About these ads

Benci dan Cinta Kita

By: Nandang Burhanudin
****

(1)
Ada yang hobi berzina. Hanya karena zina-nya dinamai “Nikah Mut’ah”. Jelas haramnya.

(2)
Ada yang hobi berjudi. Hanya karena judinya dipoles “adu tangkas.” Jelas haramnya.

(3)
Ada yang hobi minum khamr. Hanya karena khamr berubah nama keren, zero alkohol. Jelas haramnya.

(4)
Ada yang hobi makan babi. Hanya karena babinya diformat ulang dengan wow, ada di rokok, bumbu masak, hingga obat-obatan. Jelas haramnya. 

(5)
Sebaliknya. Ada yang anti kepemimpinan jujur, adil, berkarakter, sumbangsih terhadap Islam dan syariatnya besar. Hanya karena ia berkuasa via DEMOKRASI.

(6)
Demokrasi dipahami membuat hukum yang mengganti hukum Allah. Padahal demokrasi juga berarti keikutsertaan, partisipasi umat untuk berkuasa, berkarya, dan menebar manfaat.

(7)
Sebaliknya. Ada yang anti produk-produk berkualitas. Produk yang bisa jadi pengganti produk ZIonis, Salibis. Hanya karena produk itu dijual dengan model MLM.

(8)
Padahal MLM banyak jenis dan ragamnya. Sudah dijelaskan para pakar, mana yang mengandung ghoror, gambling, atau merugikan orang lain.

(9)
MLM dalam arti mengurangi bujet iklan yang fantastis. Dijual via silaturahmi berdasarkan hubungan emosional dan kebermanfaatan.

(10)
Ujungnya, kekuasaan dipegang model Salibis, Zionis, Islamphobia. Giliran dipegang umat Islam lalu salah. Mengapa Islam yang dihukum?

(11)
Ujungnya, ekonomi dan semua produk dikangkangi China Budha, Barat Kristen, Jepang Kongfuchu, Arab Jahiliyah, Persia Syiah. Mengapa umat Islam dihambat produktif?

(12)
Jadi jika ada elemen umat yang tertangkap korupsi. Sudah bagus dihukum penjara biar jera. Tapi tidak lantas kafir lebih baik bukan?

(13)
Jadi jika ada elemen umat yang berbisnis lalu membuat produk yang masih dijual via MLM. Sudah bagus dinasihati dan diarahkan agar sesuai syariah. Bukan harus dijauhi bukan?

(14)
Cinta dan benci kita kembalikan pada Syariat dan Maqashidnya. Syariat tanpa Maqashid, hanya indah di muktamar. Maqashid tanpa Syariah, ibarat penyakit gula. Manis tapi membahayakan.

(15)
Jangan benci dan cinta berdasar emosi. Apalagi sentimen karena orang selain kita yang lebih dahulu. Bukankah Allah menyuruh kita:
(وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ)

(16)
Dan katakanlah: “Beramallah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat amalan kalian, dan kalian akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan”.

(17)
Jangan sampai kita sibuk mencela,  tapi hampa karya. Malulah pada jiwa yang bergaya ahli hisab atas amal orang lain, lalu dirinya tak memiliki amal nyata yang patut dibawa.

About these ads

Leave a Reply

%d bloggers like this: