Uncategorized

Bergerak ke depan

Kini aku mengerti kenapa bunda memintaku untuk mempertimbangkan kembali keinginanku untuk menikah. Aku berharap tidak seperti ayah….

Matahari telah beranjak tinggi saat aku masih terlelap dalam kedamaian mimpi. Sinarnya yang menyemangati bumi untuk hidup dihambat oleh dinding kamarku yang lembab dan kelam. Udara dingin kaki merapi dan fakta terisolirnya kamarku dari sinar mentari merupakan kondisi yang amat sesuai untuk setiap diri yang letih ini tetap bermanja dalam pelukan kasih selimutnya. Secercah sinar yang berhasil melewati blokade kamar yang lembab itu tak mampu untuk membangkitkan kesadaranku bahwa makhluk telah berlomba mencari rezeki.

Aku heran kenapa tidak ada hantaman yang biasa ku terima ketika subuh telah datang. Biasanya bunda yang selalu membangunkan aku kalau diri ini terlalu terlena dalam pelukan hangat selimut. Entah aku sadar ato tidak tapi aku ingat bunda masuk ke kamar dan menanyakan letak buku tabunganku. Apakah itu mimpi atau kenyataan?

Saat aku akhirnya mendapatkan kesadaran penuh untuk bangkit dari tidur tubuhku terasa berat. Selimut hangat yang ringan seakan berubah menjadi himpitan berton-ton batu diatasku. Begitu pun kasur dan tubuhku. mereka seakan telah menghasilkan lem yang kasat mata dan enggan untuk melepas satu sama lain. Dengan motivasi kuat aku berhasil untuk menghindari cobaan pagi hari ini.

Keadaan rumah setelah aku menguasai kesadaran terasa sunyi. Telingaku tidak menangkap bunyi fat-fet-fot dari rok abu-abu saudariku yang selalu mondar-mandir dalam ketergesaan menyiapkan perlengkapan sekolahnya. Aku sudah betul-betul kesiangan, pikirku.

Aku bangun sekitar pukul delapan. Dengan langkah agak sempoyongan aku ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Dinginnya genangan air di kamar mandi membuat aku kembali berpikir melanjutkan tidur. Namun, setelah membasuh wajah dan tubuh dengan kesegaran air pegunungan niat itu lenyap entah kemana. Setelah menggosok gigi dan nafas telah terasa segar aku shalat subuh. Oh Tuhan, maafkan lah hamba-Mu yang pemalas ini ucapku lirih setelah subuh yang kesiangan.

Setelah itu aku ke ruang tengah dan ku dapati bunda tengah duduk terdiam. Ayah telah siap untuk pergi entah kemana dalam mencari nafkah. Pakaiannya yang rapi dan sepatu yang mengkilap telah menjadi tanda ia siap menantang hari untuk mencari nafkah. Tanpa bicara aku keluar rumah membawa sedikit uang untuk membeli “alat kosmetik”-ku yang telah berkurang di warung terdekat. Sesampainya dirumah ayah bertanya “Mau pergi bareng, nda?”

“Tidak, Andra masuk siang nanti,” jawabku.

Setelah mendengar jawabanku ayah langsung menstarter mobil dan menginjak gas mobil taft4by4-nya keluar dari komplek perumahan kami menuju medan laga pencarian nafkah.

Di rumah aku melihat mata bunda berkaca-kaca. Sebenarnya sudah menjadi pemandangan yang biasa bagiku melihat mata beliau berkaca, atau menangis. Biasanya masalah yang dihadapi itu sama. Hutang.

Bunda menutupi wajahnya yang sendu dengan jilbab mini warna krem. Jilbab itu telah nampak lusuh. Aku ingin menghadiahkannya jilbab baru bulan lalu ketika aku mendapatkan gaji kedua. Namun keinginan aku harus ditunda karena ayah juga membutuhkan uang untuk menutupi hutang beliau. Dan si peminjam telah mendesaknya. Mengingat kejadian itu aku jadi sedih campur kesal. Aku sadar tak seharusnya aku marah, apalah arti gajiku yang berjumlah 750 ribu dibandingkan dengan dana yang selama ini telah diberikannya padaku hingga aku dapat menyelesaikan gelar sarjana Sastra Inggris di salah satu Universitas di Padang.

“untuk apa buku tabungan tadi nda?” tanyaku.

“untuk minjam uang sama tek yong” jawabnya setelah ia menyeka air mata yang mungkin mulai berjatuhan. Tek Yong adalah panggilan mamak yang kini telah menjadi seorang pemimpin sebuah kesatuan polisi di Riau sana.

“untuk apa?” lanjutku.

Kemudian seakan aku telah memutar kran air, mata beliau kembali berkaca-kaca. “untuk uang sekolah adikmu,vani. Ia belum bayar uang sekolah padahal ujian akhir semakin dekat.”

“emang sudah nunggak berapa bulan sih?”

“ia harus membayar uang sekolah hingga empat bulan ke depan”.

“berapa uang sekolahnya sebulan?”

“delapan puluh lima ribu”

Kemudian aku mencoba untuk menjumlahkan tunggakan adikku tersebut. Dalam hati aku bertanya ujian bulan ini tapi harus membayar untuk empat bulan kedepan. Apa gunanya? Lalu aku melanjutkan, “340 ribu. Rasanya gak terlalu banyak. Insya Allah dengan gaji andra dua bulan besok akan bisa terbayarkan.”

***
Apasih tugas dari seorang ayah? Yang aku tahu tugas seorang ayah adalah sebagai kepala keluarga, penyedia nafkah bagi anggota keluarganya, selain itu ia harus membimbing keluarganya. namun hari ini aku tidak menemukan hal itu dalam sosok ayahku. Paling tidak dalam hal memberikan nafkah bagi keluarganya.

Ayahku adalah seorang kontraktor. Pekerjaannya kebanyakan bergantung pada proyek pembangunan pemerintah. Jalan, irigasi, gedung adalah bidang spesifikasi beliau. Orang banyak berprasangka bahwa menjadi seorang kontraktor berarti hidup dengan nyaman. Bayangkan aja sekali dapat kontrak nilainya saja ratusan juta bahkan hampir setengah milyar. Tapi banyak orang yang tidak paham dengan kemana saja uang setengah milyar itu habisnya. Pertama tentu saja pada bahan bangunan dan upah buruh serta sewa alat berat. Namun alokasi dana untuk kebutuhan pertama ini tidak banyak. Berapa nominalnya aku tidak tahu persis yang pasti tidak sebanyak uang pelicin untuk membuat sebuah proyek itu berhasil dikerjakan perusahaan ayah.

Amat dusta kalau aku mengatakan kehidupan kami amat payah. Sekarang aku jadi berpikir apakah dalam daging ini telah tertananm uang haram. Amat sangat menyedihkan. Padahal aku adalah seorang yang dikategorikan ikhwah. Manusia yang hampir disejajarkan dengan malaikat dalam kebaikan yang ada dalam dirinya.

Dalam mengerjakan sebuah proyek pemerintah seorang kontraktor harus mengerjakan pekerjaan tersebut dengan dana sendiri. Bisakah anda membayangkan darimana uang yang hampir ratusan juta atau puluhan juta tersebut didapat? Dari hutang! Biasanya bahan bangunan yang banyak menghabiskan uang awal. Buruh, mereka dapat bertahan semingu-dua minggu dan keterlaluannya sempat 2 bulan gaji mereka belum dibayarkan. Untuk membayar bahan bangunan dan buruh tersebut ayah terpaksa harus berhutang. Dan biasanya ia meminta tolong pada bunda untuk mencarikan pinjaman.

Advertisements

Leave a Reply