengan politik pragtis seperti Pemilu Legislatif dan Pemilu Eksekutif. Apa yang membuat mereka bosan/muak? Simpel saja, perilaku pemimpin yang berada di lembaga politik seringkali diberitakan memanfaatkan konstituennya hanya untuk sebuah kursi kekuasaan dan kemudian melupakan mereka hingga akhir periode jabatan mereka di kursi kekuasaan tersebut. Tidak sepenuhnya salah para anggota legislatif atau para pejabat eksekutif menurut saya karena lembaga penyiaran atau pers lebih memilih berita negatif dengan oplah besar daripada berita positif yang tidak produktif. Hasilnya yang kita lihat hanya anggota dewan A ditangkap karena polisi, Dirjen B ditangkap karena dugaan korupsi, dan berita-berita lainnya.
Lembaga pers yang benar-benar independen dan menjadi watchdog pemerintah amat sulit ditemui saat ini. Media massa mainstream baik yang konvensional maupun online tidak “bebas” dalam menurunkan sebuah berita. Arah kebijakan pemilik perusahaan ataupun pimpinan redaksi menentukan seberapa “bebas” reporter atau jurnalis mereka untuk menurunkan berita yang informatif, adil dan berimbang. 
Hingar bingar calon pemimpin Indonesia untuk lima tahun mendatang tidak hanya tentang siapa yang akan mendapat kekuasaan eksekutif tapi saya melihat bahwa pertarungan kedua calon pemimpin Indonesia sekarang justru seperti beradu idealisme. Pada debat dengan tema perekonomian dan kesejahteraan sosial yang lalu dua kandidat presiden menunjukkan konsep mereka yang berbeda, capres nomor urut satu dengan ekonomi kerakyatan dan capres nomor urut dua dengan ekonomi berdikari. Saya tidak akan kembali membahas konsep kedua calon presiden tersebut pada tulisan kali ini. 
Pada tulisan kali ini saya ingin menyampaikan kepada teman-teman yang masih belum menentukan pilihan untuk kemudian lebih bijak dalam memilih. Seorang teman selalu berprinsip pemimpinmu pilihanmu. Artinya dalam memilih pemimpin yang akan menjadi nahkoda NKRI selama lima tahun kedepan sebuah proses membaca, menganalisa dan memahami harus menjadi bagian dalam sebuah keputusan dan ketika pemimpin tersebut nantinya di pemerintahan kita harus siap dengan komandonya. 
Memilah pemimpin dengan derasnya informasi saat ini juga harus hati-hati. Informasi mengenai kedua calon presiden dan wakilnya tidak susah untuk dicari karena diberbagai tempat apakah itu media sosial ataupun dijalan raya informasi mengenai pasangan kandidat tersebut telah tersedia. Disini sebagai pemilih pemula perlu untuk menambah pengetahuannya mengenai proses politik seperti pemilihan umum. Terkait dengan proses kampanye pasangan kandidat capres dan cawapres saat ini Gita Wiryawan, Menteri Perdagangan Kabinet Indonesia Bersatu II,  pernah menyebutkan bahwa “jualan” para kandidat pasangan capres dan cawapres adalah gagasan tentang Indonesia untuk lima tahun kedepan. Gagasan ini kemudian dikemas dengan berbagai isu sosial, ekonomi, dan budaya sehingga gagasan tersebut sampai kepada setiap lapisan masyarakat di Indonesia.    
Saya pribadi telah memutuskan memilih salah satu calon berdasarkan banjir informasi di media sosial dan untuk menetapkan pilihan pada saat sekarang ini saya akui prosesnya cukup panjang. Rekan-rekan bisa melihat kecendrungan saya untuk mendukung salah satu capres dan saya menghormati keputusan yang berbeda dari saya. Hanya pesan saya jangan menetapkan pilihan berdasarkan banyaknya pendukung tapi tetapkan pilihan melalui proses membaca, menganalisa, dan menetapkan. 
About these ads

Leave a Reply

%d bloggers like this: