Benarkah Dakwah Rasul Hanya OMDO?

By: Nandang Burhanudin
*****
(1)
Umat harus berduka saat ada elemen yang mengaku muslim lalu menyebut dakwah Rasul adalah OMDO. Lucunya. Berani menyamakan thoriqoh dirinya dan organisasinya paling sesuai dengan Rasul.

(2)
Entah apa motivasinya. Apa karena tidak berhasil mengikuti fase zamani, dimana Rasul perlu 13 tahun mendirikan negara. Sedang ia sudah 5 x 13 tahun gagal dan gagal.

(3)
Lupa. Dakwah Rasul memang dideklarasikan saat beliau umur 40 tahun. Tapi tindak-tanduk beliau adalah dakwah sejak lahir bukan?

(4)
Bahkan beliau terpilih karena dilahirkan dari rahim ibu dan sosok ayah terpilih. Sementara kita? Ehm.

(5)
Mari sejenak kita renungi perjalanan sang tauladan, sebelum memimpin perang dan menjadi kepala negara.

(6)
Rasulullah SAW., memiliki kepribadian yang terpuji. Hal itu tampak sejak masih kanak-kanak sampai dewasa sebelum diangkat sebagai Rasul Allah SWT.

(7)
Semasa kecil beliau terpelihara dari hal-hal yang tercela. Beliau mendapatkan kemampuan berbahasa Arab yang baik. Beliau memiliki sifat sidik, amanah, fathonah, sifat-sifat yang telah dimilikinya sebelum diutus menjadi Rasul.

(8)
Maka layaklah bila kemudian masyarakat memberi gelar kepada beliau “Al-Amin” karena kejujuran dan kemuliaan akhlaknya. Beliau juga selalu berkata dengan halus dan bersikap lemah lembut, serta orang yang rajin dan suka bekerja keras.

(9)
Beliaupun sering berdo’a memohon kepada Allah SWT. agar senantiasa diberikan petunjuk dan terpelihara akhlaknya dari perbuatan tercela (Shalabi, 1992: 352).

(10)
Al-Hasan bin Ali k.w. menceritakan bahwa: Husein (saudaranya) berkata: “Aku bertanya kepada ayahku (Ali bin Abi Thalib) tentang perilaku Nabi SAW. pada shahabat-shahabatnya”.

(11)
Ayahku berkata: “Rasulullah SAW. adalah orang yang bermuka manis, lembut budi pekertinya, tawadhu’ tidak bengis, tiada kasar, tiada bersuara keras, tiada berlaku keji, tidak suka mencela dan juga tiada kikir.

(12)
Beliau membiarkan (tidak mencela) apa yang tidak disenanginya. Beliau tidak menjadikan orang yang mengharapkan (pertolongannya) menjadi putus asa, tiada pula menolak untuk itu.

(13)

Beliau tinggalkan dirinya dari tiga perkara, yaitu: dari perbantahan, menyombongkan diri dan dari sesuatu yang tidak selayaknya.
Beliau tinggalkan orang lain dari tiga perkara, yaitu; beliau tidak mencela seseorang, beliau tidak membuat malu orang dan beliau tidak mencari keaiban orang. Beliau tidak bicara melainkan pada sesuatu yang diharapkan ada baiknya. (Tirmidzi, 1993: 279).

(14)
Beliau adalah seorang yang berjiwa besar, melaksanakan sesuatu yang agung,  bahkan beliau membangun kemuliannya melalui kejujurannya dan ketetapannya dalam konsepnya yaitu seorang yang bersifat mulia dengan akhlak yang agung, interaksinya yang jujur baik dengan kawan ataupun musuh, senantiasa bersifat tawadhu (merendahkan diri), ramah dan tidak mempersulit sesuatu,  jauh dari segala bentuk keterpaksaan dan kepura-puraan.

(15)
Bandingkan dengan elemen yang suka mencaci maki. Mengkafirkan sesama muslim. Menuduh Mursi, Erdogan budak Yahudi, antek AS. Adakah kesamaan?

(16)
Nabi terjaga dari pelaku penebar fitnah. Lantas wajarkah cara fitnah dan namimah dengan menyebut ustadz yang berjuang via demokrasi dijuluki anjing anjing demoKERAsi?

(17)
Jika Rasul yang terpercaya sebelumnya, disebut majnun dan tukang sihir karena membenci risalah Allah yang beliau dakwahkan. Apakah yang tak pernah teruji amanah layak mengemban risalah?

(18)
Sekedar merenung. Karena betapa elemen yang belagu jadi ahli hisab hobinya menggigit dan menghinakan perjuangan elemen lain. Namun baru saja dicubit…wujud aslinya nampak dan licin berkelit.

About these ads

Leave a Reply